Aksi Protes Meletus! Petani Hainan, Tiongkok  Kepung dan Bongkar Papan Nama Perusahaan Negara, Polisi Lepaskan Tembakan Peringatan 

Pada 31 Oktober 2025, para petani di Hainan, Tiongkok  melakukan protes terhadap perusahaan BUMN Tiongkok Hainan Rubber Group (海胶集团), membalikkan kendaraan serta melemparkan berbagai benda ke arah petugas perusahaan dan polisi. 

EtIndonesia. Perusahaan milik negara di Hainan dituduh secara diam-diam menebang pohon pinang milik warga, memicu aksi protes besar-besaran. Para petani setempat mengepung gedung kantor, membalikkan kendaraan, dan membongkar papan nama perusahaan. Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan untuk menakut-nakuti dan membubarkan massa.

Video yang beredar di internet memperlihatkan bahwa cabang Jiachai dari Hainan Rubber Group Co., Ltd. secara paksa menebang kebun pinang milik warga setempat, yang kemudian menimbulkan kemarahan dan protes besar.

Pada 31 Oktober siang, para petani menumpuk batang-batang pohon pinang yang ditebang di depan gedung perusahaan, menuntut penjelasan. Semakin banyak warga yang berdatangan, mereka memblokir pintu gerbang perusahaan sambil berteriak meneriakkan slogan-slogan protes.

Menjelang malam, para petani yang marah mulai membalikkan kendaraan di halaman perusahaan. Setelah polisi mundur, beberapa orang memanjat ke atap dan menurunkan papan nama perusahaan.

Video di lokasi menunjukkan bahwa karyawan perusahaan terjebak di dalam gedung dan baru bisa meninggalkan tempat tersebut pada malam hari di bawah pengawalan polisi. Polisi membuat barikade manusia untuk menahan massa, sementara pasukan anti huru-hara menggunakan perisai dan payung hitam untuk menangkis batu serta benda-benda lain yang dilemparkan oleh pengunjuk rasa, guna melindungi evakuasi karyawan perusahaan yang tampak panik.

Massa baru mulai bubar menjelang tengah malam, meninggalkan lokasi yang porak-poranda.

Rekaman lain menunjukkan bahwa polisi sempat melepaskan tembakan peringatan untuk mengintimidasi para petani.

Hainan Rubber Group adalah perusahaan milik negara berskala besar yang pada tahun 2025 menempati peringkat ke-315 dalam daftar Fortune China 500.

Reaksi dan Sorotan di Dunia Maya

Video bentrokan tersebut dengan cepat menyebar di internet dan memicu diskusi luas. Karena ketatnya sensor daring di Tiongkok, hanya cuplikan yang dibagikan ke media sosial luar negeri yang masih dapat diakses setelah kejadian itu.

Banyak pengguna internet Tiongkok mengatakan bahwa insiden tersebut mencerminkan keretakan mendalam dalam kepercayaan antara warga dan pihak berwenang.

Sebagian memuji keberanian warga Hainan yang berani menentang tindakan pemerintah yang dianggap berlebihan, sementara yang lain menilai kerusuhan itu merupakan akibat dari keluhan lama yang akhirnya meledak.

Dalam sebuah pernyataan di akun resminya di Douyin—versi Tiongkok dari TikTok—pada 31 Oktober, perusahaan Hainan Rubber menyatakan bahwa lahan yang disengketakan berada dalam batas wilayah cabang lokalnya dan bahwa mereka memiliki hak penggunaan yang sah.

Perusahaan menuduh warga desa telah “menduduki lahan secara ilegal” selama bertahun-tahun dan mengatakan bahwa mereka menyingkirkan “tanaman non-karet” setelah warga menolak menghentikan “pelanggaran” mereka, yang kemudian memicu konfrontasi.


Pernyataan Perusahaan Picu Keraguan

Pernyataan Hainan Rubber menuai skeptisisme luas di dunia maya. Banyak pengguna meragukan klaim perusahaan atas kepemilikan lahan tersebut. Beberapa menyoroti bahwa Hainan Rubber baru didirikan pada tahun 2005, sementara warga telah menggarap tanah itu selama beberapa dekade.

Ada pula yang menuduh perusahaan milik negara (BUMN) Tiongkok menyalahgunakan kekuasaan mereka, dan memperingatkan bahwa jika praktik semacam itu dibiarkan, sengketa lahan serupa bisa saja muncul di berbagai daerah lain di Tiongkok.

Tarik Ulur Ekonomi

Menurut warga kepada The Epoch Times pada 1 November dengan syarat identitasnya dirahasiakan demi keamanan bahwa sengketa tersebut berpusat pada perbedaan kepentingan penggunaan lahan. Perusahaan berencana mengambil kembali tanah itu untuk menanam pohon karet, sedangkan warga desa lebih memilih menanam pinang, tanaman bernilai tinggi yang populer di wilayah selatan Tiongkok.

“Menanam karet tidak banyak menghasilkan uang—pekerjaannya berat,” ujarnya. “Harus bekerja setiap hari. Kalau pinang, keuntungannya jauh lebih besar.”

Satu pohon pinang yang dikelola dengan baik dapat menghasilkan sekitar 2.000 yuan (sekitar Rp4,3 juta) per tahun, katanya. Sebuah kebun pinang yang sudah matang bisa memiliki lebih dari 1.000 pohon. Namun, pohon pinang membutuhkan waktu sedikitnya tujuh tahun sejak ditanam hingga berbuah, sehingga menjadi aset penting bagi petani setempat.


Laporan yang Dihapus

Media lokal Tiongkok Xinhuanghe sempat memberitakan insiden itu pada dini hari 1 November, tetapi The Epoch Times menemukan bahwa laporan tersebut sudah dihapus pada pukul 10.00 pagi hari yang sama.

Penghapusan pemberitaan oleh media lokal itu menyoroti sensitifnya isu sengketa lahan dan kerusuhan sosial di Tiongkok, di mana laporan tentang bentrokan dengan badan usaha milik negara sering kali cepat dihapus dari ruang publik. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com/Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine