Jalur Sutra Kutub Tiongkok Mencapai Inggris Melalui Koridor Arktik Rusia

Perjalanan dagang pertama Tiongkok lewat Rute Laut Utara Rusia memangkas waktu pengiriman ke Eropa hingga setengahnya—menandai babak baru dalam kerja sama antara Beijing dan Moskow.

Oleh Owen Evans

Sebuah kapal kontainer milik Tiongkok telah menyelesaikan pelayaran melalui wilayah Arktik menuju pelabuhan di Inggris, memangkas waktu tempuh ke Eropa hingga setengahnya, sekaligus menunjukkan penguatan aliansi antara Beijing dan Moskow.

Wilayah Arktik—yang dulunya dikenal karena salju tebal dan keterpencilan—kini menjadi ajang perebutan pengaruh baru. Mencairnya es memungkinkan waktu pelayaran antara Asia dan Kepulauan Inggris berkurang dari sekitar 40 hari menjadi hanya 18 hari.

Kapal Istanbul Bridge, sepanjang 965 kaki dan dioperasikan oleh perusahaan pelayaran Tiongkok Sea Legend, tiba di pelabuhan Felixstowe—pelabuhan kontainer terbesar di Inggris—pada 15 Oktober. Kapal itu menempuh jalur Northern Sea Route (Rute Laut Utara), koridor yang sepenuhnya melewati perairan Arktik di bawah kendali Rusia.
Ini merupakan jalur kontainer komersial reguler pertama yang melintasi kawasan tersebut.

Pada 2018, Tiongkok merilis buku putih “Polar Silk Road” sebagai bagian dari proyek infrastruktur global Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas Partai Komunis Tiongkok (PKT), dan menyebut dirinya sebagai “negara dekat Arktik.”

Tujuh tahun kemudian, kapal tersebut mengangkut sekitar 4.000 kontainer dari Zhoushan, dengan singgah di Jerman, Polandia, dan Belanda.

Kargo yang diangkut antara lain kendaraan listrik dan panel surya, menurut Reuters.

Para analis menilai pelayaran ini menunjukkan kemampuan Tiongkok yang kian besar dalam beroperasi di Arktik, sekaligus memperkuat ambisi PKT dan Rusia untuk mengalihkan jalur perdagangan dari pengawasan Barat.

Namun, sebagian pengamat menekankan bahwa kapasitas rute ini masih terbatas, karena ketergantungan pada kapal pemecah es Rusia untuk membuka jalur.


“Pengembangan Agresif”

Rute Laut Utara selama ini sulit dilalui karena lapisan es tebal yang menutupi wilayah itu hampir sepanjang tahun. Namun, kenaikan suhu global membuatnya kini terbuka untuk pelayaran musim panas.
Koridor sepanjang 3.700 mil itu membentang di pesisir utara Rusia di atas Samudra Arktik, menghubungkan Asia Timur dengan Eropa Utara sambil melewati titik-titik sempit maritim NATO.

Menurut perusahaan logistik Containerlift, Rusia memiliki rencana “pengembangan agresif” untuk menjadikan Rute Laut Utara jalur pelayaran sepanjang tahun, yang berpotensi mengubah peta perdagangan global.

Bulan lalu, Badan Nuklir Rusia Rosatom dan Kementerian Transportasi Tiongkok menandatangani perjanjian di Harbin, Tiongkok, untuk bersama-sama mengembangkan rute tersebut.

“Rusia melihat Rute Laut Utara sebagai jalur transportasi utama abad ke-21, yang mampu menyediakan koneksi antar-benua yang lebih cepat, efisien, dan aman,” ujar CEO Rosatom, Alexey Likhachev.

 “Keputusan yang diambil hari ini akan memberikan dorongan baru bagi kerja sama Rusia–Tiongkok dalam memanfaatkan potensi Rute Laut Utara dan membuka peluang untuk proyek-proyek besar di masa depan.”

Analis Eropa dan Rusia di Risk Intelligence, Kristian Bischoff, mengatakan kepada The Epoch Times melalui email:

“Langkah ini jelas memperkuat posisi Tiongkok sebagai pemain besar di kawasan Arktik, sekaligus memperlancar rantai pasokannya ke Eropa.”


