EtIndonesia. Penjelasan Mendalam dari Guru Besar Chan — “Karma Itu Saling Bertaut, Rumit dan kompleks”
Suatu hari, dalam perjalanan ke pegunungan, ada yang bertanya kepada seorang guru agung: “Mengapa di dunia ini sering terlihat orang baik justru tidak mendapat balasan baik?”
Sang guru menjawab pelan: “Hukum karma itu sangat rumit dan saling bertaut. Yang kita lihat hanyalah satu kehidupan ini saja. Andaikan kita punya mata batin dan bisa melihat sepuluh kehidupan, seratus kehidupan, atau bahkan masa lalu dan masa depan — kita akan menyadari bahwa hukum sebab-akibat itu sesungguhnya tidak pernah meleset.”
Lalu beliau menceritakan sebuah kisah yang pernah dia saksikan sendiri.
Kisah Nyata Seorang Pria Bermarga Li
Di Qingdao, ada seorang pria bermarga Li yang dulu sangat miskin. Dia bekerja sebagai pengelola rumah untuk seorang warga Jerman. Ketika perang besar pecah, orang Jerman itu harus pulang ke negerinya.
Dia berkata: “Jika aku kembali, perusahaan ini akan jadi milik kita berdua. Jika aku tidak kembali, semua ini menjadi milikmu.”
Dan benar — orang Jerman itu tak pernah kembali. Tiba-tiba saja, seluruh harta dan perusahaan jatuh sepenuhnya ke tangan si Li.
Namun kekayaan mendadak itu malah membuatnya menjadi sangat jahat. Karena merasa berkuasa dan kaya, dia bekerja sama dengan pejabat korup, menindas banyak orang. Warga Qingdao bahkan berusaha membunuhnya, hingga akhirnya dia melarikan diri ke Guangdong.
Perubahan yang Terlambat
Anehnya, setibanya di Guangdong, Li berubah. Mungkin karena menyadari dosa-dosa masa lalu, dia mulai hidup lurus, bahkan membeli beberapa kapal dan rajin berbuat amal serta menolong masyarakat.
Namun suatu hari, saat dia memeriksa kapalnya, dia terjatuh ke antara dua kapal yang saling berhimpitan. Tubuhnya terjepit dan hancur tanpa sisa.
Banyak orang yang berkata: “Lihat! Orang sejahat itu malah lolos dari balasan di Qingdao! Tidak ada hukum karma!”
Namun di Guangdong, sebaliknya, orang-orang marah: “Bagaimana bisa orang sebaik ini mati sekasar itu? Langit benar-benar tidak adil!”
Penjelasan Sang Guru
Sang guru berkata kepada muridnya: “Di Qingdao, pria ini memang sangat jahat. Karena itu, kejahatannya di Qingdao yang matang lebih dulu, dan maka dia menerima karmanya di Guangdong. Sedangkan kebajikannya yang dia lakukan di Guangdong belum waktunya berbuah — itu akan dia terima di kehidupan berikutnya.”
Inilah Hakikat Hukum Sebab-Akibat
- Segala kebaikan pasti berbuah kebaikan.
- Segala kejahatan pasti berbuah penderitaan.
- Jika belum berbuah, bukan berarti tidak ada — hanya karena waktunya belum tiba.
Karena dalam hidup satu manusia saja, hati kita bisa berubah sangat cepat:
▪️ Satu saat penuh welas asih seperti Bodhisattva,
▪️ Beberapa saat kemudian, tersulut amarah dan melontarkan kebencian.
Hati manusia tidak pernah tunggal — maka karma pun tidak sederhana.
Penutup
“Baik akan dibalas baik, jahat akan dibalas jahat. Jika belum terlihat balasannya, itu hanya karena waktunya belum tiba.”
Semua yang kita lakukan — sekecil apa pun — tidak hilang. Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali pada kita.(jhn/yn)


