Hormati Setiap Orang yang Hidup di Dunia Ini

EtIndonesia. Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat—baik di pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari—kita selalu saja bertemu dengan orang yang membuat kita tidak nyaman: ada yang malas, ada yang munafik, ada pula yang licik. Ketika emosi sedang memuncak, kita mungkin akan mengejek atau memberikan kritik keras. Saat emosi lebih terkendali, kita tetap saja menyimpan kesan buruk terhadap orang tersebut.

Kadang-kadang, kita bahkan sampai bertanya-tanya: “Kenapa orang seperti itu masih ada di dunia ini? Bukankah mereka hanya menghambat kemajuan?”

Namun pandangan itu berubah setelah saya menonton sebuah acara tentang kehidupan hewan.

Dalam acara tersebut, ditampilkan berbagai keterampilan bertahan hidup dari hewan-hewan yang berbeda. Singa mengandalkan cakar dan taringnya yang kuat untuk memburu mangsa. Serigala bertahan hidup melalui kerja sama kelompok dan kemampuan mengejar yang tak kenal lelah. Di sisi lain, ada hewan-hewan yang bertahan dengan cara berbeda: bunglon menyamar untuk memancing mangsa mendekat; kalajengking dan ular menggunakan racun mematikan untuk membuat lawan tak berdaya.

Di dunia hewan—yang sepenuhnya jujur dan memperlihatkan sifat aslinya—ada yang mengandalkan kekuatan fisik seperti singa dan serigala, ada pula yang bertahan dengan kemampuan khusus seperti penyamaran bunglon atau racun ular. 

Kita tidak bisa berkata bahwa hewan yang “positif” seperti singa lebih pantas hidup, sementara yang bertahan dengan cara “gelap” seperti bunglon atau ular tidak layak hidup. Alam bersifat adil: siapa yang mampu bertahan, dialah yang hidup. Itulah hukum alam—survival of the fittest.

Justru keanekaragaman itulah yang membuat alam menjadi indah dan harmonis. Ada pemandangan megah ketika kawanan singa memburu kerbau, ada pula ketegangan ketika seekor ngengat perlahan terjebak dalam penyamaran bunglon. Dunia yang beragam itu, pada akhirnya, indah.

Lingkungan manusia sebenarnya sama saja.

Dalam lingkungan sosial kita, ada orang yang rajin dan mau berkembang, ada orang yang suka membantu; tapi ada juga yang malas, egois, atau licik. Baik yang rajin maupun yang licik, pada dasarnya mereka hanya ingin hidup sedikit lebih baik. Orang rajin meningkatkan kemampuan agar mendapat imbalan yang layak. Orang licik mungkin sedang berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang yang menguntungkan baginya demi kondisi hidup yang lebih baik. Orang yang egois bisa jadi dulunya terlalu berbaik hati dan pernah disakiti, sehingga kini menjadi dingin.

Namun tujuan semua orang sebenarnya sama: ingin bertahan hidup, ingin hidup lebih layak.

Karena itu, apa pun jenis orangnya—malas atau rajin, jujur atau munafik, hangat atau dingin—mereka semua sedang berjuang mempertahankan hak hidupnya dengan cara yang mereka anggap benar. Dalam persaingan alamiah kehidupan, tidak ada yang mutlak benar atau salah, tidak ada yang sepenuhnya terang atau gelap. Selama seseorang mampu bertahan hidup, ia layak dihargai.

Setiap orang yang hidup di dunia ini—baik yang kita sukai maupun yang tidak—semuanya bersama-sama membentuk wajah dunia yang penuh warna. Dunia ini bisa indah justru karena keberagaman itu: ada dinamika, ada pertentangan, ada kerja sama. Sama seperti dunia hewan yang memiliki kejar-kejaran yang dramatis dan jebakan yang menegangkan.

Karena itu, saya belajar bahwa saya harus menghormati setiap orang yang hidup di dunia ini, baik yang saya sukai maupun yang tidak. Saya menghargai kalian yang mampu bertahan hidup dengan cara masing-masing, dan saya bersyukur karena kita bersama-sama membentuk dunia yang penuh warna ini.

Kita semua hidup di sini, berjuang, dan berusaha demi kelangsungan hidup kita masing-masing.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine