Kasus “Anak Liar” di Yunnan, Tiongkok Terus Memanas — Analis: Mungkin Ada Konspirasi Negara yang Bersifat Anti-Kemanusiaan

EtIndonesia. Kasus “anak liar” di Yunnan yang telah berlangsung hampir sebulan kembali memicu kehebohan. Pada 11 November, pihak berwenang Tiongkok merilis laporan investigasi yang dituduh “membalikkan fakta dan menyamarkan kebenaran”. 

Sejumlah pengguna internet menganalisis bahwa di balik kasus ini mungkin terdapat konspirasi negara berskala besar, melibatkan eksperimen anti-kemanusiaan, atau bahkan jaringan kriminal yang mencari keuntungan dengan menyiarkan video penyiksaan anak secara ilegal.

Pada 9 November, pengguna Zhihu bernama “Mo Xiaoqi” mempublikasikan tulisan analisis: seorang anak tanpa identitas hukum, tanpa akta kelahiran, memiliki perilaku yang tidak wajar, dan dapat “menghilang kapan saja tanpa ada yang tahu”, sudah cukup menunjukkan bahwa orang tua tersebut sadar bahwa perilaku mereka melanggar hukum dan norma sosial. Mereka bukan sekadar menjalani “gaya hidup alternatif”, melainkan secara sistematis menciptakan penghalang agar tidak ada pengawasan sosial atau hukum atas cara mereka memperlakukan anak.

Tulisan itu menyatakan: “Ini bukanlah alasan pembenar. Justru mengungkapkan bahwa tindakan mereka penuh perencanaan, sistematis, dan sangat mengabaikan hak-hak anak.”

Ia juga menekankan bahwa berbagai foto dan video yang tersebar di internet menunjukkan bahwa kasus ini bukan sekadar kekerasan dalam keluarga biasa, melainkan ada pola dan tujuan tertentu.

Orang-orang di Sekitar Anak “Bukan Orang Biasa”

Dari penelusuran netizen, ditemukan sejumlah informasi mencurigakan:

  • “Ayah” sang anak, Li Zhihu, disebut berpendidikan tinggi, memiliki dua perusahaan transportasi lokal, dan bekerja sama dengan seorang pegawai pemerintah bernama Li Zhibin dalam bisnis peternakan.
  • “Ibu” sang anak, Wan Lu, adalah putri pejabat Administrasi Umum Olahraga Tiongkok, memiliki gelar pascasarjana, rumah, mobil, serta sertifikat “pendidik alam” dari sebuah lembaga luar negeri yang dianggap tidak resmi.
  • Guo Rui (“Guoba”), anak pejabat bernama Wan Heping, adalah pemilik tempat penampungan anjing, pemilik bar, dan pemegang saham perusahaan media budaya. Dalam akun video pendeknya terdapat banyak gambar yang dianggap “ganjil”. Ia memiliki izin tinggal jangka panjang di Inggris, SIM Korea Selatan, dan ayah tiri berkebangsaan Australia.
  • Rekan bisnis Guo Rui, Lu Yansong, adalah anggota dewan di panti asuhan Beijing serta pengelola lembaga autisme.

Tulisan itu menyebut:

“Tak ada bukti langsung, tetapi semua orang terkait menunjukkan jejak kejanggalan dan indikasi perilaku kriminal.”

Konspirasi untuk Menghindari Perjanjian Internasional?

Analisis itu mempertanyakan:  Jika kasus ini hanya insiden tunggal, mengapa pihak resmi Yunnan tidak kunjung memberikan penjelasan jelas atas kondisi terbaru sang anak?

Selama hampir sebulan, ribuan netizen—termasuk para ibu dari seluruh Tiongkok—menghubungi dinas sosial dan polisi tingkat provinsi, prefektur Dali, dan kabupaten Nanjian. Namun jawaban yang selalu diterima adalah “sedang diselidiki”.

Tulisan tersebut menyimpulkan bahwa:

“Sangat mungkin ada jaringan industri gelap yang lengkap, atau bahkan konspirasi negara yang bertujuan menghindari kewajiban tertentu dalam perjanjian internasional.”

Diperkirakan juga bahwa mungkin terdapat kelompok kriminal yang melakukan eksperimen anti-kemanusiaan:

  • Eksperimen bayi dengan induk hewan,
  • Percobaan penyatuan genetika manusia dan hewan,
  • “Membesarkan anak seperti anjing” untuk memanipulasi perilaku,
  • Mengubah identitas biologis dan psikologis anak,
  • Bahkan eksperimen ekstrem untuk melihat bagaimana jiwa murni dihancurkan oleh penyiksaan ekstrem.

Anak-anak yang diduga menjadi target meliputi:

  • Anak di daerah pegunungan terpencil (Yunnan–Guizhou–Sichuan),
  • Kelompok minoritas,
  • Anak di panti asuhan,
  • Anak autisme,
  • Anak dari keluarga berantakan,
  • Anak yang hilang atau korban perdagangan manusia.

Untuk Memuaskan Pasar Gelap Pelaku Pedofilia Global?

Analisis tersebut juga mengangkat kemungkinan lain: “Kelompok kriminal ini mungkin menyediakan ‘komoditas’ bagi para pelaku pedofilia internasional, yaitu dengan memelihara dan melatih anak secara tersembunyi demi uang.”

Media resmi Tiongkok menghindari pembahasan:

  • Dugaan fasilitas pelatihan milik “Guoba”,
  • Video anak dengan wajah dipoles putih,
  • Informasi mencurigakan dari akun Guoba di platform luar negeri.

Saat ini tulisan asli Mo Xiaoqi telah dihapus.

Netizen berkomentar:

“Sudah berhari-hari tanpa kesimpulan apa pun. Bisa dibayangkan betapa gelapnya kasus ini, dan berapa banyak orang berpengaruh yang terlibat.”
“Tahun ini satu demi satu kasus yang membuat orang kehilangan kepercayaan hidup. Kejam, tak berperikemanusiaan, melanggar moral, membuat bulu kuduk berdiri.”

Sebuah tangkapan layar menunjukkan seseorang yang mengaku teman Guoba menulis:

“Ada beberapa anak lagi. Normal saja.”
Orang itu juga mengatakan:
“Aku tahu dia di mana. Kudengar anak itu hampir mati, tidak diberi obat, dikurung di ruangan. Datang saja. Masih ada anak lain.”

Menurut informasi netizen, kasus serupa “anak liar” bukan hanya satu. Setidaknya tujuh anak sudah teridentifikasi, tiga di antaranya dilaporkan telah meninggal.

Menanggapi laporan resmi pemerintah, netizen mempertanyakan:

“Siapa pun yang benar-benar melihat semua video dan foto anak itu, tidak akan percaya kata-kata laporan resmi. Jika masalah sesederhana itu, mengapa butuh lebih dari 20 hari penyelidikan? Jika benar-benar jelas, mengapa komentar dihapus? Mengapa CCTV membatasi komentar meski penayangan 6 juta kali? Mengapa semua platform menekan pertanyaan publik? Dalam 10 tahun saya berselancar di internet, belum pernah melihat hal seperti ini.”
“Tes DNA anak, dilakukan oleh institusi mana? Mana laporannya? Ke mana Guo Rui yang terlihat membawa anak itu? Apa statusnya? Masih terlalu banyak tanda tanya.” (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine