Kekurangan Vitamin D Terkait dengan Peningkatan Risiko Demensia Dini

Studi menemukan 15 faktor yang terkait dengan meningkatnya risiko demensia yang muncul lebih awal.

Oleh George Citroner

Lupa dan bingung yang dulu dianggap tanda penuaan normal kini semakin banyak dialami oleh orang dewasa di usia produktif. Tingkat demensia dan Alzheimer yang muncul sebelum usia 65 tahun di Amerika Serikat meningkat dua kali lipat antara 2013 hingga 2017, menurut data dari perusahaan asuransi kesehatan Blue Cross Blue Shield (BCBS).

Salah satu temuan penting dari studi tersebut adalah kekurangan vitamin D menjadi salah satu dari 15 faktor gaya hidup yang dapat disesuaikan dan tampaknya meningkatkan risiko seseorang terkena demensia dini.

Selain menyoroti penyalahgunaan alkohol dan isolasi sosial, hubungan mengejutkan antara rendahnya kadar vitamin D dan penurunan fungsi kognitif dini menunjukkan bahwa suplemen sederhana setiap hari mungkin dapat membantu mengurangi tren peningkatan kasus ini. Sekitar 35 persen orang dewasa di Amerika Serikat diketahui mengalami kekurangan vitamin D.


Studi Terbesar di Bidangnya

Rata-rata usia penderita demensia atau Alzheimer dini berada di kisaran 49 tahun, dengan perempuan lebih banyak terdampak dibanding laki-laki, menurut data BCBS.

Studi berskala besar yang diterbitkan di jurnal JAMA Neurology ini mengidentifikasi 15 faktor risiko kesehatan dan gaya hidup yang terkait dengan demensia dini. Penelitian ini menganalisis data dari lebih dari 356.000 orang berusia di bawah 65 tahun yang terdaftar dalam UK Biobank, basis data biomedis berskala besar di Inggris, antara tahun 2006 hingga 2010.

“Ini adalah studi terbesar dan paling kuat yang pernah dilakukan di bidang ini,” kata David Llewellyn dari University of Exeter dalam pernyataannya.


Faktor Risiko Demensia yang Muncul Dini

“Demensia yang muncul pada usia muda memberikan dampak yang sangat besar, karena orang yang mengalaminya biasanya masih bekerja, memiliki anak, dan menjalani kehidupan yang aktif,” ujar Stevie Hendriks, peneliti utama dari Departemen Psikiatri dan Neuropsikologi, Universitas Maastricht, Belanda.

“Selama ini penyebabnya sering diasumsikan karena faktor genetik, tapi pada banyak kasus, kita belum tahu secara pasti apa penyebab sebenarnya,” tambahnya.

Faktor risiko utama yang berkontribusi meliputi penyalahgunaan alkohol, stroke, dan gangguan pendengaran — faktor-faktor yang sebelumnya memang telah dikaitkan dengan penurunan kognitif.

Namun, penelitian ini juga mengungkap faktor risiko tambahan yang belum banyak dieksplorasi, seperti kekurangan vitamin D, tingginya kadar protein C-reaktif (penanda peradangan) terutama pada perempuan, hipotensi ortostatik (tekanan darah rendah saat berdiri setelah duduk), dan isolasi sosial.


Vitamin D Menurunkan Risiko Demensia hingga 40 Persen

Penelitian-penelitian sebelumnya juga menemukan kaitan antara kekurangan vitamin D dan meningkatnya risiko demensia, kata Claire Sexton, direktur senior program ilmiah dan edukasi di Alzheimer’s Association, kepada The Epoch Times.

Namun, hanya sedikit studi yang secara khusus meneliti faktor risiko demensia yang muncul di usia muda, sehingga riset tim Hendriks menjadi “tambahan berharga dalam literatur ilmiah,” ujarnya.

Salah satu studi terkait yang diterbitkan di jurnal Alzheimer’s & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease Monitoring membandingkan waktu munculnya demensia antara orang yang mengonsumsi suplemen vitamin D dan yang tidak mengonsumsinya.

Penelitian itu melibatkan 12.388 warga Amerika tanpa diagnosis demensia pada awal studi, dengan usia rata-rata 71 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa dari mereka yang mengembangkan demensia dalam 10 tahun, sekitar 75 persen tidak mengonsumsi suplemen vitamin D, sementara hanya 25 persen yang rutin mengonsumsinya.

Suplemen tersebut memberikan perlindungan lebih besar pada perempuan, namun juga menurunkan risiko pada laki-laki. Menariknya, manfaat vitamin D tampak lebih signifikan ketika dikonsumsi sebelum munculnya gejala gangguan kognitif.

“Efek vitamin D jauh lebih besar pada perempuan dibanding laki-laki, serta lebih efektif pada mereka dengan fungsi kognitif normal dibanding yang sudah mengalami gangguan ringan,” tulis para peneliti.

Secara keseluruhan, penelitian itu menemukan bahwa konsumsi suplemen vitamin D dikaitkan dengan penurunan risiko demensia sebesar 40 persen dibanding mereka yang tidak mengonsumsinya.

Namun, Ms. Sexton mencatat bahwa hasil uji klinis acak (randomized controlled trials) tentang efek vitamin D terhadap fungsi kognitif masih menunjukkan hasil yang beragam, sehingga riset lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan hubungan tersebut.


Faktor Risiko yang Bisa Kita Ubah

Beberapa faktor risiko yang diidentifikasi dalam penelitian ini dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup, seperti penyalahgunaan alkohol, diabetes, penyakit jantung, dan stroke — dua yang terakhir erat kaitannya dengan tekanan darah tinggi, yang juga merupakan faktor risiko demensia.

Olahraga teratur, berhenti merokok, dan memperbaiki pola makan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Sementara itu, kesepian atau isolasi sosial lebih sulit diatasi. Peserta yang jarang berinteraksi dengan keluarga atau teman (kurang dari sekali sebulan) memiliki tingkat demensia dini yang lebih tinggi dibanding mereka yang lebih sering bersosialisasi.

Menurut Surgeon General Amerika Serikat Vivek Murthy, bahkan sebelum pandemi COVID-19, sekitar setengah orang dewasa di AS mengaku merasa kesepian. Ia menyarankan agar orang mulai mengambil langkah sederhana untuk mengurangi perasaan terisolasi, seperti menjawab telepon dari teman, makan bersama, atau mendengarkan orang lain tanpa menatap ponsel.

“Isolasi sosial memang berkaitan dengan depresi, namun dalam analisis kami, depresi tidak memediasi hubungan antara isolasi sosial dan demensia dini, yang berarti keduanya berkontribusi langsung terhadap risiko demensia,” tulis para peneliti.

Untuk mencegah demensia dini, para ahli merekomendasikan perubahan gaya hidup yang menargetkan faktor-faktor risiko utama seperti kekurangan vitamin D, peradangan, tekanan darah rendah, dan isolasi sosial.

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine