Bagi banyak orang, melukis mungkin sekadar tentang estetika dan dekorasi. Namun, bagi Freddy Wijaya, seorang kolektor kelahiran Banyuwangi yang kini menetap di Surabaya, dunia lukisan adalah semesta yang jauh lebih dalam. Di balik setiap kanvas yang ia miliki, tersimpan nilai investasi, ketulusan sebuah hobi, dan yang terpenting, jalinan cerita manusia dengan sang pelukisnya. Bagi pria yang akrab disapa Freddy ini, seni lukis adalah tentang hubungan personal dan warisan budaya yang ingin ia teruskan.
Investasi pada Keindahan dan Masa Depan
Freddy memandang koleksi lukisannya dengan sudut pandang yang unik. “Menurut saya, lukisan itu kan ada nilai investasi. Selain hobi, nanti juga ada, terutama nilai universalnya bagus,” ujarnya kepada The Epoch Times saat ditemui di Galerinya “Filadelvia” di Surabaya Barat. Namun, nilai universal yang ia maksud bukan semata-mata angka finansial. Ia melihat lukisan sebagai aset berharga yang menyimpan sejarah, emosi, dan keindahan yang dapat diapresiasi lintas generasi. Visinya adalah untuk mendirikan sebuah galeri yang besar dan elegan, tempat para pelukis Surabaya dapat memamerkan karya mereka dengan indah.
Jalinan Kolektor dan Pelukis: Lebih dari Sekadar Transaksi
Apa yang membedakan Freddy mungkin adalah pendekatannya yang personal dalam mengoleksi. Ia percaya bahwa setiap lukisan membawa serta “jalinan” yang membuatnya dekat dengan pelukisnya. “Saya tahu dia karakternya khusus. Kan banyak mungkin yang setengah jalan berhenti. Kalau saya beli dan dekat dengan pelukis itu, ada hubungan yang baik, nilai yang lebih,” tuturnya. Ia tidak hanya membeli karya, tetapi juga membeli cerita, perjuangan, dan impian sang seniman. Kedekatan inilah yang justru menjadi “kendala” tersendiri baginya. Ketika sudah akrab, membicarakan harga menjadi hal yang “pamali” atau tabu baginya. Wijaya lebih memilih untuk membeli karya-karya seniman Indonesia yang sudah terkenal di pasaran, di mana transaksi terjadi berdasarkan nilai pasar yang jelas.
Mewariskan Cinta pada Seni kepada Generasi Penerus
Motivasi terdalam Wijaya dalam mengoleksi lukisan ternyata bersumber dari keluarganya. Ia memiliki dua orang putri yang telah berkeluarga dan keduanya memiliki kecintaan pada seni. “Saya mengajarkan mereka juga mencintai seni ini, dan mau meneruskan, karena ini juga bisa menjadi investasi di masa depan, kalau bisa berlanjut sampai cucu saya bisa merawat apa yang saya miliki sekarang,” harapnya. Koleksi lukisannya bukan hanya sekadar harta benda, melainkan sebuah warisan rasa cinta dan apresiasi terhadap seni budaya Indonesia yang ia impikan dapat dijaga oleh anak cucunya kelak.
Tantangan dan Harapan bagi Dunia Seni Rupa Surabaya
Sebagai seorang yang aktif di komunitas, Fredy menyoroti perubahan geliat seni rupa di Surabaya. Ia mengenang masa ketika Surabaya sangat ramai dengan pameran seni, bahkan diselenggarakan setiap tahun. Kini, situasinya tak semeriah dulu. Menurutnya, ada persepsi bahwa pasar seni seakan-akan menilai karya seni, tetapi kurang dalam hal apresiasi yang mendalam. “Lukisan itu sebaiknya di galeri,” tegasnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, Fredy dan rekan-rekannya di galeri berusaha aktif menjangkau masyarakat melalui media sosial, khususnya Facebook. “Karena itu biaya yang paling murah,” akunya. Strategi lainnya adalah dengan mengandalkan kekuatan komunitas. Dengan membangun jaringan dan komunitas yang solid, ia berharap dapat kembali membangkitkan gairah masyarakat Surabaya untuk datang dan menikmati pameran seni.
Bagi Fredy, dunia seni lukis adalah sebuah ekosistem yang hidup. Di dalamnya, ia bukan sekadar kolektor, tetapi juga seorang sahabat bagi pelukis, seorang ayah yang ingin mewariskan nilai-nilai luhur, dan seorang pegiat seni yang berkomitmen untuk menjaga denyut nadi seni rupa Surabaya tetap berdetak. Setiap lukisan dalam koleksinya adalah sebuah bab dalam buku kehidupannya, yang ditulis bersama para seniman dan akan dibaca oleh generasi-generasi penerusnya.(et)


