EtIndonesia. Dalam sebuah forum kebijakan besar di Washington, mantan United States Commission on International Religious Freedom (USCIRF) atau Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback, menyerukan agar Gedung Putih mengambil langkah bersejarah: mengundang pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi, untuk bertemu dengan pejabat tinggi pemerintah AS sebagai wujud komitmen Amerika terhadap Keyakinan, kebebasan beragama, dan nilai-nilai universal.
Berbicara pada 28 Oktober 2025 dalam acara Tiongkok forum yang diselenggarakan oleh Victims of Communism Memorial Foundation (VOC), Brownback menegaskan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah melancarkan perang yang tak mungkin dimenangkan melawan pilar keyakinan dan kebebasan.
“PKT sedang berperang melawan keyakinan— dan perang itu yang pasti mereka kalah,” ujarnya.
‘Perang terhadap keyakinan’
Brownback menjelaskan bahwa ideologi ateis rezim Tiongkok secara inheren menganggap semua sistem kepercayaan independen sebagai ancaman.
“PKT tidak hanya menindas satu kelompok — mereka menindas siapa pun yang memiliki keyakinan,” katanya.
Ia menelusuri bagaimana Beijing telah lama menekan umat Kristen, Muslim, Buddha Tibet, dan terutama praktisi Falun Gong (atau Falun Dafa) — sebuah latihan meditasi damai yang didirikan di Tiongkok oleh Li Hongzhi pada 1992, berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar (Zhen-Shan-Ren).
Menjelang tahun 1999, jumlah pengikut Falun Gong diperkirakan mencapai 70 hingga 100 juta orang, melampaui jumlah anggota PKT. Popularitas ini menimbulkan ketakutan di kalangan pimpinan partai, sehingga Jiang Zemin, yang saat itu berkuasa, melancarkan kampanye brutal untuk memusnahkan latihan tersebut dari seluruh Tiongkok.
Sejak saat itu, ribuan praktisi dilaporkan tewas di tangan aparat Tiongkok melalui penyiksaan, kerja paksa, dan penahanan. Banyak yang ditahan di fasilitas rahasia, di mana para penyintas melaporkan perlakuan kejam seperti sengatan listrik, pemukulan, dan penyiksaan psikologis agar mereka meninggalkan keyakinannya. Penindasan ini terus berlangsung selama lebih dari dua dekade.
“PKT menganggap Falun Gong sebagai kelompok yang tidak bisa mereka kendalikan, lalu memutuskan untuk memusnahkannya,” ujar Brownback.
Ia mengutip banyak laporan yang mendokumentasikan penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, hingga pengambilan organ paksa dalam skala besar, dengan mengutip pernyataan pengacara hak asasi manusia asal Kanada David Matas, yang menyebut kejahatan ini sebagai “kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di planet ini.”
Kejahatan Sistematis dan ‘Genosida’
Brownback juga menyinggung kasus-kasus nyata yang dicatat oleh situs Minghui.org, yang berbasis di AS dan mendokumentasikan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di dalam dan luar Tiongkok, di antaranya:
- Zhang Fengxia (52 tahun) dari Daqing, Heilongjiang, ditangkap pada Agustus 2025 dan meninggal hanya tujuh hari kemudian dalam tahanan.
- Men Yulin dari Jinzhou, Liaoning, meninggal empat hari setelah dibebaskan dari hukuman penjara tujuh tahun.
- Wang Shimin dari Provinsi Shanxi menjadi lumpuh akibat penyiksaan dan kini terbaring lemah akibat kekerasan berat yang dialaminya di penjara.
Brownback juga mengingat kembali tragedi Kamp Kerja Paksa Masanjia tahun 2000, di mana 18 praktisi Falun Gong perempuan dilucuti pakaiannya dan dimasukkan ke sel tahanan pria di bawah pengawasan Luo Gan, anggota Politbiro saat itu.
“Tidak ada rezim dalam sejarah yang membantai warganya sendiri yang beriman dalam skala sebesar ini,” ujarnya.
“Pembunuhan yang dilakukan PKT terhadap rakyatnya melampaui pemerintahan mana pun.”
Isu Kebebasan Beragama Sebagai Kepentingan Keamanan Nasional
Brownback menegaskan bahwa kebebasan beragama bukan hanya isu hak asasi manusia, tetapi juga masalah keamanan nasional.
“Bagi PKT, kebebasan beragama adalah ancaman eksistensial; bagi kita, kebebasan beragama adalah fondasi bangsa,” katanya.
Tanpa keyakinan, lanjutnya, moralitas dan peradaban akan runtuh.
“Jika Amerika mengorbankan kebebasan beragama, dunia bebas itu sendiri akan hancur,” ujarnya memperingatkan.
Ia mendesak pemerintah Washington untuk menjadikan pembelaan terhadap kebebasan berkeyakinan sebagai pilar strategis kebijakan luar negeri AS, bukan sekadar simbolik.
“Kebebasan beragama mewakili nilai-nilai kita dan menjadi tantangan terbesar bagi totalitarianisme komunis,” tambahnya.
Seruan Bersejarah untuk Gedung Putih
Momen paling mencolok dalam pidatonya adalah ketika Brownback menyerukan secara terbuka:
“Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong, tinggal di Amerika Serikat. Pejabat Gedung Putih seharusnya bertemu dengannya dan secara terbuka menegaskan bahwa praktisi Falun Gong berhak atas kebebasan beragama — dan mereka pantas mendapatkannya sekarang.”
Ia menyebut pertemuan semacam itu sebagai “Tindakan simbolis paling kuat untuk kebebasan beragama dalam sejarah Amerika.”
“Jika Anda ingin melihat Tiongkok yang sesungguhnya, lihatlah Falun Gong,” kata Brownback.
“Mereka hanya berusaha kembali pada budaya tradisional dan keyakinan moral — akar peradaban Tiongkok.”
Gerakan Global untuk Kebebasan
Sebagai Duta Besar Kebebasan Beragama AS di era Presiden Donald Trump, Brownback dikenal memimpin sanksi terhadap pejabat Tiongkok seperti Chen Quanguo, mantan sekretaris Partai di Xinjiang — langkah yang membuat Beijing melarangnya masuk secara permanen.
“Itu salah satu kehormatan terbesar dalam hidup saya,” ujarnya sambil tersenyum.
Kini, ia melihat undangan kepada Master Li Hongzhi bukan sekadar langkah politik, tetapi titik balik spiritual.
“Dunia bebas harus merebut kembali iman untuk melawan totalitarianisme ateistik,” katanya.
Brownback menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa Amerika, yang didirikan atas prinsip kebebasan beragama, harus kembali mengibarkan panji itu melawan kampanye penghapusan budaya dan moral yang dijalankan oleh PKT.
“Mengundang Li Hongzhi ke Gedung Putih bukan sekadar diplomasi; itu ujian moral,” tegasnya.
“Langkah itu akan menunjukkan bahwa dunia bebas berdiri sejajar dengan kebenaran, belas kasih, dan kesabaran.”
Saat mengakhiri pidatonya, Brownback kembali mengulang keyakinan yang menjadi pegangan hidupnya:
“PKT sedang berperang melawan Iman — dan mereka akan kalah. Karena kekuatan keyakinan bersumber dari kebebasan hati manusia.”
oleh Chen Jing, Vision Times


