Menilai Budi Pekerti Seseorang dari Sepasang Sumpit

EtIndonesia. Suatu hari penulis makan bersama seorang teman. Kebetulan ayah datang menjengukku, jadi penulis mengajaknya untuk makan bersama.

Ayah adalah orang yang pendiam. Saat makan, ia hanya duduk tenang dan mendengarkan kami mengobrol.
Namun dalam perjalanan pulang, ayah berkata,
“Temanmu itu… tidak bisa dijadikan sahabat dekat.”

Penulis terkejut. Teman ini kukenal lewat urusan bisnis, sudah beberapa kali bekerja sama, dan kesanku selama ini cukup baik.

Ayah lalu menjelaskan,
“Dari cara seseorang makan, kita bisa melihat sedikit banyak siapa dia. Temanmu itu punya kebiasaan aneh: setiap kali mengambil lauk, ia selalu membalik-membalik bagian bawah piring, mengaduk-aduk dengan sumpitnya, baru kemudian mengambil. Apalagi kalau ia suka lauk itu—dia seperti memakai sumpit sebagai spatula, mengaduk seluruh isi piring seperti sedang menumis ulang.”

Penulis mencoba membela,
“Setiap orang punya kebiasaan makan yang berbeda. Ada yang makan pelan, ada yang cepat. Kita tidak bisa menilai terlalu keras.”

Ayah menggeleng,
“Jika orang itu hidup dalam kemiskinan dan tiba-tiba melihat banyak makanan lezat, mungkin dia gugup dan cara makannya kurang rapi—itu bisa dimaklumi.
Tapi temanmu bukan orang susah. Hidupnya cukup. Kalau dia tetap makan seperti itu, hanya ada satu penjelasan: ia orang yang egois dan sempit hati.

Menghadapi sepiring lauk saja ia tidak bisa memikirkan orang lain—bagaimana dengan urusan keuntungan? Kalau suatu hari ada hal yang menggiurkan, ia pasti akan merebutnya tanpa peduli siapa pun.”


Kisah Kecil Ayah

Ayah lalu bercerita tentang masa kecilnya.
Saat ayah berusia lima tahun, kakek meninggal dunia. Ia dan nenek menjalani hidup yang sangat sulit. Seringkali mereka kelaparan.

Jika pergi ke rumah kerabat, nenek selalu berulang kali mengingatkan:
“Nak, nanti saat makan jangan asal serobot makanan yang kamu suka. Kita memang miskin, tapi tidak boleh kehilangan sopan santun. Orang akan menghina kita jika makan tanpa etika.”

Nasihat itu ayah simpan seumur hidup.
Bahkan ketika menghadapi meja penuh hidangan lezat, ia tetap menahan diri dan menjaga perilaku.


Besarnya Makna Sebatang Sumpit

Di akhir cerita, ayah berkata dengan sangat dalam:

“Jangan remehkan sepasang sumpit. Dari kebiasaan kecil itu saja, terlihat bagaimana budi pekerti seseorang.”

Beberapa waktu kemudian, terbukti:
Teman yang dimaksud ayah benar-benar meninggalkan kami demi keuntungan kecil—tanpa ragu, tanpa rasa malu.

Sejak itu aku selalu mengingat nasihat ayah:

Hidup penuh dengan godaan; kendalikan keinginanmu.
Hal-hal yang baik jangan hanya untuk diri sendiri—belajarlah berbagi.
Memperbaiki kualitas diri bisa dimulai dari cara kita memegang dan menggunakan sepasang sumpit. (Jhon)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine