EtIndonesia. Dahulu kala, hiduplah seorang pengemis yang setiap hari keluar mengemis. Meski hidup sangat sulit, dia diam-diam menyimpan harapan besar: suatu hari nanti, dia ingin hidup seperti orang biasa, tidak perlu lagi meminta-minta.
Karena itu, setiap hari dia tidak langsung menghabiskan makanan yang didapat, melainkan menyimpannya sedikit demi sedikit. Namun anehnya, bertahun-tahun sudah berlalu, simpananny tidak berubah. Dia bingung — mengapa tabungannya tidak pernah bertambah?
Suatu malam, dia memutuskan bersembunyi dan mengawasi. Ternyata ada seekor tikus besar yang diam-diam mencuri makanannya setiap malam.
Dengan marah dia berkata: “Di rumah orang kaya makanan melimpah, kenapa kamu malah mencuri makanan orang miskin sepertiku?”
Tikus itu tiba-tiba berbicara: “Karena dalam takdirmu hanya ada delapan ruas nasi — meski keliling dunia, kamu takkan pernah dapat satu mangkuk penuh.”
Pengemis itu terkejut. Dia bertanya mengapa, tapi tikus menjawab: “Aku juga tak tahu, pergilah tanya kepada Buddha.”
Maka pengemis itu pun bertekad: dia akan pergi ke Barat untuk bertanya langsung kepada Buddha.
Perjalanan dan Tiga Titipan Pertanyaan
Keesokan harinya, dia mulai perjalanan panjangnya. Dalam perjalanan, dia singgah di sebuah rumah bangsawan saat hari sudah gelap.
Setelah mengetahui tujuan sang pengemis, sang tuan rumah terkejut dan menitipkan pertanyaan: “Putriku sudah 16 tahun tetapi tidak bisa bicara. Bila kamu bertemu Buddha, tolong tanyakan sebabnya.”
Sebagai balasan, dia memberi bekal makanan dan uang kepada sang pengemis.
Pengemis melanjutkan perjalanan dan bertemu seorang biksu tua di sebuah kuil di pegunungan
Sang biksu berkata: “Aku sudah bertapa 500 tahun, seharusnya sudah bisa naik ke langit, tapi hingga kini masih terjebak di bumi. Tolong tanyakan pada Buddha… kenapa?”
Pengemis kembali berjanji.
Di tepi sungai besar, dia tidak menemukan perahu dan mulai putus asa.
Tiba-tiba seekor kura-kura raksasa muncul dan berkata: “Aku telah berlatih 1000 tahun, tapi masih belum bisa berubah menjadi naga. Bila kamu bersedia menanyakan ini pada Buddha, aku akan membawamu menyeberang.”
Pengemis pun naik ke punggung kura-kura dan perjalanan dilanjutkan.
Pertemuan dengan Buddha
Setelah perjalanan yang seolah tiada ujung, sang pengemis hampir menyerah. Dalam kelelahan, dia tertidur — dan Buddha tiba-tiba muncul di hadapannya.
Buddha berkata: “Aku mengizinkanmu bertanya tiga pertanyaan saja. Tidak lebih.”
Pengemis merenung — dia ingin menanyakan tentang nasibnya sendiri, tetapi akhirnya memilih mendahulukan pertanyaan demi orang lain.
- Mengapa kura-kura tidak bisa menjadi naga? → “Karena dia enggan melepaskan tempurungnya. Di dalamnya tersimpan 24 mutiara malam (夜明珠). Bila dia rela melepaskannya, dia akan langsung berubah menjadi naga.”
- Mengapa biksu tua tidak bisa naik ke surga? → “Karena dia masih terikat pada tongkat ajaibnya. Bila dia melepaskannya, dia akan terangkat ke langit saat itu juga.”
- Mengapa putri tuan rumah tidak bisa berbicara? → “Dia hanya akan berbicara ketika orang yang ditakdirkan menjadi jodohnya muncul di hadapannya.”
Setelah itu, Buddha menghilang sebelum si pengemis sempat bertanya tentang nasibnya sendiri.
Saat Kebajikan Kembali pada Pelakunya
Dalam perjalanan pulang, pengemis kembali menemui kura-kura. Setelah menjawab pertanyaan tadi, kura-kura langsung menanggalkan tempurungnya dan seketika berubah menjadi naga. Dia menghadiahkan tempurung berisi 24 mutiara malam kepada sang pengemis.
Bertemu biksu tua, dia menjelaskan jawaban Buddha. Biksu itu segera melepaskan tongkatnya — seketika naik ke langit, dan memberikan tongkat itu sebagai hadiah.
Tibalah dia kembali ke rumah bangsawan.
Baru saja menginjak halaman, seorang gadis cantik berlari keluar — dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berbicara: “Orang yang pergi bertanya kepada Buddha telah kembali!”
Sang tuan rumah menyadari bahwa dialah jodoh putrinya. Sesuai janji, gadis itu dinikahkan dengan sang pengemis — yang kini tak lagi miskin, karena membawa harta tanpa batas dari kebajikannya sendiri.
Pesan Moral
“Siapa yang memberi, dialah yang akan menerima. “Siapa yang menabur kebaikan, akan menuai berkah.”
Pengemis itu awalnya pergi untuk dirinya sendiri — tapi sepanjang jalan, dia lebih memilih mendahulukan urusan orang lain. Dan pada akhirnya, jawabannya datang bukan dari pertanyaan yang dia ajukan, tapi dari kebaikan yang dia lakukan.
Saat selesai membaca kisah ini, Anda hanya punya dua pilihan:
① Membiarkan kisah ini berhenti sampai di Anda.
② Atau membagikannya — dan membiarkan satu tindakan kecil menerangi jalan hidup orang lain.
Karena energi baik tidak pernah hilang — dia hanya menunggu menemukan jalan pulang.(jhn/yn)


