Cara Sederhana Mengubah Nasib — Ajaran Buddha Tentang Kekuatan Rasa Syukur

   
EtIndonesia
. Pada masa Buddha hidup, ada seorang pria tua yang memiliki lima orang anak. Namun ironisnya, tak satu pun dari mereka yang mau merawatnya. Di usia senja, dia terpaksa menjadi pengemis, berjalan dari jalan ke jalan untuk meminta belas kasihan.

Hatinya dipenuhi penderitaan — dia marah pada nasib, kecewa pada anak-anak yang tidak berbakti, dan merasa hidup ini sungguh tidak adil.

Suatu hari, dia bertemu Buddha dan bertanya: “Buddha yang penuh welas asih, adakah cara untuk mengubah nasib hidupku?”

Buddha memandangnya dan bertanya balik: “Apakah engkau mengenal rasa syukur?”

Pria tua itu menggeleng, dan berkata: “Aku tidak tahu apa itu rasa syukur… mohon bimbingan, wahai Buddha.”

Buddha pun menunjuk pada tongkat kayu yang selalu dia bawa — tongkat yang digunakannya untuk berjalan sambil mengemis — dan bertanya: “Apakah engkau bersyukur kepada tongkat ini?”

Pria tua itu merenung sejenak lalu menjawab tulus: “Tentu saja aku bersyukur. Saat seekor anjing galak mengejarku, tongkat ini menjadi pelindungku. Saat aku berjalan di jalan terjal, menanjak dan menurun, tongkat ini menopang keseimbanganku. Saat aku lelah, tongkat ini menjadi bantal untukku tidur. Aku sungguh-sungguh berterima kasih… bahkan seribu kali pun tak cukup untuk mengungkapkan rasa syukurku.”

Buddha tersenyum dan berkata: “Baik sekali. Mulai hari ini — bawalah tongkat itu, dan ucapkan rasa syukur setiap hari, tanpa henti. Jika engkau melakukannya sampai sepenuh hati — nasibmu akan berubah.”

Pria tua itu sangat percaya dan mulai melakukannya.

Dia tidak hanya bersyukur kepada tongkatnya — tetapi juga kepada setiap orang yang memberi sedikit makanan… bahkan pada orang yang menyakiti atau menipunya.

Perlahan tapi pasti… rasa syukur menghapus seluruh kebencian dalam hatinya. Dia mencapai kedamaian batin yang mendalam — sebuah kondisi meditatif yang disebut Buddha sebagai “Samadhi Rasa Syukur.”

Suatu hari, Buddha kembali mengajar di hadapan banyak orang.

Pria tua itu berkata dalam hati: “Hidup bahagia yang kumiliki hari ini — semuanya karena Buddha. Aku harus datang untuk berterima kasih.”

Dia pun datang mendengarkan dharma.

Buddha melihatnya lalu berkata kepada para murid: “Hari ini, mari kita undang seorang praktisi tua yang telah mencapai Samadhi Rasa Syukur untuk berbagi pengalamannya.”

Pria tua itu dipanggil naik ke mimbar. Tanpa sadar — kelima anaknya juga hadir hari itu, duduk di antara para pendengar.

Mereka tertegun mendengar ayah mereka berkata: “Bahkan kepada sebatang tongkat pun aku bersyukur… apalagi kepada mereka yang memberiku kehidupan. Jika seseorang tidak tahu berterima kasih kepada orangtuanya — itu lebih rendah daripada binatang!  Bahkan gagak tahu menyuapi induknya, bahkan anak domba tahu berlutut saat menyusu.”

Saat itu juga, kelima anaknya tersadar. Air mata mengalir, hati mereka luluh. 

Selesai ceramah, mereka berebut naik ke panggung: “Ayah! Tinggallah di rumahku! Biar aku yang merawatmu!”

Buddha tersenyum dan berkata: “Nasibmu telah berubah. Orang yang memiliki hati yang penuh rasa syukur — dia tidak kekurangan apa pun. Tapi orang yang tidak tahu bersyukur — sebenarnya ia tidak memiliki apa pun.”

Buddhisme hanya mengajarkan untuk membalas kebaikan — bukan membalas dendam. Jika seseorang berbuat baik pada kita — meski hanya setetes kebaikan —  balaslah seperti semburan mata air.

Jika ada yang menyakiti kita — lepaskanlah, jangan simpan dalam hati.
 

Sebab: “Yang menguntungkan orang lain pada akhirnya menguntungkan diri sendiri.
Yang merugikan orang lain pada akhirnya akan menghancurkan diri sendiri.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine