Asap Perang Menyelimuti Kota Red Army di Timur Ukraina, Warga Sipil Diperintahkan Evakuasi Darurat

EtIndonesia. Pada Selasa (4 November), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi garis depan di wilayah Donetsk, meninjau beberapa unit tempur, menganugerahkan medali kehormatan, dan memberi semangat kepada para prajurit untuk mempertahankan garis pertahanan. 

Situasi di Kota Red Army (Chervonoarmiisk) disebut sangat berat — bahkan telah terjadi pertempuran jalanan (perang kota). Pasukan Rusia terus menambah kekuatan dengan tujuan merebut kota strategis ini sebelum akhir tahun. Para analis memperingatkan, jika Red Army jatuh, moral pasukan Ukraina akan terpukul berat.

Presiden Zelensky menyatakan: “Kemuliaan bagi Ukraina!”

Dalam kunjungannya, Zelenskyy meninjau beberapa unit tempur di garis depan Donetsk, termasuk Brigade Lintas Udara Independen ke-25, yang saat ini bertugas mempertahankan daerah paling berbahaya — Red Army dan wilayah sekitarnya.

Video yang dirilis oleh militer Ukraina menunjukkan asap dan ledakan memenuhi seluruh kota, dengan serangan artileri yang datang gelombang demi gelombang.

Peta terbaru dari kelompok pemantau garis depan DeepState juga memperlihatkan bahwa pasukan Rusia terus maju lebih jauh ke dalam kota.

Saat ini, Rusia telah memusatkan pasukan dalam jumlah besar di dalam kota, sementara militer Ukraina berupaya keras memperkuat pertahanannya.
Meski berada di bawah tekanan besar, pihak Ukraina menegaskan bahwa belum ada satu pun area yang sepenuhnya jatuh ke tangan Rusia.

Sebelum perang, Kota Red Army memiliki sekitar 60.000 penduduk, namun kini sebagian besar warga telah melarikan diri. Seiring dengan memburuknya situasi di garis depan timur, penduduk kota dan desa di sekitar wilayah itu berada dalam bahaya besar dan harus segera dievakuasi.

Petugas polisi Ukraina berkata kepada warga: “Halo, kami datang untuk mengevakuasi tiga orang. Apakah kalian sudah siap?”

Seorang warga yang dievakuasi menjawab: “Terima kasih banyak, teman-teman.”

Perwira polisi Ukraina bernama Yujin menjelaskan: “Kami tidak mungkin masuk lagi ke Kota Red Army. Kami meminta warga berjalan kaki ke desa terdekat — kami akan menjemput mereka di sana.”

Kota Red Army terletak di bagian utara wilayah Donetsk, dengan luas sekitar 2.000 mil persegi, dan merupakan pusat logistik serta transportasi penting bagi Ukraina.

Bagi Rusia yang menargetkan penguasaan penuh atas kawasan Donbas, merebut kota ini merupakan langkah strategis utama.

“Red Army adalah kota yang penting. Menurut saya, Rusia belum berhasil meraih kemenangan besar di kota-kota kunci lainnya. Karena itu, merebut kota ini sebelum akhir 2025 akan menjadi pencapaian strategis yang sangat besar bagi mereka,” kata peneliti senior dari Institut Kebijakan Luar Negeri AS, Robert Lee. 

Namun para ahli menegaskan bahwa selama kota Sloviansk dan Kramatorsk masih berada di tangan Ukraina, Rusia belum akan mampu menguasai seluruh wilayah Donetsk.

Sementara itu, pada hari yang sama Uni Eropa menyetujui bantuan jangka panjang sebesar 1,8 miliar euro untuk Ukraina.  Jerman juga berencana meningkatkan bantuan keuangan tahun depan sekitar 3 miliar euro untuk membantu Kyiv menghadapi agresi Rusia.

Laporan oleh Yi Jing, NTD Television 

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine