Belakangan ini, wabah Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) kembali merebak di berbagai wilayah daratan Tiongkok, menyebabkan banyak babi mati. Sebuah perusahaan pengolahan daging di Guangdong dilaporkan secara ilegal membeli sejumlah besar babi yang sudah mati, dan menumpuknya di depan pabrik. Setelah video kejadian ini beredar, publik pun khawatir babi mati tersebut akan masuk ke pasaran.
EtIndonesia. Pada 26 Oktober, seorang warganet mengunggah video yang memperlihatkan perusahaan Guangdong Luoding Yueguang Meat Union Food Co., Ltd. sedang membeli babi mati dalam jumlah besar. Dalam video terdengar seseorang berkata, “Benar-benar tidak berperikemanusiaan, babi mati pun dibawa pulang untuk diolah.”
Rekaman menunjukkan tumpukan bangkai babi di depan pabrik, yang membentang hingga ke bagian dalam kompleks. Sebuah truk kecil di sisi lain juga tampak penuh dengan babi mati — pemandangan yang mengerikan.
Video tersebut dengan cepat menyebar luas dan menimbulkan kehebohan di dunia maya. Pada 27 Oktober 2025 malam, Dinas Pertanian dan Pedesaan Kota Luoding mengeluarkan pernyataan bahwa memang terdapat satu batch babi mati di perusahaan tersebut. Pihak berwenang telah mengambil sampel untuk diuji, melakukan desinfeksi di lokasi, dan memusnahkan babi-babi tersebut secara aman, serta memastikan tidak ada yang masuk ke pasar. Disebutkan pula bahwa tujuh orang tersangka telah ditahan.
中國獸醫披露,多地爆發非洲豬瘟。 pic.twitter.com/pvmNTPfTSY
— ying tang (@yingtan04410735) October 28, 2025
Meskipun pihak berwenang menyatakan babi-babi itu tidak masuk ke pasar, publik tetap khawatir akan adanya peredaran daging babi dari hewan sakit atau mati. Banyak warganet Tiongkok berkomentar:
“Kasus seperti ini sering terjadi, hanya saja yang satu ini ketahuan. Nanti kalau situasi tenang, mereka akan melakukannya lagi, dan tak ada yang tahu.”
Ada pula yang menulis: “Selama dagingnya belum busuk, babi mati akan dibeli murah oleh pabrik daging dan dijadikan produk seperti sosis atau ham untuk dijual.”
Lainnya menegaskan: “Jangan cuma karena viral baru ditindak. Kenapa tidak diselidiki penyebab kematiannya?”
Wabah Meluas di Tiongkok dan Negara Sekitar
Baru-baru ini, Vietnam dan Taiwan juga kembali melaporkan kasus Demam Babi Afrika, dan pemerintah di sana memperketat pengawasan. Di daratan Tiongkok, meski wabah kembali merebak, media resmi hampir tidak memberitakan soal ASF ini.
Namun, di media sosial Tiongkok, banyak peternak babi mengaku bahwa virus ASF telah menyebar luas dan menyebabkan kerugian besar.
Seorang dokter hewan yang aktif di platform video mengatakan bahwa kasus ASF meningkat tajam di provinsi Yunnan, Guizhou, Hubei, Hebei, Heilongjiang, Jilin, dan Liaoning. Ia sendiri telah menangani puluhan kasus dalam waktu singkat.
Dokter hewan lain melaporkan bahwa wabah tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya — gejalanya mirip flu atau demam biasa.
“Pagi dapat telepon dari peternak, dan malamnya seluruh babi di kandang sudah mati,” ujarnya. Ia menambahkan, babi yang terinfeksi mati dalam 2–3 hari dengan tingkat kematian sangat tinggi, dan mengimbau para peternak agar meningkatkan kewaspadaan.
Wabah Sudah Terdeteksi Sejak Awal Tahun
Sejak Maret lalu, sejumlah provinsi seperti Henan, Shandong, Hebei, Anhui, Yunnan, Guizhou, dan Sichuan telah melaporkan kasus ASF. Peternak di media sosial memperingatkan bahwa “virus tahun ini sangat ganas, menyebabkan babi tiba-tiba berhenti makan dan mati mendadak, termasuk indukan dan anak babi.”
Menurut data Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok,
- 25 Juli, ASF dilaporkan di Napho, Guangxi (perbatasan Vietnam), melibatkan 4 desa dengan 795 ekor babi, 215 terinfeksi, dan 209 mati.
- Agustus, kasus ditemukan di Shenyang, Liaoning, di mana seluruh 383 ekor babi di lokasi dimusnahkan dan pengiriman antar provinsi dihentikan.
- 15 Oktober, Bijie, Guizhou, juga melaporkan wabah dengan 10 ekor babi, 8 di antaranya mati.
Harga Daging Babi Jatuh Drastis
Dengan merebaknya ASF, harga daging babi di Tiongkok anjlok ke level terendah dalam empat tahun terakhir.
Pada 24 Oktober, harga rata-rata daging babi di pasar grosir nasional turun menjadi 17,73 yuan per kilogram — kurang dari 9 yuan per setengah kilogram.
Di Langfang, Hebei, bahkan ada pasar yang menjual 6 jin (3 kg) daging hanya seharga 5 yuan (sekitar Rp11.000), sementara di Henan dan Shaanxi, beberapa supermarket menjual 3 jin (1,5 kg) daging hanya 10 yuan (sekitar Rp22.000), yang memicu gelombang pembelian besar-besaran.
“Wabah ASF datang lebih awal tahun ini, sudah mulai sejak musim panas. Dengan kondisi seperti ini, harga daging babi tak akan naik dalam waktu dekat. Daging murah akan terus ada setidaknya sampai Maret tahun depan. Jangan terlalu berharap harga naik, pikir saja berapa banyak peternak kecil yang bisa selamat dari wabah ini,’ tulis seorang peternak di media sosial.
“Tahun-tahun sebelumnya baru muncul di November, tapi sekarang sejak Agustus sudah mulai. Daging murah sebanyak itu di pasar — pikir sendiri dari mana asalnya. Tapi tak apa, ASF tidak menular ke manusia,” lanjutnya.
Banyak warganet Tiongkok kini mengaku tak berani lagi makan daging babi, dan beralih ke ayam, sapi, atau kambing sebagai gantinya. (Hui/asr)
(Laporan komprehensif oleh Luo Tingting / Editor: Zhu Xinrui)


