EtIndonesia. Aku sangat menyukai sebuah perusahaan permen yang pada kertas bungkus permennya selalu menulis kalimat-kalimat singkat namun penuh makna.
Misalnya, “When life isn’t going right, go left.” (Ketika hidup tidak berjalan dengan baik, beloklah ke kiri.)
Secara harfiah sederhana, tapi maknanya dalam: ini seperti pepatah kita — “Bukan berarti jalan telah berakhir, mungkin kita hanya perlu berbelok.”
Kalimat itu sarat makna dan membuat orang merenung.
Ketika sesuatu tidak bisa diselesaikan, bahkan sampai memengaruhi hidup dan suasana hati, mungkin kita sebaiknya berhenti sejenak. Berilah jiwa kita kesempatan untuk beristirahat dan bermeditasi. Mungkin dengan mengganti cara, mengubah sudut pandang, atau mencoba jalan yang lain — semuanya akan terasa lebih mudah.
Ada pepatah Indian yang mengatakan: “Jika kita berjalan terlalu cepat, berhentilah sebentar agar jiwa kita dapat menyusul.”
Jangan biarkan diri terus terjebak dalam jurang penderitaan. Dalam hidup, kegagalan dan kesulitan adalah hal yang wajar — itu bukan akhir, melainkan tanda bahwa kita perlu berbelok arah.
Bukankah pepatah Tiongkok juga berkata: “Saat pegunungan dan sungai tampak menutup jalan, di balik pepohonan dan bunga yang rimbun, selalu ada desa lain menanti.”
Belajarlah untuk melepaskan — kuburlah masa lalu di lubuk hati dan simpan hanya kenangan terindah.
Melepaskan bukan berarti kalah; Melepaskan berarti kita mencari jalan yang lebih baik dan lebih indah.
Sering kali, dalam hidup ini, kita perlu dengan sadar memilih untuk melepaskan. Ketika semua telah menjadi bayangan masa lalu, melepas adalah bentuk pemahaman terbaik — bahkan sebuah kebahagiaan.
Melepaskan kebencian berarti menyisakan cinta. Sebelum air mata jatuh, berbaliklah dan tinggalkan punggung yang anggun. Bebaskan hati agar ringan dan tenang, biarkan kedamaian menggantikan kepedihan. Ketika waktu perlahan berlalu, rasa itu pun memudar, menyisakan hanya perasaan cinta yang lembut di hati.
Keterikatan berlebihan adalah beban, bahkan penderitaan. Terlalu banyak perhitungan menjadi belenggu; Tersesat terlalu lama menjadi luka batin.
Melepaskan adalah bentuk kelapangan dada, tanda kedewasaan, dan bukti keyakinan terhadap diri sendiri. Melepaskan bukan berarti berhenti mengejar, melainkan menghadapi hidup dengan hati yang lapang.
Orang zaman dahulu berkata: “Kehilangan di timur, akan mendapat di barat.”
Dalam hidup, mendapatkan dan kehilangan hanyalah soal sekejap pikiran. Apa yang ingin kita miliki? Apa yang rela kita lepaskan? Itu semua tergantung cara pandang masing-masing.
Hidup ini singkat; kita hanyalah pengembara yang lewat di dunia ini. Dalam perjalanan hidup yang tampak singkat ini, jika kita kadang mendapat dan kadang kehilangan, apa salahnya?
Yang tak bisa dimiliki memang berharga, namun itu bukan yang paling penting. Yang paling berharga adalah kebahagiaan yang sedang kita genggam saat ini — dan orang-orang yang ada di depan mata, yang patut kita hargai sepenuh hati.
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, kita pun harus belajar menyesuaikan arah kehidupan kita. Kehilangan kadang terasa menyakitkan, tapi juga bisa membawa kebahagiaan.
Karena setelah kehilangan hijau musim semi, kita mendapatkan keemasan musim gugur.
Kehilangan matahari, kita menemukan langit penuh bintang. Bagaimana menghadapi “mendapat” dan “kehilangan” dalam hidup telah menjadi pertanyaan yang manusia renungkan selama ribuan tahun.
Yang didapat jangan disia-siakan; yang hilang lepaskan dengan tenang. Hargai saat memiliki, jangan sesali saat kehilangan. Terlalu peduli hanya akan mengurangi kebahagiaan hidup.
Ketika kita belajar memandang ringan segalanya, jiwa pun menjadi lebih damai dan bebas. Bukan berarti jalan telah berakhir — hanya saatnya kita berbelok.
Ada lagi kalimat yang berbunyi: “Live your life every day with no regrets. It’ll be worth it.”
(Hiduplah setiap hari tanpa penyesalan. Hidup seperti itu akan terasa berharga.)
Kalimat ini mengingatkanku pada kata-kata Einstein: “Hidup jangan dibiarkan kosong.” (生命不留白)
Dalam tulisannya “Dunia dalam Pandanganku,” Einstein berkata: “Kita semua hanyalah pengunjung singkat di dunia ini, namun entah mengapa, sering merasa bahwa perjalanan ini punya makna yang sakral. Yang kutahu hanyalah satu hal yang pasti: Manusia hidup demi manusia lain — terutama demi senyum orang-orang yang kita cintai. Selain itu, juga demi mereka yang bahkan tak kita kenal, karena tali simpati yang halus mengikat nasib kita bersama. Aku percaya kehidupan yang sederhana dan rendah hati akan bermanfaat bagi tubuh dan jiwa setiap orang.”
Kata-kata Einstein itu seperti lonceng pagi dan genderang senja — membangunkan kesadaran kita.
Bahkan saat menghadapi kematian, Einstein tetap tenang.
Dia berkata: “Semua orang pasti mati. Kematian adalah pembebasan terakhir, kebebasan abadi. Kematian melepaskan kita dari semua belenggu — baik jasmani maupun rohani. Siapa yang pernah melihat orang mati menderita? Namun, manusia justru takut mati! Padahal, hanya dengan berakhirnya kehidupan individu, kehidupan spesies bisa terus berlanjut. Betapa cerdas dan indahnya pengaturan alam semesta ini!”
Dia menambahkan : “Di dunia, di alam semesta, begitu banyak misteri yang belum terpecahkan. Lebih baik kita hidup pada saat ini, bekerja keras, dan melakukan sesuatu yang berarti bagi masyarakat dan sesama manusia.”
Itulah kata-kata seorang yang memiliki kebijaksanaan, kasih, dan keberanian besar — sesuatu yang sulit dicapai oleh orang biasa.
Menjelang akhir hidupnya, meski sakit parah, Einstein sering menolak dokter untuk menyuntiknya dengan morfin dan menolak menjalani operasi apa pun.
Dia berkata: “Aku akan pergi ketika waktuku tiba. Memaksa memperpanjang hidup adalah hal yang sia-sia. Aku telah melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Ketika waktuku tiba, biarkan aku pergi dengan tenang dan bermartabat.”
Sungguh semangat “Aku berjalan sendiri di antara seribu gunung, tak perlu ada yang mengantar” — betapa lapang dan bebasnya jiwa seperti itu!(jhn/yn)


