EtIndonesia. Sebuah acara lelang di negara bagian New York, Amerika Serikat, menarik perhatian para kolektor dan peserta lelang dari seluruh dunia. Di antara barang-barang bernilai tinggi yang dipamerkan, ada seorang gadis kecil bernama Alice yang akan melelang setetes air mata.
Satu tetes air mata—apa mungkin memiliki nilai? Semua orang merasa heran. Bahkan ada yang mencemooh, menuduh bahwa hal seperti itu tak pantas berada di acara lelang bergengsi.
Pukul delapan pagi, para kolektor dan pembeli dari berbagai negara mulai memasuki ruangan. Di bagian belakang kerumunan, seorang anak perempuan berusia 8 tahun berjalan perlahan sambil memeluk sebuah kotak kristal hitam.
Ketika palu lelang berdentum, satu demi satu karya seni mahal terjual dengan harga tinggi.
- Sebuah cermin perunggu dari Yuanmingyuan laku 200.000 dolar.
- Sebuah lukisan tentang Long March karya seniman Tiongkok terjual 1 juta dolar.
- Yang paling mencuri perhatian, sebuah pedang perunggu Yunani kuno, terjual dengan harga mengejutkan: 5 juta dolar.
Namun acara puncak hari itu adalah giliran Alice.
Dia membuka kotak kecil itu perlahan. Dengan bantuan proyektor, tampaklah setetes air mata bening, bergulir memantulkan cahaya.
Seketika terdengar teriakan dari kerumunan: “Gila! Setetes air mata mau dilelang? Ini penipu! Keluar dari sini!”
Alice menarik napas, berusaha menenangkan diri.
Dia berkata dengan suara sedikit bergetar namun tegas: “Tolong beri saya satu menit saja.
Dengarlah kisah di balik tetes air mata ini—saya yakin Anda akan mengerti.”
Alice menekan tombol.
Di layar muncul gambar seekor Burung Perkici Spix—parrot biru kecil yang sangat langka.
“Ini adalah satu dari delapan Burung Perkici Spix terakhir di dunia,” ujar Alice dengan suara berat.
“Mereka hidup di timur laut Brasil. Saya dan kakek sudah mengikuti mereka selama tiga tahun.”
Suasana mulai hening.
“Namun setengah bulan lalu, sekelompok pemburu masuk ke sana. Burung-burung yang tak bersalah itu ditembak mati satu per satu. Ketika saya dan kakek mencoba menghentikan mereka, kakek terluka parah.”
Alice menahan tangis.
“Tetes air mata ini… adalah air mata terakhir seekor Perkici Spix yang sedang sekarat.”
Kerumunan menjadi sunyi.
“Sebelum meninggal, kakek berkata: ‘Alice, kamu tahu tidak? Setiap Perkici Spix adalah malaikat kecil. Jika kamu menjaganya, kamu akan mendapatkan kebahagiaan dan mimpi.’”
Mimpi yang Tersisa
Alice kembali menekan tombol. Kini layar menampilkan hutan hijau, burung-burung terbang, suara alam yang damai.
Alice berkata dengan penuh perasaan: “Ini adalah mimpi saya dan kakek. Sekarang dia sudah pergi… Saya berharap seseorang bisa membantu saya mewujudkan mimpi itu. Kakek selalu bilang, melindungi bumi berarti melindungi diri kita sendiri.”
Ruangan lelang mendadak begitu hening—seolah semua suara menghilang.
Lalu tiba-tiba, seseorang berdiri dan berkata lantang: “Saya tawar 1 juta dolar untuk setetes air mata itu. Alice benar—jika bumi hanya menyisakan manusia, itu adalah akhir dunia.”
Tak lama setelah itu, seorang CEO perusahaan multinasional menawar 2 juta dolar dan memenangkan lelang tersebut.
Dia berjanji:
— akan membangun taman konservasi Spix’s Macaw,
— dan menggunakan teknologi kloning modern untuk menghidupkan kembali populasi burung langka tersebut.
Satu Tetes Air Mata yang Mengubah Dunia
Majalah terkenal TIME menulis laporan panjang tentang acara lelang itu, dan memberikan pujian: “Dengan setetes air mata seekor Spix’s Macaw, Alice telah menyelamatkan seluruh umat manusia.”
Karena melindungi satu spesies berarti melindungi keseimbangan ekosistem, dan pada akhirnya—melindungi masa depan manusia sendiri.(jhn/yn)


