Menjelang Pertemuan Trump–Xi: Dunia Menyoroti Sejumlah Isu Utama

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai kunjungan ke Asia, dan dijadwalkan akan bertemu dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, di Korea Selatan. Pengamat memperkirakan bahwa kedua pihak akan berupaya meredakan kebuntuan perdagangan, membahas ekspor teknologi, pengendalian logam tanah jarang (rare earth), serta isu-isu penting lain seperti Selat Taiwan, fentanyl, dan perang Rusia–Ukraina.

EtIndonesia. Pada 24 Oktober 2025 malam, Trump memulai kunjungan perdananya ke Asia sejak kembali ke Gedung Putih. Sebelum lepas landas dengan pesawat kepresidenan Air Force One, ia menyatakan bahwa pertemuannya dengan Xi pada 30 Oktober akan mencakup pembahasan pertanian, fentanyl, dan pembelian minyak Rusia oleh Tiongkok.

Sejak perang dagang AS–Tiongkok kembali mencuat, kedua negara telah beberapa kali berhadapan.

Amerika Serikat meningkatkan tarif terhadap produk-produk asal Tiongkok, untuk mencegah praktik pemindahan asal barang (country of origin fraud) dan transshipment, serta memperketat pengendalian ekspor teknologi tinggi, termasuk chip semikonduktor canggih.

Sementara itu, Beijing beberapa kali menekan dengan membatasi ekspor logam tanah jarang, yang penting untuk industri teknologi tinggi. Sebagai tanggapan, AS menjalin kerja sama dengan Pakistan, Australia, dan negara lain dalam pemurnian logam tanah jarang.

“AS dan Tiongkok masing-masing memiliki kartu tawar. Namun kartu PKT bersifat jangka pendek—yakni logam tanah jarang—sementara kartu AS, yakni chip semikonduktor, adalah keunggulan jangka panjang yang sulit disaingi Beijing,” jelas Direktur Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Tzu-yun. 

Su juga menilai bahwa ekonomi Tiongkok sangat bergantung pada ekspor ke AS dan Uni Eropa, sehingga AS memiliki posisi lebih kuat dalam perang dagang ini. Selain itu, perang Rusia–Ukraina membuat AS dan Eropa semakin bersatu untuk menekan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Su menambahkan: “Banyak pihak berpendapat bahwa PKT merupakan pendukung utama yang memungkinkan Rusia terus berperang. Secara strategis, AS dan Eropa akan terus bekerja sama untuk menekan Beijing. AS ingin mencegah kebangkitan PKT di kawasan Indo-Pasifik, sementara Eropa ingin segera mengakhiri perang Rusia–Ukraina.”

Pengamat memperkirakan bahwa Trump akan menekan Beijing agar berhenti membeli minyak Rusia dan menghentikan segala bentuk dukungan yang “memberi darah” pada mesin perang Moskow.

Selain itu, situasi Selat Taiwan juga diprediksi menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan tersebut. Namun, tampaknya AS sudah menetapkan garis batas yang jelas.

Pada 25 Oktober, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak akan meninggalkan komitmennya terhadap Taiwan.

Dosen Universitas Teknologi Sydney, Feng Chongyi, mengatakan: “Ini berarti kebijakan AS tetap tidak mengizinkan pihak mana pun mengubah status quo—yakni mempertahankan keadaan yang ada.”

Sejak perang dagang terbaru dimulai, kedua negara telah mengadakan empat putaran perundingan dan mencapai gencatan sementara. Namun pada 9 Oktober, PKT tiba-tiba mengumumkan pengetatan ekspor logam tanah jarang dan teknologi terkait, yang memicu kemarahan Washington.

Sehari kemudian, Trump mengumumkan bahwa mulai 1 November, AS akan memberlakukan tarif 100% terhadap produk asal Tiongkok, serta menerapkan kontrol ekspor pada perangkat lunak penting.

Pada 14 Oktober, Kejaksaan Federal Distrik Timur New York merilis dakwaan terhadap Chen Zhi, Ketua Grup Prince Holding yang berbasis di Kamboja, atas tuduhan penipuan telekomunikasi dan pencucian uang, dengan aset Bitcoin senilai sekitar 15 miliar dolar AS disita oleh otoritas AS.

Menurut Su Tzu-yun: “Langkah ini merupakan sinyal tekanan terhadap Xi Jinping. Artinya, aset pejabat tinggi PKT di luar negeri kini sudah berada dalam kendali Amerika Serikat.”

Su juga menambahkan bahwa rezim PKT saat ini sedang dilanda gejolak internal, dan Xi Jinping baru saja menyingkirkan sejumlah jenderal berpengaruh di militer, sehingga Trump dapat memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan tekanan dan memaksa kompromi.

Ia berkata: “Xi sedang menghadapi tekanan baik dari dalam maupun luar negeri. Empat pilar kekuasaannya—yakni militer, ekonomi, aparat keamanan, dan propaganda—semuanya sedang goyah. Karena itu, Trump mungkin ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk ‘merapikan medan perang’ sekaligus.”

Sejak 25 Oktober, pejabat ekonomi tertinggi AS dan Tiongkok menggelar perundingan panjang di Kuala Lumpur guna mempersiapkan pertemuan Trump–Xi. Diperkirakan fokus utama pertemuan ini adalah mengurangi ketegangan terkait ekspor teknologi AS dan kontrol logam tanah jarang oleh Tiongkok.

“Pertemuan kali ini tidak akan langsung menghasilkan kesepakatan konkret. Beijing mungkin hanya akan menunjukkan sedikit itikad baik—misalnya membeli kedelai atau pesawat Boeing dari AS. Tapi untuk mencapai kerangka kesepakatan penuh yang menurunkan tarif secara signifikan, kemungkinan besar masih sulit,” ujar analis independen yang bermukim di AS, Cai Shenkun.

Selain itu, Trump juga menyatakan bahwa ia akan memanfaatkan pertemuannya dengan Xi Jinping untuk mendorong pembebasan tokoh demokrasi Hong Kong dan taipan media yang telah lama dipenjara oleh rezim Tiongkok, Jimmy Lai. (Hui/asr)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine