EtIndonesia. Banyak orang berkata, : “Uang adalah segalanya.” , “Dengan uang, bahkan setan pun bisa disuruh bekerja.”
Tak heran begitu banyak orang memeras tenaga, mengorbankan waktu, bahkan moral — demi mengejar uang, karena percaya: “Selama ada uang — semua bisa dibeli, semua bisa diatasi.”
Benarkah begitu?
Seorang wanita membawa emas dan permata sebagai mas kawin — apakah dengan itu dia pasti mendapat suami yang baik? Belum tentu. Faktanya, banyak yang menikah dengan pesta mewah — justru masuk ke neraka rumah tangga.
Seorang pria bersusah payah mengumpulkan banyak uang untuk menikahi wanita pujaan — apakah pasti mendapatkan istri yang baik? Sama sekali tidak pasti. Tak sedikit yang menghabiskan banyak uang — hanya untuk menikahi istri yang keras, kejam, atau tidak setia.
Hasilnya:
– Belum menikah — hidup tenang.
– Sudah menikah — hidup penuh pertengkaran.
Kalau begitu — apakah uang benar-benar “segala-galanya”?
Ada orang yang memiliki kekayaan miliaran — namun gagal mendidik anaknya. Sejak kecil dimanja, tidak diajari kerja keras, tidak diajari budi pekerti — akhirnya ketika dewasa, hanya bisa mabuk, berjudi, berfoya-foya, dan menghabiskan seluruh harta keluarganya dalam hitungan tahun.
Ada keluarga besar — hartanya melimpah, tetapi setiap hari bertengkar, saling menuntut, saudara jadi musuh, hubungan hancur. Ada pula orang yang kaya raya — namun menjalani penderitaan penyakit menahun, dari rumah sakit ke rumah sakit, operasi berkali-kali — tetapi tetap tidak sembuh.
Jadi — memiliki uang bukan berarti memiliki hidup yang bahagia.
Yang paling berharga bukan uang — tetapi hati nurani dan budi pekerti.
Jika seseorang melihat uang tetapi tidak tergoda untuk mengambil yang bukan haknya… Jika seseorang melihat kecantikan atau godaan, tetapi tetap menjaga kesetiaan… Jika seseorang tidak menjual integritas demi pujian atau jabatan… — maka meski tanpa mas kawin besar, dia akan dipertemukan dengan jodoh yang baik; meski tanpa tabungan besar, dia tetap bisa menikahi pasangan yang setia dan bijak; meski hidup sederhana, dia bisa membesarkan anak yang berbudi luhur dan membawa kebahagiaan di hari tua.
Sebaliknya —
- Ada orang yang jadi pejabat lalu korupsi.
– Ada yang memanipulasi proyek besar demi memperkaya diri.
– Ada yang menipu umat atas nama agama.
– Akhirnya — semuanya tertangkap dan masuk penjara.
– Lalu — apa gunanya uang itu sekarang?
Pernah juga dalam sejarah, Shi Chong, pejabat terkaya di masa Dinasti Jin, hidup mewah luar biasa — namun karena berebut seorang wanita cantik, akhirnya seluruh keluarganya dihukum mati.
Uang yang diperoleh dengan cara kotor — tidak akan pernah membawa ketenangan.
Maka dari itu — yang lebih berharga daripada uang adalah hati nurani dan kejujuran.
Warisan terbaik untuk anak cucu bukanlah harta — melainkan:
- pendidikan budi pekerti,
- kemampuan untuk hidup dengan terhormat,
- dan prinsip untuk mencari rezeki dengan jalan yang benar.
Itulah kekayaan terbesar dalam hidup. (jhn/yn)


