EtIndonesia. Memasuki kuartal keempat tahun ini, berbagai bank di Tiongkok secara agresif melepas aset bermasalah (NPA) melalui lelang publik, penjualan paket, dan metode pasar lainnya. Nilainya tidak hanya mencapai puluhan miliar yuan, tetapi bahkan ratusan miliar. Para analis menilai, fenomena ini menunjukkan bahwa risiko keuangan di Tiongkok telah meningkat ke level yang mengkhawatirkan.
Menurut data di situs Pusat Registrasi dan Transfer Aset Kredit Perbankan Tiongkok, pada 14 November saja terdapat delapan pengumuman seperti itu, dengan total nilai lebih dari 8,5 miliar yuan (± Rp 20 triliun).

Di antaranya, proyek penjualan tunggakan kartu kredit milik Minsheng Bank mencatat nilai kredit macet mencapai 5,14 miliar yuan, dengan tingkat keterlambatan hingga 1.856 hari.
Industri perbankan mengungkapkan bahwa pada semester pertama tahun ini, total penjualan massal kredit macet personal mencapai 107,6 miliar yuan, naik dua kali lipat dibanding tahun lalu.
Penjualan Aset Bermasalah Berlangsung Besar-Besaran
Selain kredit personal, banyak aset bermasalah lain yang dilepas.
Contohnya, pada 18 Oktober, Bohai Bank menjual aset kredit pokok yang setelah ditambahkan bunga dan denda mencapai hampir 70 miliar yuan.

Regulator keuangan Tiongkok melaporkan bahwa hingga akhir kuartal ketiga 2025, total kredit macet bank komersial mencapai 3,5 triliun yuan, meningkat 88,3 miliar yuan dibanding kuartal sebelumnya.
Kolumnis ekonomi Wang He mengatakan: “Kredit bank dibagi dalam lima kategori. Bad debt dan non-performing loan harus dikontrol dalam batas wajar. Jika tidak, risiko perbankan akan meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, NPL dan bad debt meningkat besar-besaran — sebagian terlihat, sebagian ditutupi — tetapi kondisinya sebenarnya sangat serius.”
Wang menilai kondisi operasional bank-bank di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir memang memburuk. Tahun ini ekonomi makin lemah, membuat kualitas aset bank semakin tertekan. Karenanya, bank berusaha keras membersihkan aset bermasalah secepat mungkin.
Bank Terpaksa Menjual Aset Fisik: dari Batu Mulia hingga Rumah Murah
Format penanganan aset bermasalah juga semakin bervariasi.
Contoh:
- Beberapa cabang Bank Pertanian dan Komersial Mongolia Dalam melelang barang sitaan seperti baijiu (minuman keras) dan batu chicken-blood stone.
- Namun yang paling banyak adalah penjualan rumah oleh bank.
Data platform lelang seperti Alibaba dan JD.com menunjukkan:
Bank-bank besar seperti Agricultural Bank, Construction Bank, Bank of Communications, dan Lanzhou Bank memasang ratusan hingga ribuan properti untuk dijual.
Sebagian dijual 25% di bawah harga pasar, bahkan lebih.
Contoh ekstrem:
Lanzhou Rural Commercial Bank melelang ratusan unit apartemen di kompleks “Yucai Yipin” dengan harga hanya setengah harga pasar—tetapi masih gagal menarik satu pun penawar (zero bid).
Akar Masalah: Kredit Macet Melonjak, Properti Ambruk, Daerah Bangkrut
Analis ekonomi Tiongkok Wen Li menjelaskan: “Saat ini banyak peminjam menyerah bayar KPR, perusahaan bangkrut, utang pemerintah daerah memburuk, ditambah lubang gelap di sektor perbankan — semua ini membuat jumlah kredit macet melonjak. Banyak bank bahkan mulai mencatat arus kas negatif.”
Wen Li menekankan: “Dalam jangka pendek, kondisi ini tidak akan membaik. Justru akan terus memburuk.
Bagi industri perbankan yang hidup dari arus kas, ini adalah pukulan fatal. Karena itu mereka harus mempercepat penjualan aset bermasalah — bahkan menjual rumah.”
Dia menambahkan bahwa pendapatan utama bank berasal dari bunga kredit. Namun dalam kondisi ekonomi lesu, perusahaan tidak mau berinvestasi dan enggan meminjam. Ini membuat bank kehilangan sumber pendapatan.
Selain itu, sektor properti runtuh: “Saat pasar properti panas, bunga KPR sangat tinggi — naik 20%, 30%, bahkan 50% dari suku bunga dasar.
Kini ekonomi jatuh, banyak pemilik rumah berhenti bayar. Bank bukan hanya kehilangan bunga, tetapi juga gagal menagih pokok pinjaman.”

Data Ekonomi Mengonfirmasi Resesi dan Deflasi
Indikator ekonomi menunjukkan kondisi semakin kritis:
- Indeks Harga Produsen turun 2,3% tahun ini, penurunan 36 bulan berturut-turut (deflasi).
- Investasi pengembangan real estat turun 14,7% dalam 10 bulan pertama.
- Penjualan rumah turun 7,9%.
- Investasi asing langsung (FDI) pada Q3 turun 51% dibanding kuartal sebelumnya.
Regulator keuangan Tiongkok baru-baru ini menyatakan bahwa mereka akan menjaga “garis merah” untuk mencegah risiko keuangan sistemik.
Namun Wang He menyindir: “Sejak Kongres Partai ke-19, mereka menempatkan risiko keuangan sebagai prioritas. Sampai sekarang mereka belum berani mengatakan bahwa perang melawan risiko keuangan sudah dimenangkan — hanya ‘berhasil sebagian’. Artinya risikonya masih sangat besar. Ini adalah ‘badak abu-abu’ terbesar bagi Tiongkok.”

Dilema Tanpa Solusi: Cetak Uang atau Biarkan Bank Bangkrut
Menurut Wang He, kondisi ini membuat Beijing terjebak dalam dilema besar:
- Jika mencetak uang untuk menyelamatkan bank
→ rakyat makin miskin, inflasi melonjak, harga barang naik drastis. - Jika tidak mencetak uang
→ gelombang kebangkrutan bank dapat “meledakkan” ekonomi Tiongkok secara keseluruhan.
Data platform peringatan korporasi menunjukkan:
- Pada 2024, sebanyak 199 bank kecil dan menengah di Tiongkok dicabut izin operasinya.
- Jumlah ini lebih banyak dari total penutupan bank tahun 2021–2023.
- Sebanyak 357 bank ditandai sebagai berisiko tinggi.
(Jhon)


