Pada 30 Oktober 2025, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping berlangsung di Busan, Korea Selatan. Seperti telah diperkirakan sebelumnya, sejak pagi hari area sekitar lokasi pertemuan sudah dipenuhi warga Korea yang menggelar aksi protes “anti Komunis Tiongkok”.
EtIndonesia. Xi Jinping tiba di Bandara Internasional Gimhae, Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10/2025) untuk melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Pada pagi hari itu juga, ia mengadakan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di sekitar lokasi, sejumlah warga turun ke jalan, meneriakkan slogan seperti “Diktator Xi Jinping, enyahlah!” untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap rezim Komunis Tiongkok.

Menurut laporan Yonhap News, Xi Jinping dijadwalkan bertemu Trump di Busan, lalu melanjutkan perjalanan ke Gyeongju untuk menghadiri KTT informal ke-32 APEC pada 31 Oktober hingga 1 November.
Pada 1 November, Xi juga akan bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Xi ke Korea Selatan sejak Juli 2014 — atau setelah 11 tahun.
2025-10-29. Gyeongju, Korea where APEC was held. Korean youths March, chanting "China Lee (Jae-myung) Out" https://t.co/YwBFnBfkfQ
— Tara O (@DrTaraO) October 29, 2025
Pertemuan Trump–Xi digelar pada pukul 11.00 waktu setempat (10.00 waktu Beijing). Isu-isu utama yang dibahas meliputi tarif dagang AS–Tiongkok, ekspor tanah jarang (rare earth) dari Tiongkok, isu Taiwan, dan penyelundupan fentanyl.
Sementara itu, di sekitar lokasi pertemuan, sejumlah aksi protes anti Komunis Tiongkok terjadi secara bersamaan. Warga yang marah meneriakkan slogan-slogan menentang Xi Jinping dan Partai Komunis Tiongkok (PKT).


Menurut Yonhap News, pada 30 Oktober, pagi di dekat kantor polisi distrik Gangseo, Busan — tidak jauh dari Bandara Gimhae — kelompok warga konservatif mengadakan demonstrasi anti-Tiongkok. Mereka mengibarkan bendera Amerika di kendaraan dan menggunakan pengeras suara untuk menyuarakan protes terhadap kebijakan PKT dan kunjungan Xi Jinping ke Korea. Polisi kemudian melakukan siaran peringatan dan mengarahkan para demonstran menjauh demi menjaga ketertiban lalu lintas dan keamanan di sekitar lokasi.
Selain protes anti Komunis Tiongkok, pada hari yang sama juga digelar beberapa kegiatan menyambut dan melepas kepergian Trump. Beberapa kelompok konservatif dan gereja mengumumkan akan mengadakan upacara perpisahan di sekitar Bandara Gimhae sebagai bentuk dukungan terhadap kunjungan Presiden Trump.
Media melaporkan bahwa tiga pengguna YouTube sayap kanan ditahan polisi karena memimpin aksi protes anti-Komunis Tiongkok di dekat pangkalan udara Gimhae. Mereka meneriakkan kecaman terhadap PKT sambil mengibarkan bendera AS di atas mobil.
Menurut laporan United Daily News (Taiwan), wartawan media tersebut menyaksikan penjagaan ketat di sekitar pangkalan militer dekat bandara.
Seorang pria terlihat berdiri di atas truk, mengenakan topi bergambar Angkatan Udara AS, sambil melambaikan bendera Amerika dan berteriak lewat pengeras suara: “USA! “ “Diktator Xi Jinping, enyahlah! Kembali ke negaramu!” Polisi menyiarkan peringatan bahwa aksi tersebut tidak memiliki izin resmi dan meminta pria itu meninggalkan tempat. Setelah kebuntuan sekitar setengah jam, ia akhirnya pergi dari lokasi.
Sementara itu, menurut laporan stasiun TVBS pada 29 Oktober, warga Gyeongju menunjukkan sikap berbeda terhadap para pemimpin dunia. Seorang pemilik kafe mengatakan, “Saya menyukai Amerika, kerja sama antara AS dan Korea sangat baik.” Komentar ini mencerminkan pandangan positif masyarakat setempat terhadap AS.
Menjelang kedatangan Xi Jinping, warga Gyeongju telah menggelar serangkaian aksi protes anti Komunis Tiongkok. Di lokasi wisata terkenal, “Lonceng Kerajaan Silla”, ratusan orang berkumpul mengenakan atribut bertuliskan “Langit akan menghancurkan Partai Komunis Tiongkok ” (天滅中共) sebagai bentuk penentangan mereka.
Seorang demonstran Korea mengatakan, “Saya tidak peduli Xi Jinping datang atau apa yang dia lakukan. Kami hanya tidak ingin Partai Komunis Tiongkok ada di tanah ini — tidak pernah!” (Hui/asr)
Laporan oleh Tang Zheng / Editor: Li Quan


