EtIndonesia. Di dunia terapi, tema “penyesalan” itu besar dan sering muncul. Saat seseorang membicarakan keputusan keliru yang pernah dibuat, biasanya muncul kemarahan, kesedihan, kecewa, dan rasa menyalahkan diri sendiri. Mereka mengingat bagaimana pilihan itu tidak berjalan sesuai harapan, bagaimana rasa sakit muncul dari situ, dan sering kali merasa hidupnya hancur oleh tangannya sendiri. Sampai rasanya ingin meninju diri sendiri karena menyesal.
Bagi banyak orang, hidup terasa seperti sebuah labirin yang sudah ditentukan sebelumnya. Kita dilempar ke dalamnya tanpa peta. Ada belokan yang bisa membawa kita ke kebahagiaan, dan ada tikungan yang menghantarkan kita ke jalan buntu, atau bahkan ke jurang keputusasaan. Mereka merasa hidup yang indah seharusnya sudah menunggu, asalkan setiap langkah yang diambil tepat. Tapi jika salah langkah, atau kalau “kartu hidup” yang diterima jelek, maka kesempatan bahagia itu seolah hilang untuk selamanya.
Banyak pula yang percaya bahwa dalam setiap situasi selalu ada “pilihan benar” dan “pilihan salah.” Jika hasilnya sesuai harapan, mereka merasa itu bukti bahwa pilihan mereka benar. Kalau hasilnya buruk, berarti dulu mereka salah memilih. Hidup seperti kontes permainan: pilih Pintu 1 dapat tiket liburan ke Hawaii, pilih Pintu 2 cuma dapat kipas plastik murahan.
Masalahnya, cara berpikir seperti itu tidak benar.
Setiap pilihan yang kita buat pada dasarnya adalah keputusan terbaik yang bisa kita ambil pada saat itu berdasarkan pengalaman yang kita punya, informasi yang kita tahu, kondisi yang sedang kita jalani, dan harapan yang ada di hati kita. Saat kita mengambil keputusan, kita sedang berusaha menggunakan semua “kartu” yang ada di tangan untuk meraih hasil terbaik.
Setelah hidup berjalan, hasil pun muncul. Sebagian memang berasal dari keputusan kita, tapi sebagian lainnya muncul dari faktor kehidupan yang sifatnya tak terduga. Dunia ini penuh dengan variabel misterius yang terkadang jauh lebih kuat daripada niat dan usaha kita. Tidak ada skenario seperti: “Kamu gagal bahagia karena dulu salah pilih!” Versi “hidup yang sempurna” yang kita bayangkan sebenarnya hanya khayalan. Dunia yang kita pikir bisa terjadi “andai saja dulu aku memilih hal lain” itu pada dasarnya tidak pernah benar-benar ada.
Kita sering memisahkan diri kita, pilihan kita, dan hidup kita seolah itu tiga hal terpisah. Padahal semuanya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Setiap pilihan sedikit demi sedikit mengubah kita, membentuk siapa diri kita hari ini. Tiap langkah memberi tantangan dan pelajaran baru. Kadang tantangan lebih besar daripada hasil, kadang sebaliknya. Tapi apapun prosesnya, diri kita yang tumbuh dari perjalanan itu adalah satu-satunya versi diri yang bisa ada. Tidak ada dunia alternatif yang kita jalani. Tidak ada “aku yang lain” yang memilih lebih benar.
Karena itu, apa pun hasilnya, setiap keputusan yang pernah kamu ambil adalah keputusan yang benar untuk dirimu pada saat itu. Jika kamu berpikir dulu kamu “bisa saja memilih lain,” sebenarnya itu fantasi. Untuk bisa memilih berbeda, kamu harus menjadi orang yang berbeda pula: punya pengalaman lain, punya luka lain, punya perspektif lain. Tapi kamu bukan orang itu. Kamu sudah melakukan yang terbaik berdasarkan siapa dirimu saat itu.
Meski hasilnya pahit, masih tetap itu pilihan yang tepat untuk situasi dan versi dirimu waktu itu. Karena keputusan itu membawa pelajaran, membentuk kedewasaan, menciptakan pertumbuhan. Pengalaman itu adalah bagian dari perjalananmu yang sah.
Daripada terus terpaku pada pilihan yang sudah lewat, alihkan perhatian pada apa yang bisa kamu pelajari dan jalani sekarang. Ingat bahwa kebijaksanaanmu hari ini adalah kumpulan dari “keberhasilan” dan “kesalahan” yang kamu alami.
Daripada meratapi hidup yang kamu bayangkan, hadirkan dirimu penuh dalam hidup yang sedang terjadi. Sadari apa yang bisa kamu syukuri, apa yang ingin kamu ubah, dan pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari kondisi sekarang.
Daripada menghabiskan energi menyiksa diri, belajarlah memaafkan dirimu yang dulu. Ingat bahwa niatmu saat itu adalah membuat dirimu bahagia, meski hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Berdirilah di pihak dirimu sendiri. Jangan pukuli hatimu karena pilihan yang sudah lewat. Beri dirimu kebaikan, kelembutan, dan ruang untuk menghadapi kekecewaan, rasa sakit, dan segala hal yang datang dari kehidupan.
Satu hal yang pasti: kondisi kamu sekarang akan berubah. Hidup terus bergerak, karena pilihan kita dan karena dunia yang memang selalu berubah. Jadi jangan habiskan waktu menyesali masa lalu. Fokus pada saat ini. Masukkan kemampuan terbaikmu ke dalam langkah berikutnya, dengan hati yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh.
Berhenti membayangkan jalan yang tidak pernah ada. Jalani jalan yang sedang kamu pijak. Jalani hidupmu yang sebenarnya. Hidup ini ada pada saat ini, detik ini…(jhn/yn)


