Pesan Terakhir Istri untuk Suaminya

EtIndonesia. Pada hari pernikahan mereka, sang istri menggunakan uang yang seharusnya untuk membeli cincin, lalu membelikannya sebuah ponsel.

Malam itu, mereka berdua bersembunyi di bawah selimut, berulang kali mengatur nada dering ponsel itu.

Mereka merasa hidup seperti nada dering itu—nyaring, indah, penuh harapan dan impian.

Sejak hari itu, sang suami sering menerima telepon dari istrinya:

“Sayang, pulang kerja belikan sedikit sayur, ya.”
“Sayang, aku kangen kamu. Aku cinta kamu.”
“Sayang, malam ini kita makan di rumah Mama.”

Setiap panggilan membuat hatinya hangat.

Suatu hari, ia lupa mengisi daya ponselnya.
Kebetulan ia harus menemani atasannya ke kunjungan kerja dan pulang larut malam.
Saat membuka pintu, ia melihat istrinya menangis sampai matanya bengkak.

Ternyata sejak waktu ia biasanya pulang, sang istri menelepon setiap lima belas menit.
Nomornya tidak bisa dihubungi karena ponselnya mati.
Ia semakin cemas dan menelepon tiap sepuluh menit—hingga suami membuka pintu, tepat setelah ia meletakkan telepon.

Sang suami menganggap istrinya terlalu berlebihan.
“Aku kan bukan anak kecil. Apa yang bisa terjadi?”
Namun istrinya berkata ia punya firasat buruk—jika suaminya tak mengangkat telepon, rasanya seolah ia tak akan kembali lagi.
Ia hanya tersenyum, mengelus kepala istrinya, “Dasar bodoh…”
Sejak itu ia tak pernah lupa mengisi daya ponsel.


Janji Sebuah Cincin

Beberapa tahun kemudian, ketika penghasilannya sudah membaik, ia teringat cincin yang dulu tidak ia belikan untuk istrinya.
Dengan bersemangat ia mengajaknya ke pusat perbelanjaan.

Namun istrinya malah ragu dan berkata:

“Apa gunanya cincin mahal? Belikan aku ponsel saja.
Biar kita bisa lebih sering berkomunikasi.”

Akhirnya ia membelikan istrinya sebuah ponsel baru.
Malam itu, satu di kamar tidur, satu di ruang tamu, mereka saling mengirim pesan sambil tertawa-tawa—seperti sepasang kekasih baru.


Malam yang Mengubah Segalanya

Suatu malam ia bermain kartu bersama teman-temannya.
Istrinya menelepon:

“Kamu di mana? Kenapa belum pulang?”
“Di rumah teman, main kartu.”
“Kapan pulang?”
“Nanti.”

Hujan turun deras.
Istrinya menelepon lagi:

“Kamu di mana? Sedang apa? Pulanglah cepat!”
“Kan sudah kubilang aku di rumah teman! Hujan begini bagaimana aku pulang?”
“Kamu bilang saja di mana. Aku jemput kamu!”
“Tidak perlu!”

Teman-temannya mengejeknya “takut istri”.
Tersulut emosi, ia mematikan ponselnya.

Pagi hari, ia sudah kalah habis-habisan.
Temannya mengantarnya pulang.
Begitu sampai, pintu rumah terkunci.
Istrinya tidak ada.

Saat itu telepon rumah berdering.
Ibu mertuanya menangis di ujung telepon:

“Semalam dia keluar rumah, hujan deras, naik sepeda sambil membawa payung, mencari kamu dari satu rumah teman ke rumah teman lainnya…
Di jalan… dia kecelakaan…
Dan… dia tidak pernah bangun lagi…”

Tangannya bergetar.
Ia menyalakan ponselnya.
Ada satu pesan belum terbaca:

“Kamu lupa ya? Hari ini ulang tahun pernikahan kita.
Aku pergi mencarimu, jangan kemana-mana, aku bawa payung.”

Ia membaca pesan itu berulang kali.
Malam itu, ia tidak hanya kehilangan istrinya—
ia kehilangan seluruh dunianya.


Penyesalan yang Tak Berujung

Sudah tiga bulan istrinya pergi.
Ia masih seperti hidup dalam mimpi buruk.
Ia tidak mau bekerja, tidak punya semangat, dan berkali-kali terpikir ingin menyusul istrinya.


Pesan dari Kisah Ini

Pelajaran penting dari cerita ini hanya satu: hargailah orang yang mencintaimu.
Jangan sampai orang yang selalu mengkhawatirkanmu justru terluka karenamu.
Jangan menunggu hingga kehilangan baru sadar betapa berharganya ia.

Jika cerita ini menyentuhmu,
bagikanlah kepada orang lain—
biarkan lebih banyak orang belajar untuk menghargai. (Jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine