Pasar properti Tiongkok tengah runtuh. Harga rumah jatuh di seluruh negeri, hampir tak ada pembeli. Menghadapi tekanan besar untuk mengurangi stok perumahan yang menumpuk, Shanghai baru-baru ini memperkenalkan kebijakan baru berupa “kupon rumah” di kawasan pusat kota yang dulunya bernilai sangat tinggi, sementara Hangzhou meluncurkan promosi di mana pembeli rumah bisa mendapatkan voucher konsumsi senilai RMB.100.000 (Rp 234 juta). Namun, para analis menilai, langkah-langkah ini hanyalah “jebakan besar” bagi calon pembeli rumah.
Beredar video seorang pembawa acara siaran langsung dari Tiongkok berkata: “Pasar properti di seluruh negeri sedang jatuh, dan di Shanghai pun sama — semua harga turun.”
EtIndonesia. Selama beberapa tahun terakhir, pasar perumahan di berbagai wilayah Tiongkok mengalami keruntuhan total — rumah tak laku dijual, tak laku disewa. Sebagai kota andalan ekonomi Tiongkok, Shanghai pun tak bisa menghindar dari nasib serupa.
“Sekarang rumah di Shanghai benar-benar sepi. Rumah bekas sudah dipasang di pasar setengah tahun, tetap tak laku dijual. Harganya langsung terpangkas separuh. Bahkan warga tua Shanghai pun kebingungan,” ujar seorang veteran industri properti Shanghai dikutip NTD, Senin (10/11/2025).
Warga Shanghai lainnya menambahkan: “Yang jatuh lebih cepat dari penyelam adalah harga rumah di Shanghai. Apartemen mewah dengan pemandangan Sungai Huangpu di Lujiazui, Pudong, anjlok 73%.”
Untuk mengatasi tekanan besar dari stok yang menumpuk, pemerintah Shanghai kini memperluas kebijakan “penebusan rumah dengan kupon ” di banyak distrik. Dalam proyek renovasi kawasan lama di Jiangnan Xincun, Distrik Xuhui, pemerintah bahkan menambahkan insentif berupa “hadiah kupon rumah.”
Kupon rumah ini pada dasarnya adalah voucher atau subsidi pembelian properti, yang hanya dapat digunakan untuk membeli rumah. Kebijakan ini dianggap sebagai cara halus pemerintah memaksa warga yang digusur untuk membeli rumah baru, bukan menerima kompensasi uang tunai.
Sebelumnya, kebijakan “kupon rumah” ini hanya berlaku di pinggiran kota Shanghai seperti Jinshan dan Jiading, dan hanya bisa digunakan di distrik yang sama.
Analis menilai, alasan mengapa kawasan pusat kota seperti Xuhui juga menerapkan kebijakan ini, adalah karena rumah sudah tak laku terjual, sehingga pemerintah berusaha mendorong masyarakat untuk membeli.
“Dulu kalau mau beli rumah, Anda harus bayar dengan uang sungguhan. Sekarang karena stok rumah di Shanghai luar biasa besar, pemerintah memberikan ‘kupon rumah’ agar stok bisa dikurangi. Tapi pada akhirnya, yang dipengaruhi tetaplah keseimbangan antara penawaran dan permintaan,” kata seorang agen properti Shanghai, Ny. Zhang.
Ia menambahkan bahwa meski kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan permintaan dan menekan stok, dampaknya terhadap daya beli masyarakat tidak signifikan.
“Kalau kuponnya besar, misalnya disubsidi 20.000 yuan per meter persegi, tentu pasar akan bangkit seketika. Tapi pada dasarnya, ini hanya upaya pemerintah Shanghai mengeluarkan uang dari anggaran untuk menstabilkan harga dan menjaga keseimbangan pasar,” ujar Ny. Zhang.
Faktanya, sejak tahun 2022, lebih dari 20 kota termasuk Zhengzhou (Henan), Nanjing (Jiangsu), dan Wenzhou (Zhejiang) telah lebih dulu meluncurkan kebijakan “kupon rumah”. Namun kebijakan ini pada dasarnya merampas hak warga yang digusur untuk mengelola kompensasi mereka sendiri, karena uang ganti rugi dikunci ke dalam aset properti.
“Kami melihat banyak proyek baru mulai menurunkan harga. Beberapa pengembang bahkan memberi diskon hingga 20%. Saat peluncuran tahap awal, mereka bisa klaim ‘habis terjual’, tapi begitu tahap selanjutnya dibuka, rumah tak laku lagi,” kata Agen properti lain di Shanghai, Tn. Wang.
Demi mendorong masyarakat membeli rumah, pada Agustus lalu, pemerintah Shanghai juga mengeluarkan “Enam Aturan Shanghai” yang melonggarkan pembatasan pembelian: pembeli di kawasan luar lingkar luar kota kini boleh membeli beberapa unit, dan orang dewasa lajang boleh membeli hingga dua unit rumah.
Namun, efeknya tetap minim.
Seorang warga Shanghai mengeluh: “Sekarang susah sekali menjual rumah! Tahun lalu, rumah baru di distrik Huangpu yang dulu bisa untung 10 juta yuan lewat undian, sekarang sudah setengah tahun dijual rugi pun tak ada yang mau.”
Menurut pengamatan pasar, harga rumah di wilayah luar dan pinggiran kota Shanghai turun 40% atau lebih, mencerminkan tekanan berat pada stok dan likuiditas.
Agen properti Shanghai lainnya mengatakan: “Jumlah rumah bekas yang terdaftar untuk dijual sudah menembus 300.000 unit. Hanya dalam September saja, bertambah lebih dari 20.000 unit baru. Saking banyaknya, agen properti sendiri sudah kewalahan menjual.”
Sementara itu, pemerintah Hangzhou di Provinsi Zhejiang juga meluncurkan kebijakan promosi untuk pasar properti. Di distrik Fuyang, Lin’an, Tonglu, Chun’an, dan Jiande, pembeli rumah baru akan mendapat voucher konsumsi senilai 100.000 yuan.
Namun, total dana untuk program voucher ini hanya 20 juta yuan, sehingga hanya sekitar 200 orang pembeli yang bisa mendapatkannya.
“Kalau memang berencana beli rumah dalam waktu dekat, jangan lewatkan kesempatan ini. Secara sederhana, kalau kamu tidak ambil voucher, kamu kehilangan 100.000 yuan. Harga rumah tetap sama, tapi dengan voucher, rasanya seperti dapat diskon 100.000 yuan,” jelas seorang agen properti Hangzhou, Tuan. Wu.
Namun, analis di daratan Tiongkok memperingatkan bahwa kebijakan ini sebenarnya adalah jebakan besar:
“Pemerintah ingin warga terjun ke pasar properti sebagai ‘tameng hidup’ untuk menyerap stok besar rumah yang belum terjual, agar pengembang bisa mendapatkan kembali uangnya. Dengan begitu, pengembang bisa terus membeli tanah baru, dan pemerintah kota Hangzhou bisa tetap bertahan hidup lewat ‘pendapatan dari tanah,” demikian ujarnya. (Hui)
Li Yun | Xiong Bin | Guo Jing – NTDTV.com


