Catatan penting bagi pembuat konten pemula dan anggota baru pusat kebugaran.
Oleh Bill Lindsey
Muhammad Mustafa, seorang penggemar berat olahraga sekaligus staf di Squatwolf, produsen pakaian dan aksesori fitnes, tahu betul bagaimana rasanya menjadi korban perilaku buruk di gym.
“Itu hari latihan biasa, dan saya sedang fokus melakukan Romanian deadlift dengan beban berat,” ujarnya.
“Gym adalah zona pribadi saya—tempat untuk mendorong batas kemampuan dengan tenang. Saat itu saya sedang menggunakan mesin leg press sebagai penopang dan benar-benar fokus pada latihan.”
Tiba-tiba, di tengah set, Mustafa merasa ada yang menepuk pundaknya. Terkejut dan hampir kehilangan pegangan pada beban, ia menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri tak sabar ingin memakai mesin tersebut.
“Ia terus berkata, ‘Hei, dengar,’ tanpa peduli kalau saya sedang mengangkat beban berat,” katanya. “Saya mencoba menjelaskan bahwa memotong latihan orang di tengah set itu tidak sopan dan berbahaya.” Namun bukannya meminta maaf, perempuan itu malah marah dan menyebut Mustafa yang bersikap kasar.
Mustafa menyelesaikan latihannya dan memilih pergi.
Etika di Gym—Ya, Tolong!
Menurut International Health, Racquet, and Sportsclub Association, Januari selalu mencatat lonjakan sekitar 12 persen anggota baru setiap tahunnya.
Dengan banyaknya anggota baru, ini waktu yang tepat untuk mengingat kembali bagaimana berinteraksi dengan sesama pengguna gym dan peralatannya secara sopan dan damai, agar semua orang bisa memulai tahun dengan semangat positif.
Berikut enam aturan etika di gym agar setiap sesi latihan berjalan lancar tanpa menyinggung siapa pun.
1. Pahami Cara Menggunakan Alat
Bagi anggota baru, berolahraga di depan orang lain bisa terasa menegangkan, apalagi saat melihat pengguna berpengalaman berganti alat dengan mudah. Butuh waktu untuk mengenali alat baru, bahkan bagi yang sudah lama berlatih.
Memberi waktu bagi diri sendiri untuk belajar justru menjadi langkah terbaik agar perjalanan fitnes terasa menyenangkan—baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Jimmy Richard, pelatih pribadi bersertifikat dan pelatih kebugaran daring, membagikan kisah lucu saat mencoba gym baru bersama ayahnya.
“Saat itu kami sedang di hotel dan menggunakan treadmill,” ujarnya. “Ayah saya kesulitan mengatur kecepatannya. Ia terus menekan tombol, dan tiba-tiba saja terpental ke belakang. Untungnya dia baik-baik saja, dan kami malah tertawa.”
2. Hormati Ruang Pribadi
Seperti yang dialami Mustafa, banyak orang datang ke gym untuk benar-benar fokus dan masuk ke kondisi yang disebut atlet sebagai the zone. Kecuali diajak berbicara, tahan keinginan untuk mengobrol dengan orang lain, walau posisinya dekat. Jangan juga mengintip atau membandingkan kecepatan dengan pengguna treadmill atau sepeda di sebelah.
Memotong latihan orang lain hanya untuk meminta alat juga tidak sopan dan bisa berbahaya, terutama jika melibatkan beban berat.
3. Jaga Kebersihan
Selalu gunakan handuk untuk mengelap alat setelah dipakai. Menghapus keringat di bangku atau kursi seharusnya menjadi kebiasaan otomatis. Jika handuk sudah basah, ambil yang baru untuk mandi.
Meninggalkan keringat di permukaan alat bukan hanya jorok, tapi juga tidak peduli dan berisiko membuat orang lain terpeleset. Jika tersedia, gunakan juga semprotan disinfektan yang disediakan gym.
4. Kembalikan Alat ke Tempatnya
Godaan untuk meninggalkan beban setelah digunakan sering terjadi, terutama pada latihan angkat berat. Namun, alat bebas (free weights) biasanya disusun berdasarkan ukuran dan berat agar mudah digunakan. Setelah selesai, kembalikan ke tempat semula. Tidak melakukannya adalah cara cepat untuk mendapat reputasi buruk di gym.
Selain itu, jangan berdiri tepat di depan rak beban saat berlatih, karena akan menghalangi orang lain. Selalu beri ruang bagi pengguna lain, dan jangan menutup pandangan mereka terhadap cermin yang digunakan untuk memeriksa postur.
5. Jangan Kuasai Alat Terlalu Lama
Beberapa alat seperti bench press dan squat rack adalah favorit banyak orang, sehingga sering ada antrean. Walau tak perlu tergesa-gesa, tetaplah peka terhadap orang lain dan selesaikan latihan dengan tempo wajar.
Mengambil terlalu banyak selfie saat gym sedang ramai termasuk pelanggaran etika. Ini juga berlaku bagi mereka yang suka merekam perjalanan fitnes untuk media sosial.
Jimmy Richard mengatakan, “Sekarang banyak orang berubah jadi ‘sutradara’ film latihan mereka sendiri, merekam tiap repetisi dan set dengan ponsel.”
Ia pernah menemukan mesin leg press dikuasai seorang pria berotot besar yang sibuk merekam dengan ponselnya. Setelah selesai, pria itu tidak segera pindah, melainkan duduk sambil menonton videonya.
“Saya bertanya dengan sopan, ‘Masih banyak set lagi, bro?’ dan dia menjawab, ‘Iya, masih banyak.’ Empat puluh menit kemudian, dia masih di sana, mengedit videonya,” cerita Richard. Akhirnya, ia memilih mencari gym lain yang pengunjungnya lebih sopan.
Jika memang harus pergi sebentar untuk minum atau ke toilet, tinggalkan handuk di kursi atau biarkan beban tetap terpasang agar orang tahu alat itu masih digunakan.
Namun jangan asal “menandai” alat dengan handuk hanya untuk memonopoli dua alat sekaligus, apalagi saat gym sedang penuh. Itu termasuk perilaku tidak pantas.
6. Jaga Suara Tetap Rendah
Sebagian besar orang kini berolahraga sambil mendengarkan musik atau podcast lewat earphone. Pastikan volumenya cukup rendah agar tidak terdengar orang di sebelah.
Selain itu, jangan bernyanyi keras mengikuti lagu—orang lain tidak datang untuk mendengar konser gratis. Hindari juga menelepon di area latihan; suara percakapan bisa mengganggu fokus orang lain.
Termasuk juga teriakan keras atau menjatuhkan beban dengan dramatis seperti atlet Olimpiade. Selain mengagetkan dan tidak sopan, itu bisa merusak alat atau melukai diri sendiri.
Tetap Konsisten
Berolahraga tidak mudah, tapi hasilnya sepadan. Jika kamu baru bergabung di gym sebagai bagian dari resolusi tahun baru, ingatlah bahwa tempat itu adalah ruang bersama bagi orang-orang dengan tujuan serupa.
Etika dan kebiasaan baik akan menciptakan suasana positif yang membuat setiap orang betah berlatih.
Atlet voli pantai Olimpiade Kerri Walsh Jennings pernah berkata, “Ini adalah perjalanan, bukan perlombaan untuk cepat bugar.”
Kesimpulannya sederhana: buat rencana, jalani dengan konsisten, dan nikmati kebersamaan dengan sesama pejuang kebugaran.
Sumber : Theepochtimes.com


