Kehidupan para lansia di pedesaan daratan Tiongkok sangat sulit. Mereka tidak memiliki jaminan sosial, hidup miskin, tidak mampu berobat ketika sakit, dan banyak di antaranya memilih bundir. Fenomena ini sebenarnya telah terungkap sejak tahun 2014 oleh para akademisi Tiongkok, namun setelah lebih dari satu dekade, keadaan bukannya membaik, malah semakin parah.
EtIndonesia. Pada 29 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Chongyang (festival tradisional untuk menghormati orang tua), seorang pengguna media sosial asal Hubei mengunggah video dengan suara sedih, mengatakan bahwa ibunya telah tiada. Ia menunjukkan rumah yang dipenuhi debu, halaman yang ditumbuhi lumut, lalu menambahkan:
“Bibi saya kemarin juga minum racun dan meninggal. Racun itu namanya Zhuzhuangsu (pupuk tanaman). Orang tua di desa semua berpikir untuk mengakhiri hidup dengan cara itu. Sepertinya ini sudah menjadi takdir bagi para lansia pedesaan.”
Pengguna lain dari Hubei menulis: “Di desa kami, sebagian besar orang tua meninggal karena minum racun. Itu sudah dianggap hal yang biasa.”
Di kolom komentar yang mencapai lebih dari 2.800 tanggapan, banyak netizen menceritakan pengalaman serupa:
- “Bibi kakek saya baru saja meninggal bulan ini, minum Zhuzhuangsu karena kanker paru stadium akhir. Tidak ada yang tahu, tiba-tiba dia sudah pergi.”
- “Paman saya bunuh diri saat libur Hari Nasional. Awalnya minum racun tapi belum mati, lalu gantung diri. Dia sengaja memilih waktu libur agar anak cucunya tak perlu izin kerja atau sekolah untuk mengurus pemakamannya. Benar-benar menyakitkan hati.”
- “Ayah mertua saya, seorang guru pensiunan, menderita kanker pankreas. Ia menulis surat wasiat, menggantung diri dengan seutas kain putih di pohon, bahkan menyiapkan gunting di lantai agar mudah ditemukan.”
- “Di Hubei, ini sudah seperti ‘tradisi’. Kakek saya gantung diri, kakek teman saya minum racun karena kanker hati, sepupu saya juga begitu. Kalau sudah sakit parah dan tak bisa disembuhkan, mereka memilih mati agar tak membebani anak-anaknya.”
Seorang warga Yichang, Hubei, menulis: “Banyak sekali lansia di sekitar saya meninggal tidak wajar — minum racun, terjun ke sungai, gantung diri. Kalau sudah tua atau sakit parah, mereka memilih mati.”
Kasus serupa juga terjadi di provinsi lain:
- “Saya dari Guangxi. Di desa saya, banyak lansia yang kalau kena penyakit berat seperti kanker, mereka benar-benar minum racun pertanian untuk mengakhiri hidup.”
- “Di Guangdong juga sama. Kakek saya tahun lalu minum racun, dan nenek suami saya juga begitu tahun ini.”
- “Sepuluh tahun lalu orang tak percaya kalau banyak orang tua di sini mati karena minum Zhuzhuangsu. Tapi setelah ditelusuri, ternyata benar.”
Banyak warganet menganalisis bahwa akar masalahnya adalah ketiadaan jaminan sosial di pedesaan. Para lansia tidak punya pensiun, tidak mampu berobat, dan tidak mendapat perhatian anak-anak.
Komentar mereka mengatakan: “Penyakit yang tak bisa disembuhkan butuh biaya tanpa batas. Hidup sangat sulit, anak-anak tak peduli. Tidak ada yang bisa dilakukan.”
“Mereka tidak punya asuransi sosial. Kalau ada, mungkin mereka tak akan memilih mati.”
Pada 2014, tim riset yang dipimpin oleh Liu Yanwu, dosen Sosiologi Universitas Wuhan, melakukan penelitian selama enam tahun di lebih dari 40 desa di 11 provinsi, termasuk Hubei, Shandong, Jiangsu, Shanxi, Henan, dan Guizhou. Hasilnya diterbitkan dalam laporan berjudul “Studi Sosiologis tentang Bunuh Diri Lansia Pedesaan”.
Laporan itu mengungkap bahwa tingkat mengakhiri hidup di kalangan lansia pedesaan Tiongkok telah mencapai tingkat yang mengerikan sejak tahun 1990-an dan terus bertahan di angka tinggi hingga kini.
Menurut hasil survei, setidaknya 30% kematian lansia di pedesaan disebabkan oleh budir — dan itu adalah angka konservatif.
Alasan utama bunuh diri para lansia pedesaan antara lain:
- kemiskinan dan kesulitan hidup,
- penyakit berat,
- serta kurangnya kasih sayang dan perhatian dari anak-anak.
Seorang netizen berkomentar: “Penelitian Liu Yanwu itu sudah 20 tahun lalu, artinya kondisi ini sudah berlangsung lebih dari dua dekade — dan sekarang sudah dianggap normal. Lansia di pedesaan tidak punya tempat bergantung, tidak punya jaminan hidup.”
Yang lain menulis: “Lansia di desa dan lansia pegawai negeri adalah dua dunia yang berbeda. Orang tua di desa bekerja keras seumur hidup, tapi tidak punya perlindungan sosial sama sekali.” (Hui/asr)
Laporan oleh Li Li, editor Zheng Yu, New Tang Dynasty Television


