EtIndonesia. Ini adalah kisah nyata yang mendebarkan sekaligus menggugah hati. 26 Mei 1990, pukul 06: 10 pagi, pesawat British Airways nomor penerbangan 5390—bertipe BAC-1-11—lepas landas dari Bandara Birmingham menuju Málaga, Spanyol.
Kapten penerbangan hari itu adalah Simon, pilot berpengalaman dengan 21 tahun jam terbang. Di sampingnya ada wakil pilot Alastair, yang baru pertama kali bertugas di penerbangan 5390. Selain itu, pesawat membawa satu kepala pramugara, tiga pramugari, dan 84 penumpang.
13 Menit Setelah Lepas Landas—Bencana Terjadi
Sekitar 13 menit setelah mengudara, ketika pesawat mencapai ketinggian 13.000 meter, Kapten Simon mengatur pesawat ke mode autopilot dan berdiri untuk mengambil minuman.
Namun baru dia bangun dari kursi, “BRAK!” Kaca kokpit di sisi kiri meledak dan terlepas seluruhnya.
Perbedaan tekanan udara yang ekstrem antara dalam kabin dan luar kabin membuat Simon tersedot keluar pesawat. Beruntung, dalam sekejap refleks dia berhasil mengaitkan satu kakinya ke rangka kursi di belakangnya. Kepala pramugara bersama dua pramugari langsung berlari dan memegangi tubuh sang kapten yang sudah setengah terlempar keluar pesawat.
Angin bersuhu -20°C menerjang masuk dengan kecepatan 390 km/jam. Tiga alarm kokpit berbunyi bersamaan. Pesawat pun kehilangan kontak dengan pusat kendali.
Dalam hitungan detik, 84 penumpang panik, menjerit, dan tak tahu apa yang terjadi. Pesawat mulai kehilangan ketinggian dengan cepat.
Wakil Pilot Pemula yang Harus Menyelamatkan Semuanya
Alastair—yang belum terlalu familiar dengan BAC-1-11—mendadak harus mengambil kendali penuh. Dengan bermodal intuisi dan pengalaman dari jenis pesawat lain, dia berhasil menarik pesawat naik kembali dan menstabilkannya.
Namun bahaya jauh dari selesai.
Karena kaca kokpit terbuka, kabin kehilangan tekanan. Oksigen hanya cukup untuk 30 menit. Setelah itu, hampir semua orang akan pingsan dan perlahan mati lemas.
Untuk menutup celah udara itu, mereka harus melepaskan tubuh sang kapten—yang berarti membiarkannya jatuh dari pesawat.
Kapten Simon, yang tergantung di luar kokpit dalam keadaan membeku, tampak seperti sudah tidak bernyawa. Tetapi para awak kabin tidak sampai hati melepasnya. Namun mereka juga tahu bahwa jika terus begini, 84 penumpang akan mati bersama kapten.
Menurut prosedur British Airways, awak kabin boleh berkorban demi keselamatan penumpang—kecuali jika penumpang meminta agar tidak melakukannya.
Artinya, keputusan hanya bisa diambil lewat voting penumpang.
Voting Hidup-Mati yang Sunyi
Dengan izin kepala pramugara, salah satu pramugari berjalan ke dalam kabin.
Dia menahan tangis, menenangkan napas, lalu berkata: “Kita sedang mengalami masalah serius. Kapten kami tergantung di luar pesawat, tak jelas apakah masih hidup. Jika kami melepaskannya, pesawat mungkin bisa selamat. Jika tidak, kita semua bisa mati kehabisan oksigen. Tolong angkat tangan jika kalian setuju untuk melepaskan kapten.”
Seluruh kabin langsung hening. Beberapa detik kemudian—tangan-tangan mulai terangkat.
Dua tangan.
Lima.
Sepuluh.
Dua puluh.
Tiga puluh…
Pramugari itu menahan air mata sambil menghitung. Ketika tangan hampir mencapai 42—jumlah yang diperlukan untuk mencapai suara mayoritas— tiba-tiba, salah satu penumpang menurunkan tangannya.
Lalu satu lagi.
Lalu yang berikutnya.
Sampai akhirnya— tidak satu pun tangan yang terangkat.
Pramugari itu tidak bisa menahan diri lagi. Dia menangis tersedu, terharu oleh keputusan kemanusiaan yang luar biasa.
Pendaratan Ajaib Setelah 22 Menit yang Menegangkan
Sesaat kemudian, kabar baik datang. Wakil pilot Alastair akhirnya berhasil memulihkan komunikasi dengan menara kontrol.
Dengan bimbingan dari darat, dia mengarahkan pesawat menuju Bandara Southampton, sekitar 6 kilometer dari lokasi.
22 menit setelah kaca pecah, pesawat berhasil mendarat darurat. Tim medis langsung mengangkut Kapten Simon yang tubuhnya beku dan membiru.
Semua mengira dia sudah meninggal. Namun—secara ajaib—dia selamat. Setelah 3 bulan perawatan intensif, dia kembali terbang sebagai kapten.
Fakta Mengejutkan dari Investigasi
Hasil penyelidikan menemukan bahwa kaca kokpit pecah karena seorang teknisi memasang sekrup yang salah ukuran saat penggantian sebelumnya.
Yang lebih mencengangkan: Jika para kru melepaskan Simon, tubuhnya pasti akan tersedot ke arah mesin pesawat, hancur dalam bilah-bilah turbin, dan mesin akan rusak berat— mengakibatkan pesawat jatuh dan semua orang tewas.
Keputusan 84 penumpang untuk tidak melepaskan kapten bukan hanya menyelamatkan sang kapten— tapi secara misterius juga menyelamatkan nyawa mereka sendiri. (yn)


