EtIndonesia. Sebuah perselisihan antar tetangga di Prancis semakin memanas setelah pengadilan menjatuhkan putusan yang dianggap tidak masuk akal. Pada awal tahun ini, pengadilan memutuskan bahwa seorang pemilik kucing harus membayar denda 1.250 euro (sekitar 1.445 dolar AS) karena kucingnya masuk ke taman tetangga dan “melakukan pelanggaran”. Kini, pemilik kucing tersebut kembali terancam denda baru sebesar 2.000 euro.
Menurut laporan Le Parisien pada 30 Oktober, pengadilan di Béziers, Departemen Hérault, Prancis selatan, sebelumnya telah menyatakan seekor kucing oranye bernama Rémi bersalah karena merusak properti tetangganya.
Pemilik kucing, Dominique Valdes, diwajibkan membayar 450 euro sebagai ganti rugi dan 800 euro biaya pengadilan, dengan tambahan denda 30 euro setiap kali Rémi melompati pagar.
Asosiasi Perlindungan Hewan Prancis (SPA) khawatir kasus ini bisa menjadi preseden hukum yang berbahaya. Putusan pada 17 Januari 2025 menyebutkan bahwa kucing Rémi meninggalkan bekas cakaran di dinding rumah tetangga, mengencingi selimut bulu angsa, dan buang air besar di taman, yang dianggap sebagai tindakan perusakan.
Namun, baru-baru ini, tetangga yang sama kembali melaporkan bahwa Rémi melompati pagar lagi, sehingga Valdes dipanggil ke pengadilan untuk kedua kalinya.
Pada Desember mendatang, guru berusia 64 tahun itu akan menghadapi tagihan baru sebesar 2.000 euro (sekitar 2.313 dolar AS), dan denda atas pelanggaran baru akan naik menjadi 150 euro setiap kali kucingnya menyeberang pagar.
“Ketika saya mendengar putusan itu, rasanya seperti disambar petir,” kata Valdes.
Ia mengatakan kasus ini menyebabkan tekanan fisik dan mental yang berat bagi dirinya dan kucingnya.
“Sejak keputusan itu, saya selalu mengurung Rémi di dalam rumah. Itu sangat sulit. Ia menjadi agresif, menyerang anjing saya. Untuk menenangkannya, saya memberinya lebih banyak makanan karena kalau tidak, dia akan terus mengeong. Sekarang berat badannya bertambah. Saya bahkan takut membiarkannya di taman, khawatir ia melompat pagar. Ini seperti hukuman rumah — penjara ganda bagi kami berdua.”
Valdes juga mengatakan kepada Le Parisien: “Dalam dokumen pengadilan setebal 90 halaman itu, tidak ada bukti kuat bahwa kerusakan disebabkan oleh Rémi. Ada seekor kucing oranye lain di sekitar, dan foto-foto dari tetangga itu sendiri menunjukkan banyak kucing lain sering melintasi tamannya.”
Sejumlah warga setempat pun menyatakan dukungan bagi Valdes dan kucingnya.
Warga bernama Azais Josian mengatakan kepada BFMTV: “Kucing itu memang sering berkeliaran, tapi dia membantu menangkap tikus di rumah saya. Tidak pernah mengganggu siapa pun. Ini benar-benar keterlaluan dan tidak masuk akal.”
Tetangga lain, Dominique dan Henri, menambahkan: “Jika sistem seperti ini terus dibiarkan, semua orang bisa kena imbasnya. Orang itu (pelapor) seperti menjadikan ini sumber uang. Ini juga membuka peluang bagi orang-orang yang tidak suka hewan untuk menyalahgunakannya.”
Menurut warga setempat, penggugat tersebut bahkan pernah diperingatkan oleh Komisi Nasional Informasi dan Kebebasan (CNIL) karena menggunakan terlalu banyak kamera pengawas untuk memantau rumah tetangga.
Asosiasi Perlindungan Hewan Prancis (SPA) menyatakan keprihatinannya.
Direkturnya, Guillaume Sanchez, berkata: “Kami belum pernah mendengar putusan seperti ini sebelumnya. Kucing rumahan — terutama yang tinggal di dalam rumah — secara naluriah suka menjelajah di sekitar wilayahnya.”
Ia memperingatkan bahwa jika kasus ini dijadikan preseden, jumlah adopsi hewan peliharaan bisa turun drastis: “Siapa yang mau mengadopsi hewan jika harus menghadapi risiko denda hanya karena hewannya berkeliaran di luar rumah?” katanya. (Hui/asr)
Laporan diterjemahkan oleh Jin Hong / Lin Qing


