EtIndonesia. Intelijen Barat mengungkapkan bahwa setelah PBB mengumumkan pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran, negara itu dengan cepat meningkatkan impor bahan utama rudal dari Tiongkok untuk membangun kembali kemampuan teknologi dan peralatan militernya.
Menurut berbagai sumber, rantai pasokan yang terlibat dalam pengiriman prekursor rudal ini sangat tertutup dan melibatkan sejumlah entitas yang telah dikenai sanksi.
Media Amerika Serikat CNN pada 29 Oktober melaporkan bahwa menurut sumber intelijen Eropa, sejak mekanisme “pemulihan cepat sanksi” PBB diberlakukan pada akhir September, beberapa batch natrium perklorat telah tiba di Pelabuhan Abbas, Iran. Natrium perklorat merupakan bahan utama untuk bahan bakar padat rudal konvensional jarak menengah Iran.
Sumber tersebut mengatakan, total sekitar 2.000 ton natrium perklorat telah dikirim sejak 29 September. Bahan ini dibeli Iran dari pemasok Tiongkok setelah konflik berdurasi 12 hari dengan Israel pada Juni lalu, untuk membangun kembali persediaan rudal yang terkuras.
Beberapa kapal kargo dan entitas Tiongkok yang terlibat dalam pengiriman tersebut kini telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat.
Sanksi yang diberlakukan kembali oleh PBB kali ini mencakup larangan bagi Iran untuk melakukan kegiatan apa pun yang terkait dengan rudal balistik yang mampu membawa senjata nuklir.
Negara-negara anggota juga diwajibkan mencegah pengiriman bahan apa pun yang dapat membantu Iran mengembangkan sistem pengangkut senjata nuklir. Para ahli menilai, bahan untuk pengembangan rudal balistik juga termasuk dalam kategori tersebut.
CNN, menggunakan data pelacakan kapal dan unggahan media sosial para awak kapal, berhasil menelusuri beberapa kapal kargo yang mengangkut natrium perklorat dari pelabuhan Tiongkok ke Iran.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa sejak akhir April, kapal-kapal ini telah berulang kali melakukan perjalanan antara Tiongkok dan Iran. Menurut sumber, para awak kapal dipekerjakan oleh Perusahaan Pelayaran Republik Islam Iran (IRISL), dan unggahan rutin mereka di media sosial menunjukkan pelabuhan-pelabuhan tempat kapal berlabuh selama perjalanan.
Salah satu kapal yang terlibat adalah kapal kargo “Basht” (MV Basht), yang telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat. Kapal ini berangkat dari Zhuhai, Tiongkok, pada 15 September dan tiba di Pelabuhan Abbas, Iran, pada 29 September, sebelum kembali lagi ke Tiongkok.
Intelijen Barat juga mengungkap bahwa kapal lain bernama “Artavand” (MV Artavand) berangkat dari Pelabuhan Liuheng, Tiongkok, pada 12 Oktober menuju Pelabuhan Abbas. Sistem pelacakan otomatis (AIS) kapal tersebut dimatikan selama perjalanan, diduga untuk menyembunyikan pergerakannya.
Sumber dari lembaga keamanan Eropa mengatakan bahwa ada “armada gelap” yang melibatkan sejumlah perusahaan cangkang, digunakan untuk terus-menerus mengirim natrium perklorat ke Iran. Selain itu, beberapa perusahaan yang tampak legal juga terlibat, termasuk dua perusahaan yang telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada April tahun ini.
Pemerintah AS menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari “jaringan yang mewakili Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)” dalam memperoleh bahan pendorong untuk rudal balistik.
Sumber intelijen menyebutkan bahwa sebagian besar perusahaan yang terlibat berbasis di Dalian, Tiongkok. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


