EtIndonesia. Pada 11 November 2025, media resmi PKT(yang dikendalikan Partai Komunis) menerbitkan laporan hasil “penyelidikan resmi” terkait kasus anak “liar” di Yunnan. Namun, laporan tersebut segera memicu gelombang keraguan publik. Netizen menunjukkan bahwa anak yang disebut dalam laporan dengan nama samaran “Pingping” sama sekali bukan anak yang sebelumnya muncul dalam video “anak liar” yang viral — bahkan diduga adalah anak lain sama sekali, dan nama aslinya juga berhasil diungkap.
Setelah laporan itu dirilis, banyak pengguna internet langsung menolak mentah-mentah versi resmi tersebut. Mereka menilai, dari bentuk tubuh, gerakan, rambut, hingga ekspresi wajah, anak yang muncul di video “anak liar” dan anak bernama “Pingping” dalam laporan resmi jelas bukan orang yang sama.
Seorang netizen yang mengaku mengenal anak dalam video laporan itu menyebut bahwa nama aslinya adalah Xue Yuhang (薛宇航), dan keluarganya menjalankan usaha penginapan (homestay) di daerah Yunnan.
Unggahan-unggahan dengan tagar seperti “Anak palsu Xue Yuhang”, “Nama asli Pingping ternyata Xue Yuhang”, “Halo Xue Yuhang, semoga nanti kau tahu bahwa dirimu pernah dijadikan alat propaganda”, hingga “Anak-anak memang tidak bersalah, tapi ada orang-orang yang pantas dihukum” pun ramai beredar di media sosial.
“Menyebut Rusa Sebagai Kuda” Jadi Bahan Sindiran Nasional
Laporan media resmi tersebut menimbulkan gelombang sindiran dan kemarahan publik. Di internet, frasa klasik “menyebut rusa sebagai kuda” (指鹿为马) — yang berarti memutarbalikkan kebenaran — mendadak viral dan menjadi simbol ketidakpercayaan terhadap versi pemerintah.
Beberapa komentar warganet:
- “Mereka sedang memainkan permainan ‘menyebut rusa sebagai kuda’, mengganti seluruh kenyataan hidup seseorang dengan kebohongan.”
- “Ternyata kebohongan bisa dibuat terlihat seperti kebenaran; tragedi bisa disulap jadi kisah penuh kasih sayang.”
- “Hari ini aku akhirnya paham arti ‘menyebut rusa sebagai kuda’. Anak yang dua minggu lalu bahkan tak bisa bicara, sekarang sudah bisa berbicara lancar!”
- “Sebulan menunggu, dan hasilnya cuma: menyebut rusa sebagai kuda.”
- “Mereka bilang ini nasi, terserah kau mau percaya atau tidak.”
Karena laporan itu terlalu absurd, sejumlah netizen justru menyindir wartawan yang menulis berita tersebut sebagai ‘wartawan berhati nurani’ — sebab dengan menulis berita penuh kontradiksi dan kebohongan yang begitu mencolok, mereka justru membuat publik semakin sadar akan adanya penutupan fakta dan memperluas ruang diskusi publik.
Komentar lain yang penuh sarkasme berbunyi:“Sangat disarankan agar di Dali didirikan pusat pelatihan resmi untuk ‘melatih anak-anak manja agar berperilaku seperti anjing’! Harus dibuka secara publik, terstandar, dan transparan! Ajak keluarga dari seluruh negeri untuk ikut serta dalam ‘acara merangkak telanjang anak-anak di Dali’. Ini akan mendorong pariwisata dan ekonomi lokal, bahkan bisa jadi ikon dunia — pelatihan manusia menjadi anjing edisi pertama di dunia! Sangat layak untuk diteliti dan ditiru!”
Laporan gabungan oleh Li Li / Zheng Yu – NTDTV.com


