EtIndonesia. Kerr pernah bekerja di sebuah perusahaan surat kabar. Ketika baru bergabung sebagai staf divisi iklan, dia sangat percaya diri.
Dia bahkan mengajukan permintaan khusus kepada manajernya: “Saya tidak perlu gaji bulanan. Beri saya komisi saja dari iklan yang berhasil saya jual.”
Manajernya menyetujui permintaan itu.
Kemudian Kerr menyusun sebuah daftar berisi nama-nama calon klien yang sangat “spesial”—klien yang selama ini dianggap mustahil dijangkau oleh para staf iklan lain. Semua orang di kantor yakin bahwa daftar itu hanyalah buang-buang waktu.
Namun sebelum mendatangi para klien tersebut, Kerr mengurung diri di kamar. Dia berdiri di depan cermin, membaca daftar nama itu sepuluh kali, lalu berkata kepada dirinya sendiri: “Sebelum bulan ini berakhir, kalian semua akan membeli ruang iklan dari saya.”
Dengan keyakinan penuh, dia mulai menjalani hari pertama kunjungan. Di luar dugaan semua orang, dari 20 klien yang dianggap mustahil, Ker berhasil menutup 3 transaksi hanya dalam satu hari. Pada hari-hari berikutnya dalam minggu itu, dia menambah 2 transaksi lagi.
Di akhir bulan pertama, dari 20 klien yang ditargetkannya, hanya tersisa satu klien yang belum membeli iklan darinya.
Bulan Kedua: Kesabaran yang Menjadi Senjata
Masuk bulan kedua, Kerr tidak mencari klien baru. Dia fokus hanya pada satu orang—klien yang menolak membeli iklan pada bulan sebelumnya.
Setiap pagi, saat toko klien itu membuka pintu, Kerr datang dan berkata: “Tuan, apakah Anda bersedia memasang iklan hari ini?”
Dan setiap pagi, klien itu menjawab:“Tidak!”
Permintaan sama, jawaban sama. Hari demi hari. Penolakan demi penolakan. Selama 30 hari berturut-turut, Kerr selalu kembali. Dan setiap kali mendengar kata “tidak”, Kerr bertindak seolah dia tidak mendengarnya dan tetap kembali lagi keesokan harinya.
Pada hari terakhir bulan itu, sang pemilik toko akhirnya bertanya dengan heran: “Mengapa kamu terus datang ke sini? Kamu sudah membuang satu bulan waktumu hanya untuk meminta saya membeli iklan.”
Ker menjawab dengan tenang: “Saya tidak membuang waktu. Saya sedang belajar. Anda adalah guru saya. Saya sedang melatih diri untuk tetap teguh menghadapi penolakan.”
Mendengar itu, sang pemilik toko tersenyum.
Dia berkata: “Kalau begitu, saya juga harus jujur bahwa saya sedang belajar dari kamu.
Kamu telah mengajari saya pentingnya ketekunan. Itu lebih berharga daripada uang. Sebagai bentuk rasa terima kasih, saya akan membeli satu halaman iklan dari kamu—anggap saja itu ‘uang sekolah’ yang saya bayar tadi.”
Pelajaran Hidup
Kisah Kerr mengajarkan bahwa:
- Kegagalan bukan akhir—itu adalah latihan.
- Penolakan tak seharusnya mematahkan semangat, melainkan menguatkan mental.
- Kadang yang kita butuhkan hanya satu langkah tambahan, satu hari tambahan, satu keberanian tambahan.
Dalam menghadapi kesulitan, siapa pun bisa berhasil jika dia tetap bertahan sedikit lebih lama. (jhn/yn)


