Bahagia Itu Sebuah Pilihan

EtIndonesia. Istri Socrates dikenal luas sebagai simbol istri pemarah — keras kepala, mudah meledak, cerewet tanpa akhir, dan sering mempermalukannya di depan umum. Bahkan sang filsuf besar pun sering dibuat tak berdaya oleh sikapnya.

Suatu kali, seseorang bertanya kepada Socrates:  “Mengapa Anda menikahi wanita seperti itu?”

Socrates tersenyum dan menjawab dengan tenang: “Penunggang kuda yang hebat justru akan memilih kuda yang paling liar. Jika aku bisa menaklukkan yang paling sulit, maka menghadapi orang lain di dunia ini, aku tak akan takut pada siapa pun.”

Konon, Socrates sengaja menikahinya untuk melatih dirinya dalam kesabaran dan kejernihan batin — agar jiwanya terasah dan semakin bersih.

Suatu hari, saat Socrates sedang berdiskusi serius dengan murid-muridnya, istrinya tiba-tiba datang dan memakinya habis-habisan, lalu kembali membawa seember air dingin dan menyiraminya dari kepala sampai kaki.

Para murid terkejut dan mengira Socrates akan murka.

Namun Socrates hanya menyentuh bajunya yang basah kuyup dan berkata santai: “Oh, aku sudah tahu — setelah guntur, pasti turun hujan.”

Filsafat Pernikahan ala Socrates

Socrates berkata: “Bagaimanapun, menikahlah. Jika kamu mendapatkan istri yang baik — kamu akan bahagia. Jika kamu mendapatkan istri yang buruk — kamu akan menjadi filsuf.”

Saat masih bujang, Socrates tinggal berdesakan dengan beberapa sahabat di kamar kecil tak sampai 10 meter persegi. Namun setiap hari dia tampak riang dan penuh semangat.

Orang heran bertanya: “Hidup sesempit itu, bagaimana bisa tetap gembira?”

Socrates menjawab: “Tinggal bersama sahabat, tiap hari bisa bertukar pikiran dan memperkuat persahabatan — bukankah itu membahagiakan?”

Beberapa waktu kemudian, teman-temannya menikah dan pindah satu per satu. Kini Socrates tinggal seorang diri — namun dia tetap tersenyum dan bahagia.

Orang itu kembali bertanya: “Kamu sendirian, tidak kesepian?”

Socrates menunjuk ke rak penuh buku dan menjawab: “Lihatlah — aku bersama begitu banyak guru. Mereka selalu siap mengajarkanku kapan saja. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?”

Bahagia itu lahir dari dalam — bukan dari keadaan luar

Ada pepatah: “Keadaan lahiriah berasal dari keadaan batin.”

Kalau hati kita cerah — dunia pun ikut terang.

Bahagia tidak datang dari harta atau jabatan,  melainkan dari kemampuan melihat indahnya hal-hal sederhana.

  • Orang bahagia bukan karena kaya.
    Tapi karena pandai menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.
  • Orang bahagia bukan karena jabatan tinggi.
    Tapi karena mampu mencintai hidup yang ia jalani.

Bahagia adalah PILIHAN

Dalam satu hari, kita akan bertemu banyak orang, mengalami macam-macam kejadian —
ada yang membuat hati panas, ada juga yang membawa tawa dan kehangatan.

Pertanyaannya bukan “apa yang terjadi?”

 Melainkan:
– “Apa yang ingin kamu simpan dalam hatimu?”
– “Mau kamu jadikan hari ini pahit atau manis?”

Bahagia itu seperti sepotong permen dalam saku — saat hidup terasa pahit, tinggal kamu ambil dan rasakan manisnya.

Setiap hari, beri dirimu SATU alasan untuk tersenyum. Maka hidup akan terasa manis. 

Semoga kebahagiaanmu — bukan hanya hari ini, tapi hadir di setiap pergantian musim, di setiap langkah kehidupanmu. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Ketahui Jalan Kehidupan yang Dapat Menyelamatkan Anda dari Kesalahan yang Memakan Waktu Puluhan Tahun

Sebagian besar jalan memutar dalam hidup bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan oleh kesalahan penilaian kecil yang dilakukan berulang kali.  Apa yang akan dibahas berikut...

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine