Ketika Kurir Makanan di Tiongkok Juga Diperlakukan Secara Tidak Adil

EtIndonesia. Ekonomi Tiongkok yang terus memburuk membuat suasana “musim dingin lapangan kerja” menyelimuti seluruh masyarakat. Industri pengantaran makanan menjadi “jalan keluar terakhir” bagi banyak orang. 

Sejumlah anak muda, bahkan mantan pemilik perusahaan, berbondong-bondong bergabung. Namun, di balik pekerjaan yang tampak fleksibel ini, tersembunyi eksploitasi dan keputusasaan. Para kurir makanan berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.

Keributan di Shijiazhuang: Kurir Tusuk Kepala Pos Setelah Upahnya Dipotong

Beredar sebuah video warga berteriak di lokasi: “Cepat ke rumah sakit! Panggil 110!”

Pada 4 November, insiden penusukan yang melibatkan kurir di Shijiazhuang, Provinsi Hebei, mengejutkan publik. Para kurir setempat mengungkapkan bahwa korban telah dipotong upahnya. Saat ia mencoba berdiskusi dengan kepala pos (pengawas), justru dipukuli — membuatnya marah dan menusuk sang kepala pos dengan pisau buah.

“Dulu setiap pesanan dibayar 5 yuan, tapi setelah ia keluar kerja, sisa pembayarannya tinggal 1 yuan per pesanan — dipotong 80%,” ujar seorang kurir di Hebei, Tuan Wang. 

Seorang penyiar daring menambahkan: “Banyak kurir bilang 80% kepala pos memotong gaji mereka tanpa alasan. Selain itu, mereka harus memberi hadiah, rokok, dan macam-macam lainnya. Ini benar-benar gelap!”

Sistem “Kepala Pos” yang Eksploitatif

Seorang kurir di Xi’an juga mengungkapkan bahwa sistem pengantaran makanan dijalankan dengan sistem kontrak “kepala pos”. Kepala pos memiliki kekuasaan atas pembagian pesanan. Siapa pun yang tidak menuruti akan didenda atau dipotong gajinya, sementara yang memberikan “hadiah” akan mendapat pesanan yang lebih ringan.

“Kepala pos kami punya 30 kurir. Setiap kurir memberinya sebatang rokok. Kalau hubungan kami baik, ia tidak akan memberi saya pesanan jauh atau yang harus naik tangga tinggi. Kepala pos itu seperti ‘pemimpin kecil’, karena ada keuntungan pribadi di sana,” tutur Tuan Wang, kurir di Xi’an. 

Kurir Juga Sering Jadi Korban Kekerasan

Selain dari kepala pos, para kurir sering kali ditindas dan dipukuli oleh satpam atau orang-orang sekitar.

“Kami sering dipotong gaji tanpa alasan. Banyak dari kami bekerja begini karena tidak punya kekuasaan atau sumber daya untuk melindungi hak kami,” ujar tuan Liu, kurir dari Tianjin. 

Mantan Pemilik Usaha, Lulusan Universitas, dan Ibu Rumah Tangga Turut Jadi Kurir

Meski keras, jumlah kurir terus bertambah. Banyak lulusan universitas, mantan pengusaha, bahkan ibu dengan anak kecil, bergabung dalam pekerjaan berisiko tinggi ini.

“Mengantar makanan itu tidak mudah. Lebih baik istirahat atau cari kerja lain seperti satpam. Ini pekerjaan berbahaya — benar-benar berisiko tinggi,” ujar Nyonya Chen, kurir dari Shenzhen. 

Chen dulunya pemilik toko pakaian, tetapi setelah tokonya tutup, ia beralih menjadi kurir.

“Saya tidak pernah libur, terus bekerja tanpa henti. Saya lelah dan sakit seluruh tubuh. Dalam seminggu bisa dapat 2.500 yuan, tapi bulan lalu saja saya habiskan 1.500 yuan hanya untuk memperbaiki sepeda motor. Sungguh menyedihkan.”

Pekerjaan Berat, Pendapatan Rendah, dan Persaingan Sengit

Banyak kurir perempuan mengatakan pekerjaan ini sangat “terlalu padat” dan membuat mereka hanya bisa “berjuang untuk bertahan hidup.”

Nyonya Huang, 19 tahun, kurir di Guangzhou: “Ada batasan usia, hanya 18 sampai 45 tahun. Kalau sudah tua, mereka tidak mau, karena dianggap tidak aman. Saya kerja 8–9 jam sehari, dapat sekitar 20–30 pesanan, pendapatan sekitar 200 yuan.”

Nyonya Zhao, 30 tahun, dari Suzhou, Anhui, bekerja untuk menafkahi keluarga dan membayar cicilan rumah. Ia mulai jadi kurir sejak Agustus dan sudah turun berat badan 3,5 kilogram dalam 3 bulan.

“Saya hanya antar di sekitar rumah, paling dapat 10 pesanan sehari, sekitar 50–60 yuan. Yang kuat bisa dapat 200–300 yuan per hari. Kalau sebulan 6.000 yuan pun masih kena potongan pajak,” katanya. 

Zhao menambahkan, banyak wanita di daerahnya juga jadi kurir. Salah satunya bekerja di siang hari dan lanjut mengantar makanan dari pukul 10 malam sampai jam 3 atau 4 pagi.

Seorang mahasiswi, Nona Ma dari Hubei, juga jadi kurir untuk membayar biaya kuliah.

“Terlalu sulit! Saya tidak bisa tidur dengan baik, hidup sangat berat! Mengantar makanan itu tidak mudah, harus naik banyak tangga dan sering kena marah. Kadang saya terjebak di gang buntu berjam-jam.”

Kelelahan dan Tragedi

Karena persaingan yang makin ketat dan beban kerja ekstrem, kecelakaan kerja sering terjadi. Pada paruh pertama tahun ini, sejumlah kurir dilaporkan meninggal mendadak di Shanghai, Chongqing, Guizhou, dan Sichuan. Pada 2 November, seorang kurir di Hunan bunuh diri dengan melompat ke sungai.

“Sekarang, seluruh masyarakat sedang dilanda musim dingin lapangan kerja. Banyak anak muda yang tidak mau kerja pabrik memilih jadi kurir. Orang paruh baya yang gagal bisnis atau di-PHK memilih mengemudi taksi daring. Karena banyak yang masuk, perusahaan tidak kekurangan tenaga, jadi harga per pesanan malah turun drastis,” tutur seorang kurir lain mengatakan dengan nada pasrah. (Hui/asr)

 Li Yun/Xiong Bin/Wang Mingyu – NTD

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine