Ada Kalanya, Kebenaran Itu Tidak Penting

 EtIndonesia. Saat melakukan perjalanan dinas ke luar kota, aku menginap di rumah seorang sahabat. Di sana, aku melihat bahwa dia memiliki seorang mertua yang sangat teliti namun cukup cerewet—tapi anehnya, hubungan mereka justru sangat harmonis.

Malam itu, kami makan camilan larut malam di warung kaki lima. Sesampainya di rumah, sahabatku mengambil dua kotak susu segar dan memberikan satu padaku. 

Baru saja akan kuminum, tiba-tiba ibunya berseru :  “Cepat makan sesuatu dulu! Tidak boleh minum susu saat perut kosong!”

Aku langsung merasa heran—bahkan sedikit kesal. Kami baru saja makan banyak di luar! Sahabatku sepertinya membaca pikiranku. Dia memberi isyarat kecil, lalu mengambil sepotong roti, merobek sedikit untukku dan sedikit untuk dirinya. Setelah melihat kami memasukkan setengah gigitan roti ke mulut, sang nenek pun berlalu dengan wajah puas.

“Aneh sekali, bukankah kita barusan makan banyak? Kenapa kamu tidak menjelaskan saja?” protesku.

Sahabatku menepuk bahuku dan tersenyum : “Kalau dengan hal kecil seperti ini dia bisa merasa berharga, buat apa kita harus memberitahunya kebenaran? Kebenaran tidak penting baginya, dan tidak membawa manfaat bagi kita. Itu cuma setengah gigitan roti.”

Itulah pertama kalinya aku mendengar seseorang berkata: “Kadang kebenaran tidak penting.

Sejak kecil, aku diajari untuk selalu membela kebenaran—kalau seseorang salah, harus kita luruskan; kalau tidak ditegur, itu berarti membiarkan mereka terjerumus.

Tak lama kemudian, saat mengobrol dengan teman lain, dia menceritakan kejadian kecil di jalur produksi kantornya. Dua karyawan mengemas produk dengan cara yang sama. 

Namun setiap kali bos lewat, dia selalu berkomentar :  “Wah, ini kayaknya kurang kuat ya.”

Karyawan A biasanya diam saja dan langsung menambah seutas tali. Sedangkan karyawan B akan menjelaskan panjang lebar, meyakinkan bos bahwa metode yang dia gunakan sudah ilmiah dan sangat kuat.

B menganggap A itu penjilat, sementara dirinya adalah orang yang benar-benar memikirkan perusahaan. Namun tak lama kemudian, A yang mendapat promosi. B tetap bekerja di jalur produksi.

Setengah gigitan roti atau seutas tali itu sebenarnya tidak penting. Baik orangtua, atasan, maupun teman—ketika mereka terpaku pada hal-hal kecil seperti itu, sering kali yang mereka inginkan hanyalah rasa dihargai. Mereka tidak benar-benar peduli apakah perutmu kosong atau apakah kemasan itu cukup kuat. Mereka hanya peduli apakah kata-kata mereka mendapat respons.

Jika kita ngotot mempertahankan “kebenaran kecil” yang tidak berpengaruh besar, bagi mereka itu terasa seperti kegagalan. Lalu bagi kita, apa yang lebih penting? Menghemat sepotong roti atau seutas tali… atau membuat seseorang merasa dihormati?

Jelas, yang kedua jauh lebih berarti.

Melepaskan kebenaran yang tidak penting bukan berarti menjadi orang yang plin-plan. Ini justru soal tahu kapan harus teguh dan kapan harus melepaskan. Penting atau tidaknya sebuah kebenaran tidak ditentukan oleh perasaan kita, tetapi oleh apakah hal itu benar-benar memengaruhi hasil, mengubah seseorang, menyentuh moral, atau menyangkut prinsip dasar.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine