EtIndonesia. Alkisah pada dahulu kala, hiduplah seorang biksu tua yang ingin membangun sebuah kuil. Untuk itu, dia berkeliling mencari dana. Hari demi hari dia duduk di sudut pasar sambil melantunkan sutra. Tiga bulan berlalu, namun tidak ada seorang pun yang menghiraukannya.
Suatu hari, seorang anak laki-laki penjual kue melihat keadaan itu. Dia merasa iba dan berkata dalam hati: “Biksu tua itu sangat kasihan. Aku akan memberikan seluruh uang hasil jualanku kepadanya.”
Keesokan harinya, dia benar-benar menyerahkan seluruh uang yang dia dapat kepada sang biksu tua. Ketika warga kota mendengar hal itu, mereka merasa sangat malu. Banyak yang berkata dalam hati: “Bahkan seorang anak kecil saja tahu tergerak untuk berbuat baik dan menabur kebajikan. Masa kita tidak bisa?”
Akhirnya, seluruh warga ikut menyumbang, dan tak lama kemudian terkumpullah dana yang cukup untuk membangun kuil tersebut.
Biksu tua itu sangat berterima kasih kepada si anak. Dengan penuh kasih dia berkata: “Nak, hari ini kamu telah melakukan suatu kebajikan besar. Jika suatu hari kamu menghadapi kesulitan, datanglah ke kuil dan carilah aku.”
Anak itu mengangguk dengan gembira, lalu pulang.
Namun setibanya di tempat kerjanya, dia pulang dengan tangan kosong. Pemilik toko memarahinya habis-habisan dan mengusirnya. Sejak itu dia hidup sebagai gelandangan, mengemis untuk makan, sering kelaparan. Dia kemudian terserang penyakit kulit kuning yang sangat menyiksa, bahkan akhirnya kehilangan penglihatannya. Hidupnya benar-benar jatuh ke dalam penderitaan.
Pada puncak keputusasaannya, dia teringat kepada biksu tua itu. Dengan susah payah dia pergi menuju kuil. Saat itu, sang biksu telah mencapai tingkat pencerahan dan memiliki kemampuan batin.
Dia sudah mengetahui bahwa anak itu akan datang. Maka dia pun memerintahkan para biksu: “Besok akan datang seorang *pelindung besar* bagi kuil ini. Kalian harus menyambutnya dengan penuh hormat. Jangan sampai ada yang bersikap lalai.”
Keesokan harinya semua biksu bersiap menyambut dengan megah. Namun sampai malam tiba, tak ada tanda-tanda kedatangan pelindung besar tersebut.
Salah satu biksu pun bertanya: “Guru, mengapa pelindung besar tidak datang?”
Sang biksu tua balik bertanya dengan serius : “Apakah benar tidak ada seorang pun yang datang hari ini?”
Para biksu menjawab: “Ada seorang pengemis kecil datang, tetapi takut dia mengacaukan acara penyambutan, jadi kami hanya memberinya beberapa roti kukus lalu mengusirnya.”
Mendengar itu, sang biksu tua terbelalak, : “Dialah pelindung besar yang kumaksud! Cepat kejar dia!”
Anak itu yang buta berjalan sangat pelan. Tak lama kemudian para biksu berhasil menyusulnya dan membawa pulang ke kuil. Mereka mempersiapkan tempat tidur dan makanan untuk merawatnya. Namun di luar dugaan, malam itu saat dia pergi ke tempat pembuangan, dia terpeleset dan jatuh ke kolam kotoran lalu meninggal.
Semua orang terkejut dan marah: “Anak itu sudah berbuat baik, tetapi justru mati dengan cara seperti itu. Mana mungkin ada hukum karma?!”
Keesokan harinya, biksu tua mengumpulkan para umat dan menjelaskan hukum karma tiga kehidupan.
Dia berkata:
“Dalam kehidupan lampaunya, anak itu telah melakukan banyak perbuatan buruk. Dia harus menerima tiga kali akibat buruk untuk menebusnya: kehidupan pertama menderita penyakit kulit kuning yang sangat menyakitkan; kehidupan kedua kehilangan penglihatan; kehidupan ketiga mengalami kematian yang tragis. Tetapi karena pada kehidupan pertamanya dia tergerak berbuat baik—memberi sedekah dan menabur kebajikan—maka langit mengizinkan tiga karma buruk itu dibayar dalam satu kehidupan saja. Dua kehidupan berikutnya dia tidak perlu lagi menderita. Sekarang dia telah terlahir kembali di sebuah keluarga kaya raya. Itulah kebenaran karma. Dia nyata dan tidak keliru.”
Seorang yang bersungguh-sungguh menapaki jalan kebajikan, memupuk pahala, tetapi tetap mengalami banyak penderitaan, bukan berarti perbuatannya sia-sia. Itu karena hutang karma masa lalu belum lunas, sehingga ia harus menyelesaikan semua beban itu sebelum menikmati buah kebaikan.
Sebaliknya, ada orang yang berbuat jahat namun hidup mulia dan bergelimang kemewahan. Itu karena ia masih menikmati pahala besar dari kehidupan sebelumnya. Setelah pahala itu habis, barulah dia harus menanggung akibat perbuatan buruk di kehidupan ini.
**Kebaikan dan kejahatan selalu membawa akibat. Karma itu nyata.**
Maka kita harus menjaga niat yang baik, melakukan perbuatan yang baik, dan menjauhi pikiran serta perbuatan buruk—agar kita bisa menciptakan masa depan yang lebih terang bagi diri sendiri. (jhn/yn)


