Ketegangan Jepang–Tiongkok Memanas: Beijing Keluarkan Peringatan Perjalanan dan Umumkan Latihan Tembak Langsung di Laut Kuning

EtIndonesia. Ketegangan antara Jepang dan Tiongkok meningkat tajam akibat isu Selat Taiwan. Beijing terus melakukan aksi provokatif: pada 14 November mengeluarkan peringatan perjalanan ke Jepang, pada 15 November mengumumkan latihan tembak langsung di Laut Kuning, dan pada 16 November kembali mengumumkan bahwa armada kapal 1307 dikerahkan untuk berpatroli di perairan sekitar Kepulauan Senkaku (Tiongkok: Diaoyu).

 Namun menariknya, propaganda Beijing tampaknya tidak memengaruhi rakyatnya—bandara Pudong di Shanghai tetap dipenuhi antrean panjang wisatawan Tiongkok yang hendak terbang ke Osaka.


Beijing Keluarkan Peringatan: “Jangan Pergi ke Jepang”

Pada 14 November, Kementerian Luar Negeri Tiongkok dan Kedutaan Besar Tiongkok di Jepang mengeluarkan pemberitahuan mendesak, meminta warga Tiongkok untuk sementara tidak bepergian ke Jepang.

Dalam pernyataannya, Beijing menuduh bahwa pernyataan terbaru pemimpin Jepang terkait Taiwan bersifat “provokatif” dan “secara serius merusak atmosfer pertukaran antarmasyarakat”, bahkan disebut “mengancam keselamatan warga Tiongkok di Jepang”.

Pengamat politik Li Linyi menilai bahwa langkah ini sekali lagi menunjukkan pola perilaku Beijing:

“Tidak peduli fasilitas atau kemudahan bebas visa apa yang sebelumnya diberikan untuk Jepang, begitu muncul perbedaan politik, semua itu langsung gugur. Bahkan dijadikan alat tekanan ekonomi.”

Li menambahkan bahwa banyak negara kini memiliki perjanjian bebas visa dengan Tiongkok, tetapi Beijing akan segera menggunakan kebijakan itu sebagai instrumen pemerasan jika merasa kepentingannya dirugikan.


Warga Tiongkok: ‘Politik Bukan Urusan Saya’

Meskipun pemerintah pusat terus menggaungkan “jangan ke Jepang”, rakyat biasa tampaknya tidak memedulikannya.

Di Bandara Pudong, antrean warga Tiongkok menuju Osaka tetap mengular panjang.

Saat diwawancarai, banyak yang menjawab singkat: “Politik tidak ada hubungannya dengan saya.”

Direktur Taiwan Motivation Association, Lai Rong-wei, menjelaskan: “Cara berpikir rakyat Tiongkok sekarang tidak selalu mengikuti pemimpin mereka. Jika mereka benar-benar tunduk total, bagaimana mungkin dalam beberapa tahun terakhir kita melihat demonstrasi yang menentang Partai Komunis di berbagai daerah?”


Latihan Tembak Langsung di Laut Kuning

Tak lama setelah peringatan perjalanan dikeluarkan, Administrasi Keselamatan Maritim Tiongkok mengumumkan bahwa PLA akan menggelar latihan tembak langsung di Laut Kuning pada 17–19 November, dan seluruh kapal dilarang memasuki area tersebut.

Langkah ini jelas dipandang sebagai sinyal ancaman terhadap Jepang.

Lai Rong-wei menilai tindakan ini mencerminkan karakter sistem politik Beijing:

“Mereka selalu ingin menunjukkan perbedaan sistem politiknya—bahwa mereka negara otoriter, jadi bisa berbuat sesuka hati. Dalam sistem demokratis, kalau ada konflik, jalan keluarnya adalah negosiasi, bukan ancaman militer.”


Akar Konflik: Pernyataan PM Jepang tentang Taiwan

Pada 7 November, Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, menyatakan di parlemen bahwa jika Taiwan mendapat serangan militer, hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan Jepang, sehingga bisa memicu hak bela diri kolektif Jepang.

Beijing segera bereaksi keras.

Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, Xue Jian, bahkan mengeluarkan ancaman ekstrem:

“Akan memenggal kepala Takaichi.”

Pernyataan itu memicu kemarahan besar di Jepang, juga protes diplomatik resmi.
Tiongkok akhirnya menghapus unggahan tersebut, namun tidak pernah meminta maaf. Sebaliknya, media corong Beijing seperti People’s Daily dan PLA Daily terus menyerang Takaichi serta memperingatkan Jepang agar tidak membantu Taiwan mempertahankan diri.


Latar Politik: Keberhasilan Tur Indo-Pasifik Trump & Ketakutan Beijing

Menurut Lai Rong-wei, reaksi agresif Beijing sebenarnya berkaitan dengan situasi geopolitik regional:

“Takaichi menang karena rakyat Jepang tidak suka Partai Komunis Tiongkok.
Selain itu, kunjungan Presiden Trump ke Indo-Pasifik baru-baru ini menghasilkan banyak perjanjian besar dengan Korea Selatan dan Jepang. China merasa terpojok, jadi mereka memprovokasi untuk menunjukkan kekuatan.”

Trump sebelumnya menegaskan kerja sama nuklir dengan Korea Selatan, perjanjian maritim baru, dan mempererat aliansi dengan Jepang—semua ini semakin menekan Beijing di bidang ekonomi dan militer.


Beijing Sudah Berulang Kali Melakukan Tekanan Ekonomi terhadap Jepang

Tindakan pemerasan ekonomi oleh Tiongkok bukan hal baru:

  • 2010: Setelah kapal Jepang dan kapal Tiongkok bertabrakan di dekat Senkaku, Beijing menghentikan ekspor rare earth ke Jepang.
  • 2012: Setelah Jepang menasionalisasi Kepulauan Senkaku, Beijing mengobarkan gelombang boikot produk Jepang, demonstrasi anti-Jepang, hingga serangan terhadap perusahaan-perusahaan Jepang.

Lai Rong-wei menilai bahwa pola Beijing tidak berubah: menggunakan warga, sektor ekonomi, bahkan hubungan antarnegara sebagai senjata politik. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine