EtIndonesia. Menjelang akhir tahun, sektor perbankan Tiongkok ramai dengan fenomena “pinjaman palsu” atau “kredit fiktif”. Demi memenuhi target yang ditetapkan pemerintah, banyak bank menerapkan strategi “pinjam cepat – bayar cepat”.
Caranya: bank memberikan pinjaman fiktif kepada nasabah, lalu bank sendiri yang menanggung bunganya. Nasabah cukup meminjam sejumlah dana dan mengembalikannya bulan berikutnya. Tujuan utamanya adalah memoles laporan kinerja kredit agar terlihat bagus.
Para pengamat menilai bahwa maraknya pinjaman fiktif ini menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang kini dihadapi pembuat kebijakan Tiongkok.
Ekonomi Tiongkok sedang lesu, permintaan pinjaman dari masyarakat menurun drastis. Namun demi mempercantik data menjelang tutup tahun, bank–bank mulai mengakali laporan mereka dengan praktik kredit palsu.
Menurut laporan Bloomberg pada 12 November, seorang pengusaha suku cadang otomotif di Cina Timur, bermarga Hu, mendapat permintaan aneh dari salah satu bank terbesar di Tiongkok pada Oktober lalu. Petugas bank memintanya untuk mengambil pinjaman senilai 5 juta yuan. Bank bahkan bersedia membayar semua bunga dan hanya meminta agar pinjaman itu dikembalikan bulan depan. Namun Hu menolak karena ia sama sekali tidak membutuhkan pinjaman.
Kolumnis The Epoch Times, Wang He, mengungkapkan: “Untuk mengejar target kinerja, mereka tidak pilih cara. Pinjaman palsu hanyalah trik untuk memenuhi indikator yang diminta pemerintah. Ini mencerminkan krisis yang sedang dihadapi operasional perbankan Tiongkok.”
Dua Akar Masalah: Pemerintah & Bank
Para analis menyebut fenomena “kredit palsu” memiliki dua penyebab utama:
- Pemerintah Tiongkok membutuhkan peningkatan angka kredit untuk menampilkan ilusi pertumbuhan ekonomi,
- Bank sendiri sedang menghadapi krisis arus kas yang parah.
Analis ekonomi daratan Tiongkok, Wen Li, menjelaskan: “Pemerintah ingin melihat angka kredit naik agar bisa memoles pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya lemah. Dari sisi bank, sejak masuk tahun 2025, laporan keuangan bank-bank besar—kecuali Bank of China—menunjukkan bahwa arus kas operasional mereka bahkan tidak cukup untuk membiayai pengeluaran harian. Artinya, sektor keuangan sudah sekarat secara kolektif.”
Fenomena ini menyoroti dilema utama Beijing: mereka dapat menurunkan biaya modal dan menambah suplai dana, tetapi tidak dapat memaksa rakyat untuk meminjam, berbelanja, atau berinvestasi.
Wen Li menambahkan: “Pemerintah berpikir jika dana dipinjamkan kepada masyarakat, arus kas akan meningkat dan otomatis memicu konsumsi atau investasi. Tapi kenyataannya berbeda. Ekonomi lesu, orang enggan berinvestasi maupun berbelanja. Siapa yang mau menanggung bunga pinjaman saat mereka bahkan tidak bisa mendapatkan keuntungan?”
Gejala Meluas ke Sektor Ritel
Tidak hanya perusahaan, praktik serupa juga terjadi pada nasabah perorangan.
Komentar para ahli menyebut bank-bank Tiongkok sedang berada di bawah tekanan besar untuk memenuhi target pemerintah—target yang mustahil dicapai di tengah permintaan kredit yang jatuh.
Wang He menjelaskan lebih jauh:
“Margin bunga sekarang sangat rendah, hanya sekitar 1,5%. Bahkan lebih rendah daripada tingkat kredit macet bank-bank Tiongkok. Artinya laba bunga tidak cukup untuk menutup kerugian akibat kredit bermasalah. Masalahnya lebih parah dari laporan publik. Bank di Tiongkok memiliki dua ciri berbeda dari luar negeri:
1. hampir semuanya dikendalikan negara,
2. sepenuhnya berada dalam sistem tertutup pemerintah.
Jika bank-bank ini bermasalah, krisis keuangan nasional bisa terjadi.”
Laporan Keuangan Indah — tetapi Palsu
Meski sektor perbankan mengalami krisis arus kas, laporan keuangan enam bank raksasa Tiongkok pada tiga kuartal pertama tahun ini justru menunjukkan pertumbuhan profit.
Wang He mengingatkan: “Laporan keuangan bank terlihat bagus hanya di atas kertas. Banyak angka yang dimanipulasi, termasuk praktik pinjaman fiktif ini. Seberapa dalam manipulasi itu, orang luar tidak akan pernah tahu.”
Analis Wen Li menambahkan: “Laporan keuangan bank tidak lagi mencerminkan kondisi sebenarnya. Ketika sektor perbankan sendiri sudah defisit, laporan dipoles, dan kualitas kredit memburuk—ditambah pinjaman yang tidak bisa dikembalikan—maka beban kredit macet akan menumpuk. Ini adalah bencana yang menunggu meledak.”
Risiko Sistemik Mengintai
Para analis memperingatkan bahwa industri perbankan sangat bergantung pada likuiditas. Bila terjadi masalah, bukan tidak mungkin pecah krisis seperti kasus rush bank di Henan dan Anhui, tetapi kali ini skalanya bisa jauh lebih besar. (jhon)
Sumber : NTDTV.com


