Sebuah Tes Hidup yang Bermanfaat Seumur Hidup

EtIndonesia. Mari kita coba sebuah pertanyaan yang dulu digunakan oleh sebuah perusahaan dalam proses perekrutan pegawai baru. Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya mampu menguji sejauh mana seseorang memahami cara berpikir dan kebijaksanaan hidupnya sendiri.

Soal:

Bayangkan kamu sedang mengendarai mobil di malam hari yang diguyur hujan badai.
Kamu melewati sebuah halte, dan di sana ada tiga orang yang sedang menunggu bus:

1.  Seorang kakek tua yang tampak sekarat dan sangat menyedihkan.

2.  Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidupmu — orang yang sangat ingin kamu balas jasanya.

3.  Seorang wanita (atau pria) yang merupakan cinta dalam mimpimu — seseorang yang mungkin tidak akan kamu temui lagi seumur hidup.

Namun, mobilmu hanya memiliki satu kursi kosong. Siapa yang akan kamu pilih untuk diajak naik mobil?  Jelaskan alasanmu.

Sebelum membaca jawabannya, coba pikirkan dulu dengan tenang.

Kebanyakan orang akan terjebak dalam dilema:
Menyelamatkan kakek tua yang hampir meninggal?
Membalas budi kepada dokter yang pernah menolongmu?
Atau memanfaatkan kesempatan langka untuk bersama orang yang kamu cintai?

Semua pilihan tampak masuk akal, bukan?

Dalam tes itu, dari 200 pelamar, hanya satu orang yang diterima bekerja. Jawabannya sederhana, tapi luar biasa cerdas. 

Dia menulis:

“Aku akan memberikan kunci mobilku kepada dokter, agar dia bisa mengantarkan kakek tua ke rumah sakit. Sementara aku sendiri akan tinggal di halte bersama orang yang kucintai, menunggu bus bersama-sama.”

Hampir semua orang yang mendengar jawaban ini sepakat:  Inilah jawaban terbaik.

Namun menariknya, tak seorang pun dari mereka — termasuk sang pewawancara — yang langsung terpikir seperti itu.

Mengapa?

Karena kebanyakan dari kita terlalu terikat pada apa yang sudah kita miliki. Kita tak ingin melepaskan “keuntungan” yang sudah ada di tangan — seperti mobil dalam kasus ini.

Padahal kadang, untuk mendapatkan hal yang lebih besar, kita perlu berani melepaskan sebagian dari yang kita punya.

Kisah Tambahan: Arsitek Muda dan Ilham di Taj Mahal

Pernah ada seorang arsitek muda yang sangat berbakat, namun hidup dalam bayang-bayang para seniornya. Dia frustrasi karena merasa tak pernah bisa melampaui karya para maestro di bidangnya. Dia hanya meniru dan mengikuti jejak mereka tanpa mampu menciptakan sesuatu yang baru.

Akhirnya, dengan hati berat, dia memutuskan untuk berhenti sementara dari pekerjaannya. Dia membawa semua tabungan yang dimiliki, lalu berkelana keliling dunia, mengunjungi berbagai karya arsitektur megah.

Dia berjalan kaki, naik kapal, menembus padang pasir dan pegunungan, sampai akhirnya dia tiba di Taj Mahal — bangunan paling menakjubkan yang pernah dia lihat.

Saat berdiri di hadapan keindahan itu, pikirannya meledak dengan inspirasi. Dia merasakan semangat baru mengalir deras, dan dalam waktu singkat, dia menciptakan karya demi karya yang luar biasa.

Arsitek muda itu akhirnya menjadi desainer terkenal dunia.

Makna dari Kisah Ini

Kadang, ketika pikiran kita buntu, yang dibutuhkan bukanlah kerja lebih keras — melainkan berhenti sejenak dan melihat dari sudut yang berbeda.

Untuk memetik setangkai bunga gunung yang segar,  kita harus meninggalkan kenyamanan kota. (jhn/yn)

Untuk menjadi pendaki tangguh,
kita harus rela kehilangan kulit yang halus dan tangan yang bersih.

Untuk mendapatkan tepuk tangan abadi,
kita harus melepaskan gemerlap pujian sesaat.

Hidup sering memaksa kita untuk melepaskan sesuatu —
kadang itu kekuasaan, kesempatan, bahkan cinta.
Kita tak mungkin memiliki segalanya.
Maka, belajarlah untuk melepaskan.


Filosofi Hidup: Seni Melepaskan

  • Mempertahankan matahari senja yang sudah tenggelam adalah kebodohan;
  • Menyesali bunga musim semi yang telah gugur adalah kesia-siaan.

Orang yang tak mau melepaskan apa pun, justru sering kehilangan hal yang lebih berharga.

Hari ini kamu belajar melepaskan, agar besok kamu bisa mendapatkan yang lebih baik.

Orang besar tidak terjebak pada untung rugi sesaat.
Mereka tahu apa yang harus dilepaskan, kapan melepaskan, dan bagaimana melepaskannya.

Ketika kamu berani melepaskan, kamu berjalan lebih ringan.
Kamu terbebas dari beban dan kerumitan.
Kamu akan tampak lebih lapang, lebih bijak, dan lebih kuat.

Belajarlah untuk melepaskan:

  • Lepaskan luka masa lalu,
  • Lepaskan kebencian yang menyesakkan,
  • Lepaskan pertengkaran yang melelahkan,
  • Lepaskan perebutan kekuasaan dan ambisi kosong.

Semua yang tidak penting, tidak sehat, dan tidak sejalan dengan tujuan hidupmu — relakanlah.


Pesan Kehidupan

Untuk hal-hal yang tidak bisa kau miliki,
belajarlah untuk melepaskan dengan lapang dada.
Itu bukan kelemahan, melainkan kebijaksanaan dan kedewasaan.

Orang yang tahu kapan harus berkorban,
yang mampu memotong rasa terikat ketika harus memilih,
adalah orang yang benar-benar kuat dan bebas.

Jangan mengira bahwa hanya mereka yang bisa mendapatkan segalanya yang hebat —
kadang, justru mereka yang berani melepaskanlah
yang memiliki kebijaksanaan dan keberanian tertinggi.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine