Bagaimana Membangun Masyarakat yang Harmonis dan Tanpa Pertikaian



EtIndonesia.
Seiring meningkatnya pendidikan dan budaya manusia, orang modern semakin memperhatikan kualitas hidup. Semua berharap dapat hidup dengan harmonis, bahagia, dan penuh kedamaian. Namun manusia hidup dalam kelompok sosial—dan di dalamnya selalu ada hak dan kewajiban, menerima dan memberi. Bila seseorang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, maka masalah hidupnya akan terus bertambah tanpa batas.

Sumber masalah dalam hidup sangat banyak. Di dalam keluarga, suami dan istri mungkin memiliki karakter yang berbeda—bagaimana mereka bisa saling memahami?

Di masyarakat, pekerja dan pengusaha, petani dan buruh industri, semuanya memiliki posisi dan kepentingan yang tidak sama—bagaimana caranya agar bisa hidup berdampingan dan saling menguatkan?

Dalam dunia politik, partai-partai memiliki kepentingan berbeda—bagaimana mereka tetap bisa mengutamakan rakyat dan negara?

Karena setiap orang memiliki posisi dan keuntungan yang berbeda, jika kita tidak pernah mencoba melihat dari sudut pandang orang lain, maka “masyarakat harmonis dan tanpa pertikaian” hanya akan menjadi slogan kosong.

Lalu, bagaimana menciptakan masyarakat yang benar-benar harmonis?

1. Melepaskan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan batin

Mayoritas orang mudah timbul sifat serakah ketika melihat keuntungan. Ketika sesuatu tidak sesuai keinginan, amarah pun muncul.

Jika setiap orang hanya menuntut hak pribadinya, maka perselisihan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat akan semakin banyak dan sulit diselesaikan. Karena itu, langkah pertama untuk membangun masyarakat tanpa pertikaian adalah melepaskan keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan.

2. Belajar mengembangkan sikap welas asih, sukacita, dan kemurahan hati

Kaya atau miskin adalah bagian dari perjalanan masing-masing orang. Namun ketika melihat mereka yang kekurangan, kita harus menolong. Ketika melihat mereka yang terkena bencana, kita perlu membantu mereka bangkit.

Dengan membantu orang melepaskan penderitaannya dan meraih kembali kebahagiaan, barulah masyarakat bisa menjadi lebih hangat dan harmonis.

3. Selalu memiliki hati yang penuh rasa syukur

 Bersyukur kepada orangtua yang telah membesarkan kita.
Bersyukur kepada guru yang membimbing kita.
Bersyukur kepada sahabat yang mendukung kita.
Bersyukur kepada negara yang melindungi hak-hak rakyat.
Bersyukur kepada semua profesi yang bekerja keras sehingga kita bisa menikmati makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan hiburan.

Karena hati yang penuh rasa syukur tidak mudah memperhitungkan, tidak mudah menuntut, dan lebih mudah memberi. Dari rasa syukur, muncullah kehidupan tanpa pertikaian.

Akhirnya, semua pilihan kembali kepada kita

Segala hal di dunia memiliki dua sisi:
— sisi gelap berupa kekhawatiran dan masalah,
— dan sisi terang berupa kedamaian dan kebahagiaan.

Jika kita hanya fokus pada sisi gelap—pada masalah dan keuntungan pribadi—kita tidak akan pernah melihat cahaya.

Untuk melepaskan kegelisahan, kita harus melepaskan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Untuk mendapatkan kedamaian, kita harus belajar penuh welas asih, penuh sukacita, dan murah hati.

Hanya dengan dasar welas asih dan kemurahan hati, barulah masyarakat yang lembut, baik, dan penuh rasa syukur bisa lahir.

Dan hanya ketika orang hidup dengan rasa syukur dan tanpa mementingkan diri sendiri, dunia tanpa pertikaian—yang penuh keharmonisan—benar-benar dapat terwujud. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine