EtIndonesia. Empat puluh tahun lalu, pada suatu malam musim dingin, di sebuah rumah keluarga penambang di Jerman selatan, seorang penambang muda bernama Brecht duduk berhadapan dengan istrinya. Keduanya hanya terdiam di bawah cahaya lampu.
Setelah lama diam, Brecht berkata pelan : “Semuanya akan baik-baik saja. Besok aku turun ke bawah tambang.”
Istrinya tersenyum cerah dan menjawab : “Semoga berhasil!”
Keesokan paginya, Brecht dan istrinya berpelukan sebentar sebelum dia pergi.
Istrinya memanggil dari belakang: “Apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama!”
Menjelang siang, tiba-tiba muncul kabar mengerikan: terjadi runtuhan di tambang. Begitu mendengar, sang istri langsung berlari menuju lokasi. Ada 13 penambang yang tertimbun di bawah tanah—termasuk Brecht.
Para keluarga penambang menangis, berteriak, dan berdoa. Beberapa jam kemudian, kabel komunikasi mengabarkan berita: 12 orang telah ditemukan, mereka terjebak tetapi selamat. Hanya Brecht yang tidak bisa dihubungi.
Di tengah sorak-sorai keluarga para penambang lain, dia justru jatuh terduduk, pikirannya kosong.
Selang beberapa waktu, dia merangkak menuju mulut tambang dan berteriak dengan sekuat tenaga: “Kamu harus bertahan! Demi masa depan kita, kamu tidak boleh mati!”
Terkurung dalam Kegelapan 600 Meter di Bawah Tanah
Saat tambang runtuh, Brecht panik dan berlari ke arah yang salah, terpisah dari rekan-rekannya.
Dia akhirnya terjebak di sebuah ruang sempit—sendirian, dikelilingi kegelapan pekat.
Di kedalaman 600 meter, dia terkurung, sulit bernapas, lapar, dan dalam kesunyian yang menakutkan. Tiga belas jam berlalu, kesadarannya mulai memudar. Dia hampir tertidur—tanda tubuhnya sudah menyerah.
Namun tepat ketika tubuhnya ingin menyerah, seperti dalam mimpi, dia mendengar suara kecil, jauh, tetapi sangat familiar: “Kamu harus bertahan! Kamu harus hidup! Semuanya akan baik-baik saja!”
Itulah suara istrinya.
Tiba-tiba rasa kantuknya hilang. Di kegelapan itu, dia mendengarkan suara itu—satu-satunya suara yang membuatnya tetap hidup.
Sementara itu, jauh di atas tanah, istrinya benar-benar masih berdiri di mulut tambang, terus meneriakkan kata-kata itu. Orang-orang mencoba menenangkannya, tetapi dia percaya bahwa suara cintanya pasti akan sampai ke suaminya.
Proses penyelamatan sangat sulit dan lambat. Karena keterlambatan penanganan, 12 penambang yang sebelumnya hidup akhirnya meninggal ketika berhasil diangkat ke permukaan.
Hanya Brecht yang istrinya terus panggil, hanya Brecht yang tanpa henti mendengar suara cinta itu, dan hanya Brecht yang pada hari ke-6 akhirnya berhasil diselamatkan.
Ketika dia membuka mata untuk pertama kali, kalimat pertama yang keluar adalah: “Aku bisa bertahan hidup dalam gelap dan dingin ini… semua karena suara lembut istriku.”
Ketika Dunia Menyisakan Satu Suara
Orang-orang menyebut ini sebagai keajaiban kehidupan. Namun kebenarannya jauh lebih dalam— ini adalah keajaiban cinta.
Selama pasangan itu memiliki satu sama lain, hidup mereka akan kembali baik-baik saja. Karena sekalipun dunia suram, miskin, sulit, atau hancur.
Jika masih ada satu suara yang memanggilmu, satu suara yang mencintaimu, maka itulah alasan untuk tetap hidup.
Jika hatimu masih mengandung cinta kasih, bahkan di titik paling gelap, kamu tetap bisa menciptakan keajaiban. (jhn/yn)


