Gadis Kecil yang Membuka Pintu


EtIndonesia. Saat pertama kali membaca kisah ini, mataku pun berkaca-kaca. Jujur saja, banyak orang yang saat menolong sesama tidak pernah berharap imbalan apa pun. Namun kehidupan sering kali membuktikan: kebaikan akan selalu kembali, entah cepat atau lambat.

Ada seorang pemuda miskin yang sedang berjuang mencari uang untuk biaya kuliahnya. Dia pergi ke kota lain dan berjalan dari rumah ke rumah, berjualan barang. Karena hidupnya pas-pasan, dia jarang makan dengan layak. Hingga suatu hari, rasa lapar membuat perutnya benar-benar tak tahan lagi.

Dengan sedikit ragu, dia memutuskan untuk mengetuk pintu salah satu rumah, berniat meminta sedikit makanan.

Pintu itu dibuka oleh seorang gadis kecil. Melihat wajah mungil yang polos itu, pemuda itu tiba-tiba kehilangan keberaniannya. Dia merasa malu—bagaimana mungkin seorang pria muda meminta makan pada seorang anak kecil?

Akhirnya dia hanya berkata pelan : “Bisakah aku minta segelas air putih saja?”

Gadis kecil itu memperhatikannya sejenak. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa pemuda di hadapannya sangat lapar.

Tanpa banyak bicara, dia kembali ke dalam rumah, lalu keluar sambil membawa segelas air hangat dan beberapa potong roti.

Pemuda itu tertegun sejenak, lalu segera menerimanya dan memakannya dengan lahap. Gadis kecil itu berdiri di samping sambil tersenyum, melihat caranya makan dengan rasa iba yang bercampur geli.

Selesai makan, pemuda itu berkata dengan tulus: “Terima kasih banyak… aku harus membayarmu berapa untuk ini?”

Gadis kecil itu tersenyum : “Tidak perlu. Di rumah kami masih banyak roti seperti ini.”

Pemuda itu terdiam, menatap wajah polos gadis kecil itu. Hatinya hangat—karena di kota asing, di tengah kesulitan, dia masih bisa merasakan kebaikan seorang manusia.

Bertahun-tahun telah berlalu. Gadis kecil itu tumbuh menjadi seorang wanita muda. Namun suatu hari, dia jatuh sakit parah, menderita penyakit langka yang tak seorang pun dokter di daerahnya bisa sembuhkan.

Keluarganya putus asa, hingga mendengar kabar tentang seorang dokter terkenal di rumah sakit besar. Mereka segera membawanya ke sana, berharap masih ada harapan.

Sang dokter bekerja keras, memberikan perawatan intensif selama berbulan-bulan. Perlahan, kondisi wanita muda itu membaik, hingga akhirnya dia sembuh total.

Hari kepulangan pun tiba. Perawat menyerahkan tagihan biaya pengobatan kepadanya. Dia menatap amplop itu lama sekali, tangan gemetar. Dia tahu jumlahnya pasti sangat besar—mungkin butuh seumur hidup bekerja keras untuk melunasinya.

Akhirnya, dengan napas berat, dia memberanikan diri untuk membuka amplop itu. Namun saat matanya sampai di bagian bawah kertas, dia tertegun. 

Di kolom tanda tangan dokter, tertulis sebuah kalimat pendek: “Satu gelas air dan beberapa potong roti sudah cukup untuk membayar semuanya.”

Air matanya pun mengalir. Dia akhirnya sadar—dokter yang menolongnya selama ini adalah pemuda yang dulu pernah dia beri makan.

Makna Kehidupan:

Kebaikan tak pernah hilang di tengah jalan. Dia mungkin tersesat sebentar, tapi suatu hari akan menemukanmu kembali—dalam bentuk yang lebih indah, lebih besar, dan lebih hangat.

Jangan pernah meremehkan satu tindakan kecil yang tulus, karena bagi seseorang di luar sana, itu bisa menjadi cahaya yang menyelamatkan hidup. 

Dan mungkin, suatu hari nanti, kebaikan itu akan datang lagi mengetuk pintumu—dengan senyuman yang sama hangatnya. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine