EtIndonesia. Dalam pandangan ajaran Buddha, hidup manusia dikendalikan oleh hukum karma — kekuatan tak kasatmata dari perbuatan masa lalu dan masa kini yang menentukan arah nasib seseorang.
Seorang teman saya yang cukup sukses di dunia bisnis pernah berkata, dia merasa pepatah “tiga bagian ditentukan takdir, tujuh bagian ditentukan usaha” sebenarnya harus dibalik menjadi: “tujuh bagian ditentukan takdir, hanya tiga bagian ditentukan usaha.”
Dia sangat percaya bahwa besar kecilnya berkat/kebajikan seseoranglah yang menentukan pencapaian hidupnya. Ada ungkapan terkenal: “bisa menghasilkan uang adalah berkah, tetapi mampu menggunakan uang dengan bijak adalah kebijaksanaan.”
Banyak orang bekerja keras — namun ada yang jalannya mulus, ada pula yang akhirnya terlilit utang.
Menurut pengamatan teman saya di dunia bisnis, hanya sekitar 20% yang benar-benar sukses, dan 80% lainnya berakhir gagal. Artinya, yang berhasil tetaplah minoritas.
Ajaran Buddha menekankan hukum sebab-akibat dan menganjurkan agar kita menjalani hidup dengan “membangun kebajikan dan kebijaksanaan secara seimbang”. Sebab hanya jika seseorang memiliki keduanya, dia akan secara alami mampu membuat keputusan yang tepat tanpa disadari. Jika tidak, dia sangat mudah salah langkah — memilih jalan hidup yang keliru dan sulit meraih keberhasilan.
Ungkapan “kepribadian menentukan nasib” pun ada benarnya. Setiap orang lahir dengan tabiat berbeda, namun jika seseorang rajin menumbuhkan kebajikan dan kebijaksanaan, kepribadiannya bisa berubah menjadi lebih baik — pengendalian emosi meningkat, tidak mudah goyah oleh keadaan, tetap tenang kapan pun, dan kebijaksanaannya tumbuh dari dalam. Idealnya, logika dan akal sehat harus sedikit lebih tinggi daripada emosi.
Di dunia Barat, meski topik karma jarang dibahas secara eksplisit, para peneliti juga penasaran mengapa ada orang yang seperti “selalu beruntung”, sementara yang lain seolah “sial terus-menerus”.
Kesimpulan mereka: orang yang sering bernasib mujur memiliki sifat mental yang berbeda. Mereka memiliki pandangan unik tentang bagaimana “mengundang keberuntungan”.
Contohnya, mereka suka mencoba hal baru, bergabung dengan komunitas yang beragam, dan aktif memperluas jaringan pertemanan — sehingga peluang bertemu orang baik atau kesempatan emas lebih besar.
Ciri-ciri utama “orang beruntung”:
1. Memiliki keyakinan positif dan menantikan hal baik terjadi.
Jika seseorang mampu “melawan takdir” dan mengubah hidupnya — itu adalah hal yang sangat indah. Salah satu caranya adalah dengan melakukan satu kebaikan setiap hari.
Para ahli Barat mengatakan: “ketika seseorang menantikan hal baik, timbangan keberuntungan akan condong kepada orang yang berpikir positif.”
Maka, optimisme sangatlah penting. Jika kita percaya pada kekuatan pikiran, kita dapat setiap hari berkata kepada diri sendiri:
— “Setiap hari aku makin membaik.”
— “Aku semakin beruntung dan penuh rasa syukur.
Karena alam semesta seluruhnya adalah energi. Maka, sebisa mungkin hindarilah tempat yang penuh energi negatif. Hidup adalah proses latihan batin, dan setiap orang membawa kebiasaan buruk masing-masing. Namun jika seseorang rajin berbuat baik dan menjauhi kejahatan, auranya akan lebih bersinar dan keberuntungannya ikut berubah. Sebaliknya, perbuatan buruk dan ucapan yang merugikan orang lain hanya akan mengikis habis berkah yang dimilikinya.
Tokoh peramal wajah terkenal di Taiwan, Siau Siang, pernah berkata: “Secara ilmu fisiognomi, wajah Wang Yung-ching (konglomerat legendaris Taiwan) layak mendapat nilai seratus.”
Hal ini mungkin berkaitan dengan fakta bahwa ia bukan hanya kaya raya, tetapi juga gemar membangun sekolah dan beramal.
2. Orang yang beruntung pandai membangun hubungan & jaringan.
Mereka tahu bahwa semakin banyak membantu orang lain, semakin besar pula peluang mendapat pertolongan orang. Meski pada dasarnya manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk sekaligus, orang yang mau menempuh jalan kebajikan akan selalu berusaha menampilkan sisi terbaik dirinya. Zaman sekarang, orang jahat memang banyak — di dunia Timur maupun Barat — maka penting untuk tetap waspada dan sekaligus tetap berbuat baik.
3. Para peneliti Barat menemukan bahwa orang yang merasa dirinya “beruntung” cenderung:
· suka berbicara dengan orang baru
· aktif memperluas pergaulan
· mempercayai intuisi mereka
· meluangkan waktu untuk mendengar suara batin, misalnya lewat meditasi atau berjalan santai
Pada akhirnya…
Pengalaman hidup setiap orang berbeda. Mendengar pandangan orang lain adalah hal yang berharga — bisa membantu kita menghindari titik buta dalam pemikiran kita sendiri. Namun, jika seseorang memang secara alami nyaman menyendiri dan merenung — itu pun bukan masalah. Tidak perlu memaksakan diri untuk jadi orang yang bukan dirinya. Jika tidak suka bersosialisasi, memaksakan diri justru bisa membuat tidak bahagia.
Pada akhirnya, yang terbaik tetaplah hidup mengikuti “aliran takdir yang positif” dengan hati yang tenang. Sebab banyak hal memang berkaitan erat dengan karma dari kehidupan terdahulu — dan karmalah yang menentukan besar kecilnya berkah, karakter, hingga peluang hidup seseorang. (jhn/yn)


