Lebih Baik Mengurai Dendam daripada Menambah Dendam Baru

EtIndonesia. Kita harus memahami satu hal penting:  Saat ada seseorang yang memusuhi kita di kehidupan ini, kemungkinan besar itu bukan tanpa sebab. Boleh jadi — di kehidupan lampau, kitalah yang lebih dulu menyakitinya. Karena itu, di kehidupan ini kita justru harus menyelesaikan utang karma itu, bukan menambah yang baru.

Kalau ada orang membenci kita, memfitnah kita, menjatuhkan kita — jangan balas dengan kebencian. Jangan tambah dendam. Maafkan dia. Biarkan berlalu. Jika kita mampu melakukannya, di kehidupan berikutnya dia justru bisa menjadi teman baik kita — bukan menjadi musuh lagi. Inilah wujud kebijaksanaan sejati, dan inilah cara mengubah takdir serta menutup pintu derita karma.

Jika Tak Mampu Menahan Diri Sekarang — Masa Depan Bisa Lebih Gelap

Hanya karena hal sepele kita langsung membalas, marah, melawan — dendam akan terus menumpuk, dan akan berlanjut ke kehidupan berikutnya. Orang yang menyimpan dendam, setelah meninggal sering jatuh ke jalan lahir yang rendah (neraka, setan lapar, atau binatang).

Begitu karma buruk habis, dia akan lahir kembali sebagai manusia — dan bertemu kita lagi… untuk melanjutkan dendam itu.

Maka putuskan mata rantai itu sekarang — bukan nanti.

Belajar dari Mahaguru yang Penuh Welas Asih

Ada seorang mahaguru tua — hidupnya menjadi teladan.  Di mana pun dia berada, semua orang — baik yang baik maupun yang jahat — menyukainya. Tidak pernah seumur hidupnya dia menyimpan kebencian kepada siapa pun.

Suatu hari, dia melihat seorang pemuda sedang mencuri jagung dari ladangnya. Pemuda itu panik dan ketakutan.

Namun sang mahaguru justru berkata dengan tenang: “Tak apa… kalau mau ambil, carilah yang besar-besar sekalian.”

Lalu dia pergi meninggalkan tempat itu — hatinya benar-benar tidak terganggu sedikit pun.

Dia memiliki ratusan hektare tanah, dan semuanya ditanam bukan untuk dijual, melainkan untuk dibagikan kepada para fakir miskin. Karena itu, ketika ada orang mencuri — dia menganggapnya sebagai penerima sedekah. Dia tidak marah — justru berbahagia karena bisa memberi.

Inilah hati yang benar-benar tidak menumbuhkan permusuhan. Inilah kebahagiaan sejati dari memberi dan melepaskan.

Kesimpulan Hikmah

  • Memaafkan orang lain — adalah cara membersihkan karma buruk diri sendiri.
  • Menghalangi orang lain — sama seperti sedang mengundang kesulitan bagi diri sendiri di masa depan.
  • Jika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan — jangan salahkan orang lain

 Selalu mulai dengan introspeksi: “Kesalahan ini mungkin berasal dari diriku sendiri.”

Bahkan kepada orang yang memusuhi kita — kita tidak hanya tak boleh benci, justru harus berterima kasih.  Karena kehadiran mereka lah yang melatih kita untuk sabar, rendah hati, mengikis ego, dan menaikkan kualitas jiwa.

Dendam adalah api yang membakar dua pihak.  Memaafkan adalah air yang memadamkannya — hanya yang bijak mampu memilih air.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine