EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, “sangat paham” apa yang akan terjadi jika ia memutuskan untuk menyerang Taiwan. Karena itu, topik mengenai Taiwan sama sekali tidak disebutkan dalam pertemuan bilateral antara Trump dan Xi di Korea Selatan.
“Dia tahu jawabannya. Kemarin dia sama sekali tidak menyinggung hal itu. Tidak sepatah kata pun,” kata Trump dalam wawancara dengan program televisi Amerika 60 Minutes pada 31 Oktober, sehari setelah pertemuan Trump–Xi. Cuplikan wawancara tersebut dirilis secara online pada 2 November.
Sebelumnya, beberapa media melaporkan bahwa menjelang perundingan dagang AS–Tiongkok, pihak Beijing menekan Washington agar mengubah sikapnya terkait Taiwan. Trump menyebut banyak pihak “sedikit terkejut” karena Xi sama sekali tidak membicarakan isu Taiwan.
“Dia tidak menyinggungnya sama sekali, karena dia tahu, dan dia sangat tahu,” ujar Trump.
“Xi Jinping telah secara terbuka mengatakan, begitu juga orang-orangnya dalam pertemuan itu, bahwa ‘selama Presiden Trump masih menjabat, kami tidak akan melakukan apa pun,’ karena mereka tahu konsekuensinya.”
Dalam masa jabatan keduanya, Trump berperan penting dalam mengakhiri sejumlah konflik internasional, termasuk antara Thailand dan Kamboja. Belum lama ini, ia menandatangani Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur bersama para pemimpin kedua negara tersebut.
Dalam wawancara itu, Trump menolak menjawab apakah Amerika Serikat akan membela Taiwan jika Tiongkok menyerang. Namun, ia menegaskan bahwa “pihak lawan juga tahu apa yang akan terjadi.”
Xi Jinping telah berulang kali menyatakan niatnya untuk “merebut kembali Taiwan.” Ia bahkan memerintahkan militer PKT agar siap secara penuh untuk merebut Taiwan sebelum tahun 2027.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan kekhawatirannya atas agresi militer Beijing di kawasan tersebut. Setelah bertemu dengan Menteri Pertahanan PKT Dong Jun pada 30 Oktober, Hegseth menulis di platform X:
“Saya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik, dan menyoroti kekhawatiran Amerika Serikat terhadap aktivitas PKT di Laut Tiongkok Selatan, sekitar Taiwan, serta terhadap sekutu dan mitra AS di wilayah Indo-Pasifik.”
Hegseth menambahkan, “Amerika Serikat tidak mencari konflik. Kami akan terus dengan tegas melindungi kepentingan nasional kami dan memastikan kami memiliki kemampuan untuk mempertahankannya di kawasan tersebut.”
Belakangan ini, Hegseth juga bertemu dengan pejabat tinggi pertahanan dari Vietnam, Jepang, India, dan Filipina untuk membahas isu keamanan regional, dengan fokus pada tindakan provokatif Tiongkok. (Hui)


