Investor Asing Pesimistis terhadap Prospek Ekonomi Tiongkok — FDI Kuartal Ketiga Turun Separuh dari Kuartal Sebelumnya

Data resmi terbaru dari pemerintahan partai komunis Tiongkok menunjukkan bahwa investasi langsung asing (FDI) ke Tiongkok pada kuartal ketiga tahun ini turun sekitar 50% dibandingkan kuartal kedua. Data ini menandakan bahwa investor asing semakin pesimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Tiongkok

EtIndonesia. Badan Administrasi Valuta Asing Tiongkok (SAFE) pada 7 November merilis data neraca pembayaran internasional untuk kuartal ketiga dan sembilan bulan pertama tahun 2025.

Data tersebut menunjukkan bahwa FDI bersih yang masuk ke Tiongkok pada kuartal ketiga hanya sebesar 8,5 miliar dolar AS, turun 51% dibanding kuartal sebelumnya, dan merosot 92% dibanding puncaknya pada kuartal pertama tahun 2022.

Penurunan tajam ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus melemah, sehingga minat berinvestasi pun turun drastis.

Dalam dua tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus mengalami perlambatan, dengan permintaan domestik yang lemah, kepercayaan konsumen menurun, serta tekanan deflasi yang tinggi. Ditambah lagi, perang tarif antara AS dan Tiongkok memperburuk situasi, menyebabkan investasi asing di Tiongkok terus menyusut.

Menurut laporan “China Business Report 2025” yang diterbitkan Kamar Dagang Amerika di Shanghai (AmCham Shanghai) pada 10 September, hanya 41% perusahaan AS di Tiongkok yang optimistis terhadap prospek bisnis lima tahun ke depan, angka ini menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.

Perusahaan asing yang sudah membuka cabang atau gerai di Tiongkok juga mengalami penurunan pendapatan, akibat lesunya ekonomi, turunnya daya beli masyarakat, dan persaingan ketat dengan perusahaan lokal. Karena laba yang terus menurun bahkan mengalami kerugian, banyak perusahaan asing menutup gerai mereka di berbagai kota besar Tiongkok, menjual sebagian besar saham bisnisnya, atau sepenuhnya hengkang dari pasar Tiongkok.

Contoh terbaru adalah Burger King, merek restoran cepat saji multinasional asal Amerika Serikat, yang pada 10 November malam mengumumkan penjualan 83% saham bisnisnya di Tiongkok (“Burger King China”) kepada perusahaan investasi Tiongkok CPE Yuanfeng.
Perusahaan induknya, Restaurant Brands International (RBI), kini hanya mempertahankan 17% saham.

Sebelumnya, Starbucks, jaringan kopi raksasa asal Amerika Serikat, juga baru saja mengumumkan pada 3 November bahwa mereka akan menjual 60% saham bisnisnya di Tiongkok kepada Boyi Capital, sebuah dana investasi asal Tiongkok.

Selain itu, Kamar Dagang Jepang di Tiongkok melakukan survei pada Juli tahun ini. Dari hasilnya, 43% perusahaan Jepang di Tiongkok menyatakan akan mengurangi investasinya tahun ini dibanding tahun lalu, atau bahkan tidak akan berinvestasi sama sekali.

Sementara itu, hanya 16% responden yang menjawab akan “meningkatkan” atau “meningkatkan secara signifikan” investasi mereka di Tiongkok; sisanya mengatakan belum menentukan sikap. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine