EtIndonesia. Banyak mahasiswa merasa hidup mereka monoton, hambar, bahkan membosankan. Rutinitas mereka hanya berputar antara kantin, ruang kuliah, dan asrama—tiga titik yang membentuk garis lurus kehidupan kampus.
Setiap hari terlihat sibuk, jadwal kuliah penuh, tetapi anehnya tetap merasa hidup seperti “mati suri”. Tidak merasakan denyut semangat, tidak menemukan arah, tidak tahu apa yang sedang dicari.
Kita sering iri pada para penerima beasiswa, para juara lomba pidato, para pembawa acara kampus, para anggota badan eksekutif mahasiswa. Hidup mereka terlihat berwarna, dinamis, dan penuh kejutan. Mereka bertemu orang baru setiap hari, pergi ke tempat berbeda, menangani hal-hal menarik—sementara kita hanya menjalani rutinitas kosong: makan, bermain game, tidur.
Hidup mereka tampak keren. Hidup kita tampak biasa-biasa saja.
Kita juga ingin menjadi seperti mereka. Kita ingin hidup yang lebih “hidup”. Tapi begitu mencoba, kita sadar: apa pun yang kita lakukan terasa kaku, tidak bisa, tidak terbiasa.
Setiap kali bersaing dengan mereka, kita seperti badut pembanding—tidak menang apa-apa.
Lalu saya mulai mengamati…
Saya mulai memperhatikan mereka yang hidupnya terlihat luar biasa—anggota BEM, mahasiswa teladan, atau yang kita sebut “si jenius kelas”.
Misalnya, teman sekelas yang nilainya selalu sempurna. Atau kakak tingkat yang menulis berita seperti wartawan profesional dan tahun lalu menerima beasiswa prestasi.
Saya ingin tahu apa bedanya mereka dengan kita—padahal kita belajar di kampus yang sama, diajar dosen yang sama, dan memiliki akses yang sama.
Setelah mengamati hari demi hari, saya menemukan sesuatu:
- Mereka benar-benar fokus saat kuliah.
Tidak ngobrol, tidak main HP, tidak bengong. - Mereka belajar meski tidak ada tugas.
Sesekali ke perpustakaan hanya untuk membaca. - Mereka terbiasa menyerap hal baru: membaca berita, mencari wawasan, memperluas pengetahuan.
Singkatnya—mereka hidup seperti mesin yang terus bergerak, 24 jam penuh energi.
Sementara kita? Kita tidur, main game, bercanda tanpa arah.
Itulah alasannya kita tidak punya kekuatan untuk melawan mereka. Tidak ada hal yang bisa kita banggakan ketika dibandingkan dengan mereka.
Lingkungan sama, peluang sama—hasilnya tetap berbeda
Karena mereka bergerak.
Karena mereka berusaha.
Karena mereka hidup.
Sedangkan kita? Hati kita “mati”, semangat kita beku, kemauan kita melemah—perlahan menuju kedataran dan kemunduran.
Selama kita masih punya rasa iri, masih bertanya “kenapa selalu mereka yang menang?”, itu artinya masih ada harapan. Masih ada kesadaran.
Dan jawabannya jelas: Karena kita tidak berusaha! Karena kita tidak memaksakan diri!
Apa yang kita lakukan ketika orang lain berjuang?
- Ketika mereka membaca buku di perpustakaan—kita tidur atau main game.
- Ketika mereka melatih kemampuan menulis—kita tidur atau main game.
- Ketika mereka mempersiapkan ujian, skripsi, penelitian—kita masih tidur atau main game.
Lalu dengan apa kita mau bersaing? Dengan mimpi kosong? Dengan keberuntungan?
Berhenti berharap ada keajaiban jatuh dari langit. Tuhan punya banyak manusia untuk diurus—tidak mungkin memberi “hadiah khusus” untuk mereka yang tidak berusaha.
Jika kamu tidak bekerja keras, kamu tidak punya modal untuk bersaing
Bangunlah.
Sadarlah.
Hidup bukan untuk dihabiskan dalam tumpukan kemalasan.
Saya saja—yang dulu keras kepala dan malas—bisa tersadar, lalu apa alasanmu untuk tetap terpuruk?
Berusahalah!
Berjuanglah!
Kejar hidupmu!
Biarkan darahmu berdesir, biarkan hidupmu menyala!(jhn/yn)


