Janji Lagi–lagi diinjak: Pembelian Kedelai AS oleh Tiongkok Kembali Mandek

EtIndonesia. Belum genap dua minggu sejak Amerika Serikat dan Tiongkok mencapai “gencatan senjata” dagang terbaru, para pelaku perdagangan mengungkapkan bahwa setelah melakukan pembelian besar-besaran kedelai AS pada akhir Oktober, impor kedelai dari Tiongkok tampak kembali macet. Para analis menilai, Beijing memang kerap ingkar janji—sehingga setiap komitmennya sulit dipercaya.

Menurut laporan Bloomberg pada 12 November, beberapa pedagang menyebut bahwa setelah gelombang pesanan besar di akhir Oktober, tidak ada lagi pengiriman baru untuk kedelai Amerika, menandakan proses pembelian kini kembali terhenti.

Situasi ini langsung menimbulkan keraguan apakah komitmen Beijing untuk membeli kedelai AS benar-benar dapat diwujudkan.

“Tidak mengejutkan sama sekali”

Direktur Eksekutif Asosiasi Motivasi Taiwan, Lai Rong-wei, mengatakan: “Bagi saya, ini sama sekali tidak mengejutkan. Sebelum ini pun sudah banyak keraguan terkait kemampuan atau kemauan Beijing memenuhi janjinya kepada AS.”

Peneliti di Institut Penelitian Keamanan Nasional Taiwan, Hsieh Pei-hsueh, menambahkan: “Ini sepenuhnya bisa diprediksi. Setelah perjanjian gencatan dagang, pemerintah Tiongkok sendiri tidak pernah secara resmi mengonfirmasi detail jumlah yang akan dibeli. Pernyataan mereka hanya memakai kalimat kabur seperti ‘akan memperluas perdagangan pertanian’. Ini menunjukkan masalah yang jauh lebih dalam terkait struktur pasokan pertanian dan dinamika ekonomi AS-Tiongkok, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan niat politik.”

Kekhawatiran terhadap masa depan perdagangan pertanian AS–Tiongkok

Lai Rong-wei menjelaskan bahwa keputusan Tiongkok juga terkait kondisi pasar dan ekonomi dalam negeri:

“Tiongkok kini mengimpor banyak produk pertanian dari Amerika Latin. Jika pasar mereka sudah jenuh, ditambah masalah ekonomi dan konsumsi dalam negeri, maka tidak membeli produk pertanian AS adalah langkah yang wajar dari sudut pandang mereka.”

Pada 13 November, juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok, He Yadong, menyatakan bahwa Beijing akan terus memperdalam kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan dengan semua negara. Namun para ahli menilai ini hanya retorika politik resmi yang tidak memiliki kredibilitas.

Lai Rong-wei menegaskan: “Reputasi Beijing dalam memenuhi janji memang buruk di mata dunia. Mereka sering ingkar janji, bukan hanya kepada Trump. Lihat saja bagaimana mereka memperlakukan Hong Kong atau isu nasionalisme internal lainnya—seluruh dunia tahu pola perilaku itu.”

Komitmen besar yang tidak pernah dikonfirmasi Beijing

Setelah pertemuan Trump–Xi sebelumnya, Gedung Putih menyatakan bahwa Beijing berjanji untuk membeli setidaknya 12 juta ton kedelai AS dalam dua bulan terakhir tahun 2025, dan 25 juta ton per tahun dalam tiga tahun ke depan.

Namun Beijing tidak pernah mengonfirmasi angka tersebut.

Hsieh Pei-hsueh berkata: “Penghentian pembelian ini sebenarnya membuktikan kekhawatiran terbesar pemerintahan Trump, yaitu bahwa Tiongkok tidak mampu—atau tidak mau—menepati komitmen perjanjian dagang. Ini akan merusak kredibilitas mereka dalam negosiasi jangka panjang.”

Kedelai sebagai senjata negosiasi

Sebagai salah satu importir pangan terbesar dunia, Tiongkok sering menjadikan kedelai sebagai kartu tawar dalam perang dagang.

Lai Rong-wei memperingatkan: “Jika mereka terus terlihat tidak dapat dipercaya, maka pada negosiasi berikutnya negara lain pasti akan berkata: ‘Jangan janji masa depan, lakukan sekarang.’ Inilah konsekuensi yang selalu muncul pada negara yang kehilangan kredibilitas.”

Dua wajah Beijing: lunak dalam ucapan, keras dalam tindakan

Hsieh Pei-hsueh juga menyinggung bahwa selain isu kedelai, Beijing mengambil sikap semakin keras dalam sektor mineral penting seperti logam tanah jarang (rare earth).
Walaupun sebelumnya berjanji untuk mengurangi pembatasan ekspor, informasi terbaru menunjukkan bahwa Beijing justru sedang menyiapkan kerangka baru untuk verifikasi pengguna akhir—yang akan memperketat ekspor rare earth khususnya bagi perusahaan pertahanan AS.

“Ini pola yang sama: satu hal yang dikatakan, lain hal yang dilakukan.”

Prospek masa depan: persaingan menuju decoupling

Para analis menyimpulkan bahwa masalah struktural dan kontradiksi fundamental antara AS dan Tiongkok tidak mungkin diselesaikan dengan cepat.

Ke depan, hubungan dagang kedua negara kemungkinan bergerak menuju dinamika persaingan, konfrontasi, dan upaya ‘mengurangi risiko’ (de-risking). (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine