Memancing — Hobi atau Kekejaman?



EtIndonesia. Memancing sering dianggap sebagai hobi yang menyenangkan.  Tetapi — pernahkah kita membayangkan bila kail tajam menembus bibir kita sendiri?  Rasa perih seperti diiris sembilu itu, mampukah kamu menahannya?  Bagi ikan, itulah kenyataan — bukan rekreasi.

Di Thailand, hiduplah seorang pegawai pemerintah bernama Lin Jia Chun. Dia sangat hobi memancing, bahkan jadi anggota klub memancing dan sering pergi ke laut setiap akhir pekan.

Mereka minum-minum, tertawa, dan segera memanggang ikan yang baru saja mereka tangkap — ikan itu masih hidup beberapa menit sebelumnya.

Beberapa sebelumnya klub itu sangat aktif.  Namun sejak tahun lalu, lebih dari 30 anggota menyusut menjadi hanya 7–8 orang. Bahkan Lin yang keras kepala dan tak percaya karma, tiba-tiba kehilangan selera untuk memancing.

Karena — dua peristiwa mengerikan terjadi berturut-turut.

Peristiwa Pertama — Ikan Membalas dalam Diam

Seorang anggota lama, sebut saja Aban, ikut menghadiri perayaan ulang tahun ibu mertuanya. Hidangan melimpah: daging, ayam, bebek, ikan besar — semuanya tersaji mewah.

Aban sangat suka bagian perut dan organ dalam ikan. Tanpa banyak mengunyah, dia langsung menelan besar-besaran.

Tiba-tiba — dia tersedak keras.

Tidak bisa telan, tidak bisa dikeluarkan. Dia megap-megap, mata terbeliak, wajah memucat — akhirnya meninggal di perjalanan menuju rumah sakit.

Saat autopsi, dokter menemukan ada KAIL PANCING dalam isi perut ikan yang tersangkut di tenggorokannya.

Semua yang melihat langsung gemetar. Baru tersadar: Aban selama ini adalah pemancing paling ganas di klub — dan kini dia “mati seperti seekor ikan menelan kail”.

Peristiwa Kedua — Mulut Membayar Karma yang Diperlakukan terhadap Mulut Ikan

Anggota lain, juara memancing dua kali, Mr. Yang, sangat suka memancing dan  balap motor.

Suatu malam sepulang dari acara duka, dia mengalami kecelakaan hebat. Dia selamat — tetapi seluruh gigi copot. Bibir dan rongga mulut hancur parah.

Berulang kali dijahit — tujuh kali operasi — tetap MELEPUS lagi.  Dokter bingung — lukanya tidak mau sembuh.

Sampai istrinya, tanpa sengaja, berkata:“Mulutmu sekarang persis seperti mulut ikan yang kena kail…”

Kalimat itu menghantam kesadarannya. Dia langsung teringat: berapa banyak mulut ikan yang pernah dia sobek dengan penuh kepuasan?

Keesokan harinya, dia pergi ke vihara, bersujud, bertobat, dan bersumpah tidak akan memancing lagi seumur hidup.

Ajaib. Sejak hari itu — lukanya langsung mulai mengering dan sembuh total hanya dalam seminggu.

Setelah kejadian itu, dia mengumpulkan seluruh anggota klub dan menceritakan pengalaman ini.

Sejak hari itu — hampir semua berhenti memancing. Klub pun bubar dengan sendirinya.

Refleksi

Kadang karma tidak menunggu sampai kehidupan berikutnya. Dia bisa datang saat ini juga — lewat jalur yang paling tepat sasaran.

Mungkin bukan kutukan — melainkan pengingat halus dari alam, bahwa rasa sakit makhluk hidup bukanlah hiburan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine