Baru-baru ini, lebih dari seratus tenaga medis di sebuah rumah sakit di Kunming, Yunnan, Tiongkok bekerja selama 16 jam untuk menyelesaikan 31 operasi pengambilan dan transplantasi organ manusia.
Kepala Departemen Bedah rumah sakit itu bahkan menyatakan bahwa 31 operasi bukanlah rekor tertinggi mereka — pernyataan yang memicu kehebohan publik dan pertanyaan tajam: “Organ-organ itu milik siapa?”
EtIndonesia. Laporan media pemerintah “Harian Kunming” menyebutkan sebelum pukul 08.00 pagi pada 6 November 2025, ruang operasi Rumah Sakit Rakyat Pertama Kunming sudah terang benderang. Hari itu, lebih dari 100 tenaga medis dari lebih 30 departemen rumah sakit tersebut melaksanakan 31 operasi pengambilan dan transplantasi organ manusia.
Menurut penjelasan Zhao Yingpeng, Kepala Bedah Hepatobilier (hati, empedu, pankreas) di rumah sakit cabang utara, operasi-operasi itu meliputi:
- 4 pengambilan kornea dan 4 transplantasi kornea
- 2 pengambilan meniskus lutut
- 2 pengambilan hati, 2 perbaikan hati, dan 2 transplantasi hati
- 4 pengambilan ginjal, 4 perbaikan ginjal, dan 4 transplantasi ginjal
- 2 pengambilan jantung
- 1 pengambilan paru-paru
Terkait asal organ, Zhao menyatakan bahwa “dua pendonor organ berusia muda, keduanya mengalami kematian otak akibat kecelakaan,” dan menyebut mereka sebagai ‘pahlawan tanpa nama’. Namun, dalam video wawancara, Zhao terlihat terus-menerus berkedip, menimbulkan kesan gugup di kalangan penonton.
Zhao juga menambahkan bahwa 31 operasi transplantasi itu bukan rekor tertinggi rumah sakit tersebut, dan bahwa para staf medis dari berbagai departemen telah bersiap selama seminggu sebelumnya untuk menjalankan operasi massal itu.
Di media sosial Tiongkok, gelombang kecurigaan publik pun meledak, dengan komentar-komentar seperti:
“Kok bisa dua orang meninggal dengan cara yang sama di waktu bersamaan?”
“Kecelakaan seperti apa? Tolong dijelaskan agar orang tidak berspekulasi.”
“Terlalu banyak ‘kecelakaan’ — kalian sendiri tahu kenapa.”
“Kenapa semuanya anak muda?”
“Pahlawan tanpa nama atau korban pencurian organ?”
Beberapa netizen menulis dengan sarkastik: “Overdosis anestesi juga bisa disebut ‘kecelakaan’.”
Banyak netizen menyebut penggunaan istilah “pahlawan tanpa nama” justru menambah ketakutan publik:
“Kalau benar mereka pahlawan, kenapa tanpa nama?”
“Pahlawan seharusnya dikenal, bukan disembunyikan.”
“Kalau tidak disebutkan nama dan alamat, bisa jadi ruang gelap untuk penyalahgunaan.”
“Lagi-lagi ada 31 orang ‘Li XX’ yang bangkit kembali.”
Sebagian netizen berkomentar menulis :
“Kalau yang ditangkap di jalanan, ya jelas tanpa nama.”
“Nama mereka tidak boleh diumumkan — karena sensitif.”
“Ini bisnis besar yang mengerikan kalau dipikir dalam-dalam.”
Bahkan ada yang mengingatkan: “Kalau rumah sakitnya punya helikopter, jangan ke sana.”
Menurut laporan, sejak 2013, Rumah Sakit Rakyat Pertama Kunming membentuk Organ Procurement Organization (OPO) atau Organisasi Pengadaan Organ Manusia, dan menciptakan model kerja “5+1” dan “6+n”, menjadikannya salah satu “unit efisiensi medis unggulan” di seluruh Tiongkok.
Pada 2021, rumah sakit ini memimpin pembentukan Organisasi Pengadaan Organ Gabungan Provinsi Yunnan (YNopo), yang bekerja sama dengan Palang Merah, kepolisian, dinas sosial, keuangan, dan 14 lembaga pemerintah lainnya.
Pada 2024, organisasi ini mencatat 35 kasus “donasi organ”, meningkat 78,72% dibanding 2023. Total organ besar yang diambil sebanyak 132 buah, dengan 117 di antaranya ditransplantasikan, serta 60 kornea dan 197 tendon yang diambil.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus anak muda yang hilang di Tiongkok meningkat tajam, sementara banyak juga anak muda yang dinyatakan “mati otak” setelah masuk rumah sakit karena penyakit ringan, sehingga publik menaruh kecurigaan kuat terhadap praktik pengambilan organ secara paksa.
Dr. Huang Qianfeng, Wakil Ketua dan Juru Bicara Asosiasi Internasional Peduli Transplantasi Organ Taiwan, mengatakan kepada Epoch Times bahwa menurut Laporan Putih Populasi Hilang Tahun 2020 yang diterbitkan pemerintah Tiongkok, jumlah orang hilang mencapai 1 juta, termasuk lebih dari 200.000 anak dan remaja.
Ia menambahkan, di saat masalah hilangnya anak muda makin serius, pemerintah Tiongkok justru gencar memperluas industri transplantasi organ. Contohnya, penerapan Peraturan tentang Donasi dan Transplantasi Organ Manusia pada 1 Mei 2024, pendirian Pusat Transplantasi Organ Anak di Universitas Kedokteran Fudan, Shanghai, serta promosi besar-besaran donasi organ di sekolah-sekolah dan pemeriksaan kesehatan massal di kampus — semua ini menimbulkan kekhawatiran.
Menurut Huang, legalisasi transplantasi organ di Tiongkok mungkin hanya bersifat formalitas, berfungsi sebagai “topeng hukum” untuk menutupi praktik ilegal dan terorganisir. Ia menegaskan bahwa banyak formulir donasi organ dipalsukan, sementara propaganda resmi hanya menonjolkan keberhasilan transplantasi tanpa menyebut asal organ donor, membuat para orang tua khawatir akan keselamatan anak-anak mereka.
Media luar negeri juga mengungkap bahwa dalam 22 hari di Oktober saja, lebih dari 107 orang dilaporkan hilang di Tiongkok, sebagian besar adalah anak-anak, bahkan ada yang baru berusia 5 tahun. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


