Meningkatkan Kadar Kalium Membantu Mengurangi Irama Jantung Berbahaya

 Perubahan sederhana dalam pola makan dapat memberikan manfaat besar bagi pasien jantung

George Citroner

Sebuah penyesuaian kecil dalam pola makan bisa menjadi langkah penting bagi pasien jantung.

Penelitian baru menunjukkan bahwa meningkatkan kadar kalium dapat mengurangi risiko irama jantung berbahaya hingga hampir seperempat.

Peserta dalam kelompok perlakuan memiliki kadar kalium yang ditingkatkan menjadi 4,5 hingga 5,0 milimol per liter (mmol/L) melalui pola makan, suplemen, dan/atau obat-obatan.

Penelitian ini dilakukan pada pasien yang memiliki alat defibrilator kardioverter implan (ICD) — alat medis yang ditanam melalui pembedahan dan berukuran lebih besar daripada alat pacu jantung (pacemaker).

Pacemaker adalah alat kecil yang ditanam di tubuh untuk membantu mengatur detak jantung yang lambat atau tidak teratur dengan mengirimkan impuls listrik agar ritme jantung tetap stabil.
Sementara itu, ICD berfungsi memantau detak jantung dan memberikan kejutan listrik (electric shock) untuk mengoreksi irama jantung yang terlalu cepat, sehingga dapat mencegah henti jantung mendadak.

Selama pemantauan rata-rata selama 3,3 tahun, pasien yang mempertahankan kadar kalium lebih tinggi mengalami hasil kesehatan yang jauh lebih baik, menurut hasil yang baru-baru ini diterbitkan di jurnal New England Journal of Medicine.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk melihat apakah pendekatan tersebut dapat mengurangi kejadian irama jantung berbahaya, rawat inap, atau kematian.


Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini berfokus pada pasien dengan ICD terpasang. Para peserta memulai uji coba dengan kadar kalium normal hingga rendah, yaitu 4,3 mmol/L atau lebih rendah.

Pasien kemudian meningkatkan kadar kalium mereka melalui makanan, suplemen, atau obat-obatan.

Menjaga kadar kalium tinggi-normal (antara 4 hingga 5 mmol/L) terbukti mengurangi risiko gangguan irama jantung serius sebesar 24 persen.

Kalium sangat penting dalam proses terbentuknya detak jantung, sehingga kekurangan kalium dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur.

Salah satu hasil utama adalah berkurangnya intervensi darurat oleh ICD, yakni hanya 15,3 persen pada kelompok kadar kalium tinggi dibanding 20,3 persen pada kelompok kontrol.
Rawat inap akibat aritmia (gangguan irama jantung) dan gagal jantung juga lebih sedikit terjadi pada mereka dengan kadar kalium yang lebih tinggi.

Dari sisi keamanan, rawat inap akibat kadar kalium yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah hanya terjadi pada 1 persen di kedua kelompok.

Kematian dilaporkan sebesar 5,7 persen pada kelompok kadar kalium tinggi-normal, dibanding 6,8 persen pada kelompok kontrol — perbedaan yang tidak dianggap signifikan secara statistik oleh para peneliti.


Pandangan Para Ahli

Dr. Carolyn Lam, ahli jantung dan konsultan senior di National Heart Centre Singapore, yang juga pendiri Klinik Jantung Wanita pertama di Singapura (namun tidak terlibat dalam penelitian ini), mengatakan kepada The Epoch Times bahwa temuan ini secara khusus berlaku bagi pasien yang memiliki defibrilator implan, berisiko tinggi mengalami aritmia ventrikel, dan memiliki kadar kalium awal tidak lebih tinggi dari 4,3 mmol/L.

Dr. Lam menjelaskan bahwa kadar kalium memiliki hubungan berbentuk huruf “U” dengan hasil kesehatan — artinya, baik kadar yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah dapat menimbulkan efek buruk.

“Karena itu, penting bagi pasien untuk mengetahui kadar kalium mereka sebelum menerapkan hasil penelitian ini pada diri sendiri,” ujarnya.


Apa Arti Temuan Ini bagi Pasien

Meskipun penelitian ini dilakukan hanya pada pasien yang sudah memiliki ICD, Profesor Henning Bundgaard, penulis utama studi ini, mengatakan bahwa temuannya dapat diterapkan juga pada banyak pasien lain, terutama mereka yang memiliki penyakit kardiovaskular dengan risiko tinggi aritmia ventrikel.

Dr. Ian J. Neeland, profesor madya kedokteran di Case Western Reserve University dan direktur University Hospitals Center for Cardiovascular Prevention, yang juga tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan bahwa pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menjaga kadar kalium dalam kisaran tinggi-normal.
Ia menambahkan bahwa pasien perlu memastikan mereka mengonsumsi obat yang membantu tubuh mempertahankan kalium, seperti spironolakton dan eplerenon, sesuai pedoman medis bagi pasien dengan alat jantung implan.

Beberapa makanan yang dapat meningkatkan kadar kalium antara lain:
🍌 pisang, 🍇 kismis, 🍑 prune (buah plum kering), 🥦 brokoli, 🥔 kentang, dan 🐟 ikan tuna.

Dr. Neeland juga mengingatkan agar pasien segera memberi tahu dokter jika mengalami kondisi yang dapat menurunkan kadar kalium secara tiba-tiba, seperti diare atau muntah.

“Pasien sebaiknya bekerja sama dengan dokter mereka untuk menemukan strategi terbaik dalam menjaga kadar kalium di kisaran tinggi-normal,” ujarnya.


George Citroner melaporkan berita seputar kesehatan dan kedokteran, termasuk topik kanker, penyakit menular, dan gangguan neurodegeneratif.  Ia menerima Media Orthopaedic Reporting Excellence (MORE) Award tahun 2020 atas laporannya tentang risiko osteoporosis pada pria.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine