Presiden AS Donald Trump berupaya memperluas Abraham Accords dengan tujuan melibatkan Arab Saudi dan Suriah.
oleh Jackson Richman & Joseph Lord
Kazakhstan akan bergabung dengan Abraham Accords, demikian dikonfirmasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (6/11/2025).
“Saya baru saja melakukan panggilan luar biasa antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev. Kazakhstan menjadi negara pertama di masa jabatan kedua saya yang bergabung dengan Abraham Accords, yang pertama dari banyak negara lainnya,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Langkah ini sebagian besar bersifat simbolis, karena Kazakhstan telah memiliki hubungan diplomatik penuh dengan Israel sejak 1992, tak lama setelah negara mayoritas Muslim itu keluar dari Uni Soviet. Kedutaan Israel berada di ibu kota Kazakhstan, Astana, sementara kedutaan Kazakhstan di Israel berada di Tel Aviv.
Trump mengatakan bahwa pengumuman ini menandai “langkah besar ke depan dalam membangun jembatan di seluruh dunia.”
“Hari ini, semakin banyak negara yang berbaris untuk merangkul perdamaian dan kemakmuran melalui Abraham Accords saya,” katanya.
Presiden itu menambahkan bahwa tanggal dan waktu untuk upacara penandatanganan guna mengesahkan perjanjian tersebut akan segera diumumkan.
“Ada banyak negara lain yang berusaha bergabung dengan klub KEKUATAN ini. Masih banyak yang akan datang dalam menyatukan negara-negara demi stabilitas dan pertumbuhan—kemajuan nyata, hasil nyata,” tulis Trump.
Pengumuman Trump di Truth Social muncul tak lama sebelum ia menjamu makan malam di Gedung Putih dengan beberapa pejabat Asia Tengah, termasuk Tokayev.
Tokayev mengucapkan terima kasih kepada Trump karena telah menjadi tuan rumah pertemuan itu, dan menyebutnya sebagai awal dari “era baru kerja sama antara Amerika Serikat dan Asia Tengah.”
Kazakhstan kini bergabung dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko sebagai penandatangan perjanjian yang dibentuk pada tahun 2020 itu.
Utusan khusus AS Steve Witkoff telah memberi bocoran mengenai pengumuman ini saat konferensi di Miami pada 6 November.
“Abraham Accords—malam ini saya akan terbang kembali ke Washington karena kami akan mengumumkan malam ini satu negara lagi,” katanya tanpa menyebutkan nama negara tersebut.
Berbicara di Gedung Putih pada Kamis, Trump mengatakan bahwa ia berharap dapat terus memperluas daftar penandatangan Abraham Accords, yang menurutnya kini “sangat diminati.”
“Kami akan segera mengumumkan beberapa negara penting yang akan bergabung,” tambahnya, meski tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Upaya Trump untuk memperluas Abraham Accords terus berlanjut, dengan Arab Saudi dan Suriah sebagai target utama presiden.
Arab Saudi telah menyatakan hanya akan bergabung dengan Abraham Accords jika Israel berkomitmen pada solusi dua negara bagi konflik Israel–Palestina, yang selama ini ditolak Israel dengan alasan keamanan nasional.
Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman dijadwalkan berkunjung ke Gedung Putih pada 18 November.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga bertemu dengan Tokayev pada 6 November.
“[Keduanya] membahas perluasan peluang perdagangan dan investasi komersial serta peningkatan kerja sama dengan Kazakhstan di bidang energi, teknologi, dan infrastruktur,” menurut pernyataan dari Departemen Luar Negeri AS.
Tokayev sebelumnya bertemu dengan Amir Ohana, Ketua Parlemen Israel (Knesset), pada 8 April untuk membahas peluang ekonomi dan investasi, termasuk kerja sama di bidang air.
Netanyahu mengunjungi Kazakhstan pada tahun 2016, menjadi perdana menteri Israel pertama yang melakukannya.
Lebih dari 25 persen pembelian minyak Israel berasal dari Kazakhstan.
Komunitas Yahudi di Amerika Serikat menyambut baik pengumuman tersebut.
“Saya menyambut baik keputusan Kazakhstan untuk bergabung dengan Abraham Accords. Saya bangga telah membahas inisiatif ini dengan Presiden Tokayev dalam beberapa pertemuan kami di Astana,” kata Rabbi Marc Schneier, presiden Foundation for Ethnic Understanding, dalam sebuah pernyataan.
“Dengan bergabungnya Kazakhstan ke Abraham Accords, betapa ironisnya bahwa satu lagi negara mayoritas Muslim secara terbuka menunjukkan dukungannya terhadap solusi dua negara, sementara Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani, menolak mengakui hak Israel untuk eksis sebagai negara Yahudi yang demokratis,” kata Schneier. “Ia harus naik ke kereta perdamaian sebelum sejarah meninggalkannya.”