Sanksi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 22 Oktober mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia, menargetkan dua perusahaan minyak terbesar negara itu, Rosneft dan Lukoil.

Bischoff menilai dampak luas sanksi itu “masih perlu waktu untuk terlihat.”
Menurutnya, Tiongkok kemungkinan tetap akan membeli minyak Rusia, namun akan menekan harga karena menghindari sanksi bukan hal murah. Ia menambahkan, Tiongkok kemungkinan harus mengorbankan modal politik demi tetap bisa membeli energi dari Rusia.

Dalam laporan tahun 2023, Bischoff menulis bahwa meskipun Rusia secara historis mendominasi Rute Laut Utara, posisi itu kini mulai digeser oleh kekuatan industri galangan kapal Tiongkok dan strategi Arktiknya yang agresif.

Ia menilai, kapal bayangan Rusia yang menua kemungkinan tidak mampu melintasi es, sehingga “Tiongkoklah yang akan menjaga arus ekspor minyak dari pelabuhan Arktik Rusia tetap berjalan.”
Rusia tengah membangun kapal pengangkut minyak dan LNG berkelas es, namun Tiongkok diperkirakan lebih maju dalam hal teknologi dan produksi.

Bischoff menambahkan bahwa Tiongkok juga berpeluang menekan harga energi, karena memiliki rantai pasokan dan kemampuan industri yang lebih mapan.
Ia menyimpulkan, selama sanksi Barat tidak sepenuhnya memblokir minyak Rusia masuk ke pasar, “dampaknya terhadap harga global tidak akan besar,” dan tujuannya hanya “membatasi pendapatan Rusia.”


Posisi Inggris

Dalam tulisan di majalah daring The Council on Geostrategy, peneliti Sari Arho Havren dari Royal United Services Institute menulis pada 10 Oktober bahwa Jalur Sutra Kutub PKT menegaskan pentingnya kawasan Arktik bagi Beijing dan London sebagai jalur perdagangan, keamanan, dan sumber daya strategis.

Namun, menurut Havren, ambisi Tiongkok di wilayah utara yang lebih luas justru mengancam kepentingan Inggris.

 Ia menyebut, upaya Tiongkok dan Rusia untuk mengomersialisasi kawasan Arktik menempatkan Inggris pada posisi sulit.

Sebagai anggota NATO, Inggris kini menghadapi rivalitas geopolitik dan militer yang meningkat di kawasan utara, yang dikenal sebagai titik panas persaingan kekuatan besar.

“Kerja sama Tiongkok–Rusia yang kian erat—terbukti dari lebih dari 100 latihan militer bersama dan dukungan Beijing terhadap invasi penuh Rusia ke Ukraina—menunjukkan kelemahan Inggris yang masih bergantung pada Tiongkok dalam perdagangan,” tulis Havren.


“Bukan Revolusi”

Menurut data Rosatom, pada tahun 2024 volume barang yang diangkut melalui Rute Laut Utara mencapai rekor 38 juta ton metrik, termasuk minyak dan gas alam cair (LNG).

Namun, mantan pejabat senior Direktorat Energi Uni Eropa, Samuel Furfari, menilai perkembangan ini “bukan revolusi geopolitik di sektor energi.”
Menurutnya, kerja sama Tiongkok–Rusia di jalur tersebut masih dalam tahap awal.

“Sebagian besar pasar gas tetap berada di Eropa selatan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Tiongkok sangat bergantung pada kapal pemecah es bertenaga nuklir Rusia, satu-satunya negara yang mampu memproduksinya.

“Ini mungkin awal dari perubahan, tetapi untuk benar-benar beralih, dibutuhkan lebih banyak kapal pemecah es. Tidak cukup satu kapal untuk setiap pengangkut LNG—dibutuhkan kerja besar untuk membangun infrastruktur itu,” katanya.

Ia menambahkan, sejauh ini rute tersebut masih terbatas bagi Tiongkok, dan tidak terlihat tanda-tanda Jepang, Korea Selatan, atau Malaysia akan mengikuti jalur serupa.

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine