EtIndonesia. Seorang anak laki-laki lahir di sebuah keluarga Yahudi miskin di Praha. Karakter anak ini sangat pendiam, penakut, tanpa sedikit pun ketegasan. Dia sensitif, mudah gelisah, selalu merasa lingkungan sekitarnya memberi tekanan dan ancaman. Pikiran untuk menghindari bahaya seolah sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil dan tidak bisa dihapus.
Ayahnya berusaha keras mendidiknya menjadi pria sejati—berani, tegas, keras, pantang menyerah. Namun karena cara didiknya yang kasar, otoriter, dan penuh tekanan, sifat anak itu bukan menjadi kuat, malah semakin rapuh dan rendah diri. Dia kehilangan kepercayaan diri. Hal-hal kecil dalam hidup pun terasa seperti bencana baginya.
Dia tumbuh besar dalam kebingungan dan kesakitan. Setiap hari dia membaca ekspresi orang lain, takut menyinggung, takut disakiti. Dia sering menyendiri di sudut ruangan, mengunyah pahitnya luka hati, menebak-nebak bencana apa lagi yang akan menimpa dirinya. Siapa pun yang melihatnya akan menganggap dia “anak yang tidak punya masa depan”.
Dari luar, hidupnya memang terlihat seperti tragedi—sifatnya terlalu lemah untuk “diperbaiki”.
Namun siapa sangka… Anak laki-laki yang dianggap tidak punya harapan ini kelak menjadi salah satu penulis terbesar abad ke-20. Dialah Franz Kafka, sastrawan besar dari Austria.
Mengapa Kafka bisa sukses?
Karena dia menemukan “sepatu” yang cocok untuk dirinya.
Kepribadiannya yang pendiam, lembut, penakut, dan peka justru sangat cocok untuk dunia sastra.
Dalam “kerajaan seni” yang dia bangun sendiri, semua kelemahannya berubah menjadi kekuatan:
- Kepekaannya membuatnya mampu menggambarkan dunia secara tajam
- Rasa takut dan pesimisnya membuat tulisannya penuh kedalaman
- Kerapuhannya membuat dia mampu merasakan sisi gelap dan absurd kehidupan manusia
Justru sifat-sifat yang dianggap kekurangan itulah yang membuat Kafka membuka jalan baru dalam sastra—aliran kesadaran, yang kemudian mengubah dunia literatur modern.
Dia mengubah tekanan hidupnya menjadi karya:
- Metamorphosis (Die Verwandlung)
- The Castle (Das Schloß)
- The Trial (Der Prozess)
Karya-karya yang kini dianggap mahakarya dunia.
Dari Kesunyian ke Keabadian
Kafka mulai menerbitkan karya pada tahun 1904. Pada 1912, dia menulis cerpen “The Judgment” dalam satu malam—momen yang menandai lahirnya gaya Kafka yang khas.
Selama hidupnya, dia hanya menerbitkan tujuh buku. Setelah dia wafat, sahabatnya Max Brod yang mengabaikan wasiat Kafka (yang meminta semua naskahnya dibakar) justru menyelamatkan dan menerbitkan karya-karyanya—termasuk tiga novel panjang, surat-surat, dan catatan hariannya.
Kini Kafka dianggap sebagai salah satu bapak modernisme, sejajar dengan:
- Marcel Proust dari Prancis
- James Joyce dari Irlandia
Pengaruh Kafka begitu besar hingga lahirlah istilah “Kafkaesque”, yang kini dipakai di seluruh dunia untuk menggambarkan situasi absurd, menekan, dan tak berlogika.
Banyak kritik menekankan sisi gelap karya Kafka, tetapi Milan Kundera dalam Testaments Betrayed mencoba meluruskan—Kafka juga penuh humor halus dan ironi.
Max Brod—sahabatnya—pernah bercerita bahwa Kafka sering membaca karya-karyanya kepada teman-teman, dan ketika sampai di bagian yang dia rasa “kena”, dia tertawa lepas.
Dia tidak sesuram gambaran publik terhadap dirinya.
Pelajaran Besar dari Kafka
Karakter seseorang memang lahir bersama dirinya dan tidak bisa diubah secara paksa—seperti kaki kita, ukurannya tidak bisa dipilih.
Maka: jangan buang waktu mengeluh tentang “kaki” yang kamu miliki.
Yang harus kamu lakukan adalah: Carilah sepatu yang sesuai—carilah pekerjaan atau bidang yang cocok dengan dirimu.
Itu jauh lebih baik daripada hanya duduk di rumah meratapi diri sendiri. (jhn/yn)


